Kekerasan Terhadap Perempuan Tinggi Di Piru

by
LAPPAN, Klasis Seram Barat, Majelis Taklim Waimeteng, Biarawati menggelar kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan pada peringatan Hari Anti Kekerasan di Mata Empat Piru, Sabtu (24/11). FOTO: Istimewa

TERASMALUKU.COM – Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) serta kekeresan seksual jadi dua kasus tertinggi di Piru Seram Bagian Barat (SBB). Sejumlah pihak menggelar kampanye untuk membangun kesadaran serta membantu perempuan korban kekerasan mendapat hak-haknya.

LAPPAN, Klasis Seram Barat, Majelis Taklim Waimeteng, Biarawati menggelar kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan pada peringatan Hari Anti Kekerasan pada Sabtu (24/11).

Piru menjadi target lokasi kampanye anti kekerasan terhadap perempuan. Hal itu mengingat angka kasus kekerasan begitu tinggi dan signifikan. Baihajar Tualeka pendiri Lembaga Pemberdayaan Perempuan dan Anak (LAPPAN) membenarkan hal tersebut. “Piru data kasus tinggi untuk KDRT dan kekerasan seksual perkosaan,” akunya kepada Terasmaluku.com minggu (25/11).

Menurutnya untuk memangkas angka kejadian dibuthkan kerjasama banyak pihak. Pada kampanye tahun ini, dirinya bekerja sama dengan GPM Klasis SBB, jemaat setempat komunitas dari majelis taklim dan kesusteran Santa Theresia Piru. Tujuannya untuk memperkuat basis komunitas dan membantu perempuan korban kekerasan.

Pada 2018, LAPPAN, merangkum ada sekitar 198 kasus kekerasan berbasis gender. Kasus kekerasan seksual perkosaan berjumlah 45 kasus. Di hadapan puluhan warga yang hadir di Mata Empat Piru, Baihajar merinci rata-rata usia korban dari tiga tahun sampai 17 tahun yang dianggap sangat rentan.

Pelecehan seksual berjumlah empat kasus, cabul ada 10 kasus dengan usia berkisar antara 2-10 tahun. Ada juga percobaan perkosaan berjumlah dua kasus, satu kasus trafficking. “Kekerasan terhadap perempuan merupakan masalah kemanusiaan. Launching ini untuk ajak masyarakat gerak bersama dan peduli terhadap perempuan korban kekerasan,” lanjut salah satu aktivis perempuan asal Maluku itu.

Pendeta Renny Mauren Haliwela pun tak menampik hal itu. Tindakan kekerasan terhadap perempuan di wilayah kerjanya jadi salah satu yang cukup tinggi. Banyak perempuan yang belum dapat memperjuangkan hak serta keselamatan mereka. “Dalam tahun ini saja 104 kasus kekerasan seksual dan rumah tangga,” sebutnya kepada terasmaluku.com melalui sambungan telefon.

Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) jadi yang paling tinggi. Ada 65 kasus kekerasan fisik dan penelantaran. Beberapa korban KDRT, lanjutnya mengakui bahwa suaminya selingkuh serta tidak lagi memberikan nafkah ekonomi. Korban dan anak-anak kehilangan sumber penghidupan serta kesulitan mengakses pendidikan.

Sementara kasus terbanyak kedua yakni kekerasan seksual perkosaan sebanyak 30 kasus, percobaan perkosaan 2 kasus, kekerasan dalam pacaran 1 kasus dan pencabulan 3 kasus. Kampanye dan kerja lintas komunitas ini diharapkan membangun kesadaran perempuan.

Salah satu upaya nyata yang dilakukan yakni pembentukan paralegal.  Yakni orang-orang yang punya kesadaran hukum dan mampu mendampingi korban hingga tuntas. Mereka ini seblumnya diberikan pelatihan dan pemantapan oleh fasilitator terpilih. Dari tiap komunitas dipilih lima orang. Total paralegal yang dibentuk kemarin ada 40 orang. “Mereka ini lintas komunitas yang bekerja sukarela untuk masalah kekerasan,” imbuh mantan sekretaris klasis SBB itu.

Paralegal ini bertugas, mencatat kasus kekerasan, pendampinga ke rumah sakit, pengaduan ke polisi maupun memastikan tuntutan korban terpenuhi hingga ke level pengadilan. (PRISKA BIRAHY)