Refleksi 443 Tahun Kota Ambon Oleh : Rudy Rahabeat, Warga Kota Ambon

oleh
oleh
Pendeta Rudy Rahabeat

SEBAGAI warga kota kita bersyukur untuk pertambahan setahun usia Kota Ambon. Kita semua mencintai kota ini. Olehnya perlu terus berpartisipasi dalam dinamika perubahan kota dan menjawab problematika yang mengemuka. Kota ini akan maju dan berkembang jika semua warganya menjadi subjek dan terlibat dalam semangat persaudaraan, kesetaraan dan “ale rasa beta rasa”. Injinkan beta memberikan catatan kecil yang mungkin agak kritis, semata-mata untuk bersama-sama memaknai arah dan masa depan kota yang kita cintai bersama ini.

POLITIK PEMUKIMAN

Ada pertanyaan serius tentang pola pemukiman di Kota Ambon. Pemukiman nyaris terpisah (segregasi) berdasarkan garis agama. Pemukiman yang berciri campuran makin sedikit, jika tidak hendak dikatakan nyaris tidak ada. Tentu ini fakta sosial yang tak perlu ditangisi. Ini sebuah warisan sejarah yang panjang.

Tapi negara (pemerintah) bisa melakukan rekayasa untuk antisipasi masa depan. Misalnya, kehadiran pemukiman-pemukiman baru. Apakah “Pasar/pemodal” yang akan mendikte praktik pemukiman baru. Ambil contoh, perumahan elite Citra Land di Lateri. Siapa saja yang mendiami kawasan tersebut? Apakah ada keragaman agama disana? Bagaimana interaksi dengan masyarakat di sekitarnya? Ini pertanyaan-pertanyaan yang patut direnungkan untuk melihat relasi-relasi sosial di Kota Ambon yang plural.

Pemukiman di di pusat kota, siapa saja yang mendiami wilayah tersebut. Adakah penduduk “asli” mendiami pusat-pusat kota? Atau sudah bergeser ke pinggiran atau malah jauh ke luar kota? Lalu siapa sebenarnya pemilik Kota Ambon itu? Saya membayangkan Kota Ambon 443 tahun yang lalu. Ada benteng yang kokoh, lalu kantor-kantor kolonial dikelilingi para serdadu.

Hidup dalam benteng yang aman sembari transaksi ekonomi dilakukan. Eksploitasi sumber daya alam, terutama cengkeh dan pala kala itu. Kekayaannya di bawa ke Belanda dan Belanda kaya raya dari hasil rempah-rempah Ambon/Maluku. Lalu rakyat Ambon/Maluku kala itu merana, bahkan diperlakukan semena-mena. Apakah sejarah akan berulang?

BACA JUGA :  Pangdam Pattimura Kirim Anak Anggota TNI Tumor Otak Berobat ke RSPD

CITY OF MUSIC

Apa yang hendak dicapai dengan Ambon sebagai kota musik dunia? Apakah semata soal pariwisata? Tentu saja tidak. Bahwa sebagian orang Ambon suka seni, khususnya seni musik itu tak dinafikan. Tapi bukan hanya seni musik yang dikembangkan. Ada ragam seni yang bisa dikembangkan di Ambon. Seni tari, seni lukis, seni sastra, dan sebagainya harus juga dimekarkan.  Saya ingat betul ajakan Hilmar Farid, Dirjen Kebudayaan RI “Bagaimana kalau sejarah ditulis melalui lagu-lagu. Sebab orang Ambon punya jiwa seni yang tinggi” ungkapnya.

Satu lagi, jangan sampai lupa. Sekolah seni. Ada rencana mendirikan Institut Seni di Ambon. Ide yang bagus. Tapi jangan lupa sudah ada jurusan Musik Gereja di IAKN Ambon. Bahkan di IAIN Ambon juga sedang dirintis jurusan Seni Islami. Ide kota musik akan eksis, jika ditopang oleh infrastruktur dan sumber daya seni yang terdidik. Bakat alam saja tidak cukup. Para akademisi seni, kritikus seni, dan praktisi seni perlu terus menunjukan reputasi dan prestasi masing-masing. Juga pentingnya sinergi dan kolaborasi, jangan jalan sendiri-sendiri.

Lalu seni adalah bagian dari budaya. Seni menggambarkan jiwa budaya masyarakat. Pertanyaannya, sudahkah kita merumuskan identitas budaya kota Ambon? Apa yang khas dari masyarakat kota Ambon secara budaya? Apakah sudah cukup dengan baju cele, musik tifa dan totobuang, lagu-lagu berbahasa Melayu-Ambon, arsitektur denga simbol-simbol budaya lokal, dll. Bagaimana dengan protes sebagian warga kota beberapa waktu lalu, tentang simbol-simbol sakral yang dijadikan alas trotoar? Ke mana arah seni dan budaya Ambon saat ini?

 

RUANG PUBLIK DAN KESEJAHTERAAN BERSAMA

Dalam konteks sosiologis yang tersegrasi maka pengadaan  dan optimalisasi ruang bersama (ruang publik) sangat urgen. Interaksi warga kota dengan latar belakang yang berbeda suku, agama, kelas sosial, dll. Interaksi di kantor-kantor pemerintah, tempat kerja, dan sekolah-sekolah perlu terus dibingkai dalam kesadaran multikultural.  Dalam pengertian, perbedaan itu rahmat, tapi juga perlu disenergikan untuk kepentingan bersama, untuk kesejahteraan bersama.

BACA JUGA :  Pemprov Maluku Terima DIPA dan TKDD Tahun 2021, Ini Nilainya.

Perubahan tak terelakan di Kota Ambon masa kini. Globalisasi dan trans-nasional mengalir dan merembes ke sudut-sudut sosial budaya kota Ambon. Jaringan kapitalisme global misalnya melalui KFC, Mc Donald, jaringan bisnis nasional seperti bisnis perbankan, hotel-hotel, mall dan bisnis telekomunikasi, dll. Semua datang silih berganti ke kota Ambon. Ada yang sukses, tapi mungkin ada yang gagal. Ambon menjadi “pasar global”. Lalu apakah kita hanya sebagai konsumen saja? Sejauhmana warga kota Ambon juga menjadi pelaku usaha dan bisnis, sehingga tidak hanya berlomba-lomba menjadi PNS/ASN?

Ambon itu milik semua. Bukan milik segelintir elite tertentu saja. Orang kaya maupun orang miskin semua sama di hadapan Tuhan. Semua orang berhak memperoleh dan mengusahakan kesejahtaraan di kota Ambon. Hak-hak tiap warganya perlu dihormati, kesetaraan dijunjung tinggi, sehingga tidak ada yang mendominasi dan menghegemoni yang lain. Tentu itu ideal. Sebab faktanya tidak seindah yang diharapkan. Tarik menarik kepentingan, politik praktis, jebakan egoisme dan primordialisme serta sentimen agama, bisa menggoyahkan arah hidup bersama yang saling berbagi.

Tentu kita tetap punya harapan dan optimisme. Bahwa Ambon kiranya tetap MANISE; Maju, Aman, Indah dan Sejahtera. Ambon tetap kota kita semua yang kita banggakan dan syukuri sebagai anugerah terindah dari Sang Pencipta. Selamat hari ke-343 Kota Ambon Manise. (RR)

No More Posts Available.

No more pages to load.