Pilkada Dan Fenomena Korea Oleh : Rudy Rahabeat, Pendeta Gereja Protestan Maluku

by
Rudy Rahabeat

Ibarat Daud dan Goliath. Sang raksasa itu pun tumbang.

Pilkada dan Piala Dunia berjalan beriringan. Membuat hidup tambah berwarna. Ada rasa bangga ada kecewa. Itu manusiawi saja. Orang bijak tak akan angkuh jika menang tak menyerah saat kalah. Hidup masih berlanjut. Harus diakui Korea Selatan memang fenomenal. Selain Jepang, Korea memang wakil Asia yang patut diapresiasi. Beberapa fenomena Korea antara lain negara industri yang tangguh, ginzeng Korea yang mengglobal dan K Pop serta drama Korea.

Ada nilai-nilai Asia berpadu dengan nilai Barat. Secara simbolik hal itu nampak pada ritual formasi lingkaran, sebagai simbol solidaritas dan kebersamaan di awal dan akhir pertandingan. Ritual yang membuka mata dunia bahwa “budaya Timur” itu bukan objek wisata tapi roh yang menggerakan dan memuliakan martabat Asia. Fakta yang jadi sejarah. Korea tumbangkan Jerman. Itu luar biasa. Mitos dan tabu dipatahkan. Semesta kemungkinan bisa terjadi. Filsuf Yunani kuno, Herakleitos pernah bersabda “Segala sesuatu berubah. Yang tidak berubah hanya perubahan itu sendiri”

PARA PEMENANG BARU

Walau sama-sama tak masuk 16 besar, keduanya sama-sama pulang kampung (bukan untuk mudik) tapi Korea adalah pemenang. Mereka berjalan pulang dengan kepala tegak. Ada segumpal rasa bangga dan percaya diri serta tekad untuk lebih baik lagi ke depan. Walau Piala Dunia lebih pada urusan kualitas olahraga ditambah jaringan kapitalisme global, tapi tak salah juga ada yang menafsir dari sudut agama, kebangsaan dan ras. Sepanjang itu tidak menyertakan unsur kekerasan dan diskriminasi maka itu bukan dosa. Berpikir dan bertindak positif sajalah.

Dalam Pilkada tak seorang pun tak mungkin hindar dari isu agama dan suku. Ini isu abadi walau dengan kemasan bervariasi. Sejak kandidasi orang sudah mengkalkulasi isu abadi itu. Hal ini nampak pada formasi kandidat. Ini namanya politik akomodasi.  Jadi marilah kita ambil hikmah atas semua peristiwa yang terjadi di sekeliling kita. Mulai dari Pilkada hingga Piala Dunia.

Kita tumbuhkan nilai-nilai sportifitas dan keadaban publik. Mengakui keunggulan orang lain dan tidak merasa lebih superior dari yang lain. Kemenangan Korea atas Jerman bukan cerita fiksi tapi fakta sejarah yang membuat hidup selalu menyimpan kejutan. Hidup tanpa kejutan bukanlah hidup.

MENATA DUNIA BARU

Pilkada sudah selesai. Pada saatnya Piala Dunia juga. Tiap pertandingan akhirnya.Tiap awal ada akhirnya. Tak ada yang abadi. Yang paling penting adalah bagaimana di dunia ini kita mewariskan hal-hal yang bermakna bagi kehidupan. Hidup ini berat, kata seorang bijak bestari. Walau berat hidup harus dihidupi. Tak cukup dengan kata-kata. Seperti Dilan, misalnya.

Korea bangkit bukan setelah bangun tidur. Justru ia bangkit saat kerja keras dan cerdas. Seperti pertandingan melawan Jerman semalam (Rabu, 27 Juni), Korea tak mungkin menang tanpa terus berlari dan berbagi peran dan semangat. Lupakan menit-menit di belakang, fokus pada menit menit penentuan. Sebab biasanya mujizat muncul di menit terakhir.

Pilkada sudah berakhir. Hitungan cepat sudah dilakukan dan diumumkan. Kita menuggu hitungan riil sebagai hasil akhir yang legal. Dalam masa jeda ini baiklah kita menahan diri. Tidak saling menghujat dan menjatuhkan. Justru masa penting untuk merajut silahturahim dan kematangan diri. Bahkan siapapun pemimpin nanti kita hormati dan beri dukungan dengan cara masing-masing. Kenapa?

Sebab kita sedang menata sebuah dunia baru. Dunia yang lebih adil dan sejahtera. Dunia yang sejuk bagi semua apapun suku dan agamanya, partai politik dan ideologinya. Kita menjadi sadar bahwa masa depan dunia tak bisa dibangun seorang atau sekelompok orang. Peradaban-peradaban besar di masa lalu telah menunjukan kebenaran itu. Hanya orang-orang yang tuna sejarah sajalah yang jatuh di lubang yang sama.

Pilkada sudah selesai. Demikian pula Piala Dunia akan berakhir. Tapi dunia belum berakhir, belum kiamat. Jerman dan Korea sama-sama pulang kampung. Bukan untuk bersedih. Tapi berlatih dan berbenah lagi agar musim Piala Dunia empat tahun ke depan dapat diisi dengan senang dan gembira. Sebab sepak bola juga adalah sebuah ritual kegembiraan. Persis seperti Pilkada sebagai pesta demokrasi maka semuanya mesti gembira. Jangan bersedih dan bermuram dunia. Bola tetap bundar dan politik cair. Kejutan dan mujizat masih terus terjadi.  Salam damai dari puncak Waringin Pintu ! (RR)