Dana Desa Tersendat, Tiga Balita di Kaki Binaiya Malteng Alami Gizi Buruk

oleh
oleh
Yuliana Ilelapotoa menggendong Flafianus Ilelapotoa, balita sembilan bulan yang mengalami gizi buruk di rumahnya Desa Piliana Kecamatan Tehoru Kabupaten Maluku Tengah, Maluku. FOTO : PRISKA BIRAHY (TERASMALUKU.COM)

TERASMALUKU.COM,-MASOHI-Belum usai masalah kekurangan bahan pangan di Suku Mausu Ane Kecamatan Seram Utara Timur Kobi, datang cerita lain dari warga Desa Piliana Kecamatan Tehoru Kabupaten Maluku Tengah (Malteng). Dari kaki Gunung Binaiya itu tiga orang balita alami kekurangan gizi. Salah satu bahkan punya kondisi yang cukup memprihatinkan.

Desa Piliana meruapakan salah satu desa yang ramai dilalui oleh pendaki. Untuk menuju ke Gunung Binaiya, para pendaki pasti melewati desa kecil dengan udara nan sejuk itu. Cuaca yang pas untuk ditumbuhi beragam tanaman dengan subur. Saat Terasmaluku.com, Rabu (1/8/2018) menuju Desa Piliana tampak di pekarangan, warga menanam ubi ubian serta sayuran sebagai salah satu sumber gizi.

Bagian tangan Flafianus Ilelapotoa

Namun pemandangan yang cukup miris terjadi di situ. Di kampung berpenghuni lebih dari 100 kepala keluarga terdapat tiga balita yang kekurangan gizi. Seorang diantaranya masih berusia sembilan bulan dengan kondisi tubuh yang kurus. Lingkar tangan dan kakinya kecil, serta tubuh yang terlihat seperti kulit membungkus tulang.

Bila biasanya kulit bayi kenyal dan mulus, bayi yang belum genap setahun itu berkulit kasar. Senyum di bibir kecilnya terasa miris lantaran tulang pipi yang begitu kentara dan bola mata yang besar. Christina Teruran, Kader Kesehatan di Desa Piliana menyebut kondisi bayi itu amat menyayat hati. “Yang parah itu balita sembilan bulan. Dia berat cuma tiga kilogram,” akunya kepada Terasmaluku.com saat menyambanginya di rumah Raja Piliana Rabu (1/8/2018) petang.

Christina lantas mengajak Terasmaluku.com menuju ke rumah orang tua. Si bayi, Flafianus Ilelapotoa sore itu hanya bisa digendong oleh ibunya. Dalam dekapan sang ibu, terlihat jelas tangan dan kaki mungil balita lelaki itu. Yuliana Ilelapotoa, sang ibu yang enggan berbicara banyak dibantu Christina menjelaskan kesehatan putranya. Dia menyebut kondisi gizi Flafianus disebabkan kurangnya asupan serat dan protein yang harusnya diperoleh selama kehamilan.

BACA JUGA :  Dapur Sehat, Program Pemkot Ambon Atasi Stunting

Saat lahir, berat Flafianus hanya 2.000 gram. Bahkan selama beberapa bulan beratnya tak banyak menunjukkan kemajuan sesuai ukuran normal perkembangan bayi. Untuk itu dirinya bersama perangkat desa sempat mengupayakan pengadaan makanan tambahan. “Waktu itu ada dana desa lalu katong pakai untuk kasih makanan tambahan supaya beratnya naik,” ujar perempuan yang aktif mengikuti kegiatan kesehatan mewakili Kecamatan Tehoru hingga ke Jakarta itu.

Kucuran dana desa itu dipakai untuk membelanjakan susu, telur burung puyuh serta sayuran tambahan seperti wortel dan kentang. Memang kondisi tanah dan udara di Piliana pas untuk bercocok tanam. Hanya sebagian besar sayuran yang ditanam berupa kangkung dan sawi. Untuk memenuhi kecukupan gizi, mereka harus membeli dari luar desa atau ke pasar terdekat.

Program makanan tambahan itu pun berhasil. Berat Flafianus sempat naik 4.000 gram. Tulang yang terlihat jelas mulai tersamarkan. Sayangnya hal tersebut tak berlangsung lama. Pemberian makanan tambahan hanya berjalan dua bulan selama Januari hingga Februari 2018. Itu lantaran dana desa macet. “Katong seng bisa beli makanan lai sebab pemerintah seng kasi dana desa. Terpaksa makanan tambahan stop,” jelas Christina Teruran.

Sejak itu kondisi tubuh Flafianus kembali menurun hingga sekarang tercatat berat badannya hanya 3.000 gram. Padahal berat badan normal bayi 9 bulan 8 Kg hingga 9 Kg. Akibatnya punggung sang bayi belum bisa tegak dan tak mampu merangkak. Flafianus hanya tergolek lemas dalam gendongan ibunya. Yuliana berprofesin sebagai ibu rumah tangga sementara suaminya bekerja serabutan serta menjadi porter bagi pendaki Gunung Binaiya. Lemahnya ekonomi keluarga itu menyulitkan mereka memberi makanan bergizi seimbang bagi buah hati.

Yuliana yang tampak malu-malu itu menambahkan sejak lahir dia kesulitan memberi ASI yang cukup kepada anaknya. “Waktu lahir air susu kurang. Sampai sekarang ASI cuma sedikit,” akunya. Tak heran hal itu kian memperparah kondisi anaknya. Petugas kesehatan desa pun tidak bisa berbuat banyak dengan keterbatasan dana untuk mendapat akses asupan gizi tambahan.

BACA JUGA :  Febry Calvin Tetelepta Berikan Pembekalan untuk Ribuan Mahasiswa KKN Unpatti Ambon

Yulianan serta dua keluarga lainnya amat membutuhkan perhatian pemerintah untuk memulihkan kondisi gizi anak mereka. Pasalnya belum ada satupun bantuan susu maupun sayur sayuran bergizi tinggi dari pemerintah kabupaten. Desa Piliana hanya berjarak sekitar tujuh kilometer dari Desa Yaputih di bagian bawah. Jalan menuju ke pintu selatan pendakian Gunung Binaiya itu pun tak sulit. Jalan ke desa beraspal, meski ada sedikit kerusakan sepanjang sekitar 200 meter.

Kader kesehatan desa mengharapakan ada bantuan untuk memberi makanan tambahan atau bibit sayuran yang bisa ditanam di desanya

Namu perhatian pemerintah di bidang kesehatan terasa amat minus di sana. Itu terbukti saat Terasmaluku.com diajak berkeliling kampung dan menjumpai beberapa anak dengan kesahatan yang kurang baik. Seperti stunting, sulit berjalan meski usia di atas lima tahun atau keterlambatan perkembangan otak. Dari pengakuan Christina, gizi buruk bukan hal baru lagi bagi anak-anak di kampungnya. Dia memastikan pada tiap kelahiran bayi di desa pasti ada satu atau dua bayi alami kondisi kekurangan gizi hingga stunting.

Seperti dua anak lain yang alami hal serupa dengan Flafianus. Selama menanti kucuran dana desa, pihaknya berharap adanya bantuan terdekat dari Pemerintah Kabupaten Malteng berupa susu serta makanan tambahan. Christina bahkan sempat turun ke Masohi, Ibukota Kabupaten Malteng untuk mencari bibit wortel dan kentang agar bisa ditanam di desanya. Dengan begitu anak-anak di sana bisa tercukupkan gizi dan tumbuh sehat. (BIR)

No More Posts Available.

No more pages to load.