Sudah Sebulan, Apa Kabar Hasil Tes Tumpahan Avtur di Wayame

by
Warga mengambil tumpahan minyak di Pantai Wayame Ambon, Rabu (15/8/2018).

TERASMALUKU.COM,-AMBON-Sejak tumpahan avtur dari Terminal Bahan Bakar Minyak (BBM) Wayame yang terjadi medio Agustus 2018 lalu, tak ada kabar lanjutan. Avtur, bahan bakar pesawat dengan bau yang mirip minyak tanah itu tumpah ke sungai dan bermuara di Pantai Wayame tepatnya di Teluk Dalam Ambon.

BACA JUGA : Pertamina MOR VIII Gelar Gathering Bersama Jurnalis Se Maluku Papua

Memang dalam waktu cepat teknisi Terminal BBM Wayame melakukan langkah antisipatif. Namun minyak keburu terlepas ke laut. Sebanyak  20 kiloliter tumpahan avtur itu telah sampai ke laut.  Ancaman kehidupan bioata dan ekosistem laut pun dipertanyakan. Berbagai pihak terkait seperti  Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Maluku,  Lembaga Ilmu Pendidikan Indonesia (LIPI), Dinas Perikanan hingga DPRD Provinsi Maluku dan Kota Ambon  turun tangan.

Namun hingga kini belum ada kepastian hasil tes laboraturium dengan sampel dari laut yang diambil.  Sejumlah pihak pun mengkhawatirkan akan kerusakan laut sektar Wayame. Tentu hal ini bakal jadi sesuatu yang amat serius. Apalagi dari investigasi sebelumnya diketahui tumpahan itu disebakan ada human eror saat pemindahan minyak dari tangki 8 ke tangki 7  Terminal BBM  Wayame.

Pihak pertamina sebagai yang paling bertanggungjawab belum bisa memastikannya. Saat wartawan coba meminta konfirmasi, Humas Pertamina berkesan menghindar. “Kita belum bisa pastikan karena masih diteliti di lab,” ucap Communication Manager CSR MOR VIII Wilayah Maluku-Papua, Eko Kristiawan setelah beberapa kali enggan menjawab pertanyaan tersebut di sela-sela gathering bersama wartawan di Jogjakarta, Sabtu (22/9/2018).

Eko beralasan hasil uji laboratorium belum juga diterima pihaknya. Pengujian sampel dilakukan oleh Badan Lingkungan Hidup Provinsi Maluku, sebagai pihak kedua yang bekerja independen. Sebelumnya secara terpisah Terasmaluku.com sempat mewawancarai seorang peniliti LIPI Maluku terkait dampak tumpahan minyak. Cory Manullang, menjelaskan pengujian itu umumnya memakan waktu sekitar dua minggu.

Sebab LIPI Ambon belum memiliki alat pengujian kadar hidrokarbon dalam air. Standaranya, kadar hidrokarbon yakni 1 mg/ liter. Jika hasilnya melebihi itu, diapstikan perarian tercemar. “Kalau sudah ada pasti akan saya bagi ke teman-teman semua. Cuman saat ini hasilnya masih di uji. Kami pun masih evaluasi terkait hal teknis kepada petugas hingga terjadi tumpahan,” janjinya.

Masyarakat di sekitar lokasi kejadian telah diperiksa. Pihaknya turun langsung untuk memastikan tidak ada kerugian dan efek bagi eksehatan masyarakat. Semisal keracunan makanan usai memakai avtur sebagai bahan bakar  untuk memasak atau sifat adiktif dari avtur itu sendiri. Kini, kita tinggal menunggu saja, terbitan hasil tes terkait perairan di Ambon. (PRISKA BIRAHY)