Kumandang Azan Dari Altar Gereja Saat Ibadah Adventus Pertama

oleh
Azan dikumandangkan di altar gereja GPM Imanuel Amahusu Kecamatan Nusaniwe Ambon oleh saudara gandong asal Tial sebagai ajakan ibadah dan tanda membuka rangkaian ibadah adventus pertama Minggu (2/12). FOTO: Priska Birahy

TERASMALUKU.COM,AMBON-Allahuakbar Allahuakbar.. Allahuakbar Allahuakbar..Asyhadu Allaa Ilaaha Illallaah..Asyhadu Allaa Ilaaha Illallaah.. Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah.. Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah..

Hayya’ Alash Shalaah..Hayya’ Alash Shalaah.. Hayya’ Alal Falaah.. Hayya’ Alal Falaah.. Allaahu Akbar Allahu Akbar.. Laa Ilaaha Illallaah..

Kumandang azan bergema mengajak umat beribadah. Di altar gereja jemaat GPM Imanuel Amahusu Ambon, imam dari negeri gandong Tial membuka Ibadah Orang Basodara Minggu (2/12/2018). Suara azan yang mengalun lembut itu seketika mencuri keriuhan jemaat yang mulai kepanasan, hening dan teduh. Ratusan orang yang datang begitu khusyuk menaikan doa hingga ada yang meneteskan air mata.

Warga dari dua negeri saudara Muslim Laha dan Tial serta negeri saudara Kristen Hatalae memadati bangku-bangku panjang gereja. Mereka duduk bersama dalam satu atap pada ibadah pagi pukul 09.00. Pemandangan yang amat langka dan mungkin satu-satunya di Indonesia. Simbol-simbol agama dalam pakaian, nyanyian, serta kidung-kidung tak memberi sedikitpun sekat bagi empat negeri saudara ini.

Ibadah yang bertepatan dengan minggu pertama adventus nan biru itu seperti melunturkan segala prasangka yang menyebar di luar. Perbedaan agama yang selama ini jadi jualan laris sengketa justru luruh.

Di sebuah negeri kecil Amahusu Kecamatan Nusaniwe di Teluk Ambon Bagian Luar, memberi pembuktian. Satu dari empat lilin adventus dinyalakan sebagai tanda masuk minggu jelang kelahiran Yesus Kristus. Usai azan, rangkaian ibadah dimulai. Ada seruan-seruan beribadah, kidung-kidung pujian dinyanyikan oleh semua orang yang hadir.

“Dimanakah perbedaan kita. Bagaiman orang Amahusu bisa terima ada azan di gereja begitu juga sebaliknya,” sepenggal tanya dalam khotbah yang dibawakan Sammy Titaley. Suara azan tiap hari didengar. Saat berjalan, di angkot, kantor, warung dimana saja, ajakan beribadah itu mengisi ruang-ruang udara di telinga ketika. “Tiap hari katong dengar akang di panta talinga,” lanjut Sammy yang turun dari mimbar.

BACA JUGA :  Maluku Terapkan PSBR Atasi Pandemi COVID-19, Gubernur : Kita Tidak Lockdown

Baginya hal-hal itu acap kali didebatkan hanya karena cara yang berbeda. Kalimat-kalimat suci dalam Bahasa Arab itu nyatanya punya makna serupa dengan ajakan beribadah bagi orang Kristen. Di situ ada pujian dan pengakuan akan kebesaran tuhan.

Keterlibatan basodara muslim dalam rangkaian liturgi perlu dilihat dalam perspektif yang lebih lapang. Mantan Ketua Sinode GPM periode 1995 – 2000 itu memberi contoh hal serupa yang terjadi di Libanon. “Beta buka youtube dan liat ada azan dan nyanyian haleluya sama-sama. Pas cek itu di lapangan terbuka. Beta pikir bagaiman kalau itu di gereja,” katanya. Menurutnya, orang Maluku juga perlu belajar banyak dari Libanon. Cara beribadah dua agama yang dibawakan bersama tak lantas jadikan pengikutnya auto murtad.

Hal semakna juga disampaikan ustad Abidin Wakanno yang membuka kotbah di bagian awal. Dia bilang, saat azan atau pembacaan Al-Quran di gereja tak serta merta membuat yang kristen jadi muslim. Atau sebaliknya, tidak ada pengkristenan manakala basodara muslim ke gereja dan ikut menaikan pujian. “Katong seng ada negosiasi minta dilahirkan dari kampung mana atau agama mana. Janji leluhur Nunusaku harus dijaga. Jangan sampe ada bisikan spook yang masuk tengah kasi hancur,” aku Abidin diiringi tepukan tangan jemaat.

Selain azan dan kotbah ustaz, Fauziah Kaliky dari Laha membacakan rawi inna fathana 10 ayat yang berisi kelahiran Nabi Muhammad SAW. “Inna fathana biasa dibaca saat maulid nabi. Katong senang bisa ikut sama-sama dan ini isinya tentang hal-hal baik,” akunya usai ibadah yang berakhir sekitar pukul 13.00.

Suasana gereja minggu adventus itu begitu teduh jauh dari riuh-riuh seperti pada pemberitaan tentang sejumlah aksi di ibukota hari ini. Warga dari empat negeri beda agama duduk di satu rumah ibadat bersama.

BACA JUGA :  Enam Penyelundup Senjata Api dan Ratusan Amunisi ke Papua Ditangkap Polda Maluku

Dina Tuharea warga Negeri Tial Kecamatan Salahutu Kabupaten Maluku Tengah sampai berkaca-kaca usai ibadah minggu. “Beta rasa akang biking haru. Katong ini basodara seng peduli agama apa. Katong jaga silaturahim dengan acara-acara semacam ini,” sebut Dina yang datang bersama warga negeri Tial lain menggunakan dua buah mini bus sejak pagi.

Usai beribadah jemaat beramai-ramai makan patita di depan gereja. Makanan-makanan itu merupakan pemberian dari warga tiga negeri lain yang dimasak bersama. (PRISKA BIRAHY).

 

 

 

 

No More Posts Available.

No more pages to load.