TERASMALUKU.COM,-AMBON-Tiga ekor sapi milik petani ditemukan mati di dekat kolam rendaman, pengolahan emas ilegal di Jalur A Dusun Wamsait Kecamatan Wailata Kabupaten Buru, Jumat (9/3) sekitar pukul 10.30 WIT. Tiga ekor hewan ternak itu mati setelah minum air limbah bahan kimia, merkuri dan sianida dari kolam rendaman pengolahan emas ilegal kawasan Gunung Botak tersebut.
Ketiga ekor sapi itu ditemukan terkapar berdekatan di dekat kolam rendaman yang sementara beroperasi oleh seorang pemiliknya, Istanto (60). Dari tiga ekor hewan ternak yang ditemukan mati, seekor milik Istanso, sedangkan dua ekor lainnya milik Hafifudin (52). Istanto sendiri sebelumnya mencari hewan ternaknya yang sudah tidak pulang selama sehari.
BACA JUGA : Temui PLT Gubernur, Warga Adat dan OKP Buru Minta Tertibkan Bahan Kimia di Gunung Botak
Istahoni kemudian melaporkan temuan tersebut kepada Kepala Dusun dan Ketua RT setempat serta menyampaikannya juga ke Hafifudin. Diketahui kolam rendaman pengolahan emas ilegal menggunakan bahan kimia itu milik Mahrus, penambang asal luar Maluku. Aparat desa, Babinsa dan aparat kepolisian langsung mendatangi lokasi temuan matinya tiga ekor sapi itu.
Kabid Humas Polda Maluku Kombes Pol. Mohammad Roem Ohoirat mengungkapkan, tiga ekor hewan ternak milik warga itu mati setelah minum air limbah dari tempat pengolahan emas dengan sistem rendaman. “Diduga hewan ternak tersebut mati akibat meminum air limbah di tempat pengolahan emas metode rendaman yang sedang beroperasi,” kata Ohoirat kepada wartawan di Ambon.
BACA JUGA:Petinggi Adat Buru Minta Pemerintah dan Aparat Keamanan Tertibkan Gunung Botak
Sementara itu Ketua LSM Parlemen Jalanan Kabupaten Buru, Ruslan A. Soamole menegaskan, dengan temuan lagi hewan ternak mati, membuktikan penggunaan bahan kimia, sianida dan merkuri untuk pengolahan emas ilegal sistem rendaman dan tong sudah sangat kronis.
“Apa yang selama ini kita perjuangkan, kita lawan penggunaan bahan kimia, sianida dan merkuri dalam pengolahan emas ilegal terbukti, ini tidak boleh dibiarkan lagi karena mengancam kita semua. Karena itu kami minta aparat keamanan dan pemerintah melihat masalah ini, ungkap pihak yang mengedarkan bahan kimia untuk aktivitas penambangan ilegal,” kata Soamole.
Menurut Soamole aktivitas penambangan emas ilegal dengan menggunakan bahan kimia kini marak lagi di lokasi tambang Gunung Botak dan daerah – daerah di sekitar Gunung Botak. Soamole tak habis pikir atas maraknya aktivitas penambangan ilegal, padahal lokasi tambang sudah ditutup sejak akhir 2015 atas perintah Presiden Joko Widodo akibat pencemaran lingkungan menyusul penggunaan bahan kimia dalam pengolahan emas ilegal. (ADI)