TERASMALUKU.COM,- BANDA – Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti memuji sistem sasi, yang merupakan kearifan lokal di Kepulauan Maluku. Sasi merupakan larangan untuk mengambil hasil sumber daya alam tertentu sebagai upaya menjaga mutu dan populasi sumber daya hayati, baik hewani maupun nabati.
Pujian Menteri Susi itu disampaikannya, usai bersama Gubernur Maluku Said Assagaff dan Kapolda Maluku Irjen Pol. Drs. Deden Juhara, membuka sasi kerang lola di Pulau Hatta Kecamatan Banda Kabupaten Maluku Tengah, Senin (23/10).
“Saya pikir sistem sasi yang ada di Maluku ini, dan banyak pulau-pulau lain melakukan hal yang sama. Itu hal yang luar biasa arif, dan mereka sudah tahu tujuannya untuk meningkatkan pendapatan. Jadi sasi, penyetopan penangkapan untuk tujuan peningkatan pendapatan,”kata Susi.
Menteri Susi meminta, agar sasi ini harus diteruskan dan harus dipatuhi. Dan orang luar harus menghormati sasi yang ada di Pulau Hatta dan di Kepulauan Maluku lainnya. “Jangan sampai bapak di sini terapkan sasi untuk nelayan bapak, tapi nelayan dari luar datang ambil diperbolehkan atau dibiarin. Ini tidak boleh,” tegasnya.
Menteri Susi juga mengingatkan warga Pulau Hatta, agar jang karena terumbu karangnya bagus dan banyak aneka ikan hias di daerah itu, lantas berbisnis ikan hias. “Sebaiknya bisnis ikan yang lain deh. Jangan ikan hias deh. Kalau bapak sudah mulai bisnis ikan hias, nanti ikan hiasnya berkurang atau pergi, lalu turisnya nggak ada yang datang lagi. Karena turis datang ke sini (Pulau Hatta) untuk apa? Ya coral dengan ikan-ikan hiasnya yang cantik-cantik itu,” tuturnya.
Dia menyarankan, sebaiknya para nelayan setempat menangkap jenis ikan jenis yang lain saja. Misalnya ikan Tuna, ikan Layar, ikan Kakap atau ikan Kerapu. “Jadi ikan hias dan karang jangan sampai diperjualbelikan. Bisa nggak, bapak-bapak dan ibu-ibu? Tolong dijaga ya,” tandas Menteri Susi yang lantas serentak dijawab warga, “bisa”.
Lebih jauh tentang Kepulauan Banda, Menteri Susi mengaku baru pernah datang, dan ia terpesona dengan pemandangan alamnya. “Banda ini luar biasa. Pemandangan gunung api, lautnya biru, jernih, luar biasa. Ikannya banyak. Saya dengar tunanya sudah bisa dapat sampai 90 kiloan. Berarti walaupun dari jauh perang kita melawan, ilegal fishing itu mengakibatkan perang yang baik di sini karena ikan-ikannya lebih besar dan lebih banyak,” tuturnya.
Menurut Susi, Presiden Joko Widodo sudah berkomitmen untuk melindungi Indonesia. Bahkan sudah juga membuat Perpres No. 44, dimana kapal asing dan modal asing tidak boleh masuk ke dalam industri perikanan tangkap.
“Ya, kalian awasi semua. Tadi gubernur bilang kalian harus jaga. Kalau orang asing bikin pengolahan, boleh. Pabrik untuk beli ikan dari nelayan untuk diolah, boleh. Tapi soal tangkap ikan diserahkan ke bapak-bapak semua. Itu Presiden sangat komitmen dan kita semua harus mendukung dengan cara menjaganya,” tegas Menteri Susi.(ADI)