Kekeringan Di Lahan Pertanian, Harga Bawang Merah Ikut Naik

oleh
Musim panas yang Panjang menyulitkan petani bawang merah. Sebagian merugi harga bawang di pasar tinggi. FOTO: Priska Birahy

TERASMALUKU.COM,AMBON– Jelang tutup tahun harga bawang merah melompat naik. Dari sebelumnya Rp 26.000 kini berada di angka Rp 32.000. Alur suplai bawang merah pun menipis menyusul kebun-kebun bawang milik petani di Ambon mengering.

Harga sejumlah komoditas di pasar satu persatu naik. Sebelum bawang, cabai rawit merah lebih dulu naik diikuti telur. Di Pasar Mardika Ambon misalnya harga jual eceran bawang di pedagang Rp 32.000.

Kalaupun masyarakat ingin membeli dalam satuan yang kecil, dipastikan jumlah yang dibawa pulang sedikit. “Skarang bawang merah ada naik. Ini satu kilo su sampe Rp 32.000. Sebelumnya cuma Rp 26.000 perkilogram,” sebut Aminah pedagang Pasar Mardika.

Dari pantauan lapangan, bawang yang masuk ke pasar di Ambon berasal dari kebun Desa Taeno Atas dan Bawah Kelurahan Rumah Tiga Kecamatan Teluk Ambon. Taeno sejak dulu dikenal dengan penghasil bawang dan sayur-sayuran. Letaknya di dataran tinggi dengan kontur tanah hitam berkarang. Tipe permukaan lahan cadas itu memberi keuntungan untuk becocok tanam.

Namun belakangan harga bawang terus naik. Penjual tak bisa berbuat banyak. Kenaikan harga disebabkan kelangkaan barang sedangkan permintaan pasar meningkat. Saat terasmaluku.com mengecek ke lapangan, salah satu penyebab kenaikan harga yaitu kekeringan.

“Kali ini musim panas lama, tanah kering. Sedangkan bawang itu paling bagus kalau tanah gembur. Kalau su dekat panen baru panas, itu bagus,” ungkap Petani Bawang Merah Desa Taeno Atas, Jainudin Ode kepada Terasmaluku.com saat ditemui di kebun bawang miliknya di Taeno Atas Senin (10/12/2018) siang.

Para petani di Taeno memakai sistem jual kotor ke pedagang pesar. Satu kilogram bawang yang belum lepas daun dan bersih dihargai mulai dari Rp 18.000 sampai Rp 20.000. Harga bisa berubah jika harga bawang di pasar naik. Panen bawang merah petani Taeno minimal 4 ton perhektar. Jumlah itu bisa lebih tinggi hingga 7 ton jika umbi bertumbuh baik.

BACA JUGA :  TNI AL Negosiasi Dengan Pembajak KM. Mina Sejati

Kenaikan harga bawang merah di Ambon terpantau memerah pada data PIHPS (Pusat Informasi Harga Pangan Strategi) nasional update 10 Desember 2018. Komoditas bawang merah di Pulau Ambon ada di kisaran harga Rp 32.400 perkilogram. Angka itu mendekati angka tertinggi pada data PIHPS yaitu Rp 35.000 perkilogram di Maluku Utara dan Rp 38.750 di Papua Barat.

Irigasi Buruk, Mesin Pompa Mati

Kenaikan harga pangan sejatinya bukan hal baru. Kelangkaan bahan umumnya jadi pemicu harga tinggi. Khusus untuk komoditas bawang, pedagang masih bisa memasok dari Surabaya dan Manado untuk menyiasati kerugian.

Sementara pasokan bawang lokal bergantung pada musim. Seperti yang terjadi di Desa Taeno petani hanya bisa menunggu hujan. Area perkebunan bawang di Taeno Atas seluas 2 hekatar. Letaknya di dataran tinggi yang jauh dari sumber air tanah. Taeno dikenal dengan penghasil bawang merah di Pulau Ambon.

Di tengah area tanam berdiri sebuah bak penampung air yang dibangun sejak 2014. Jainudin Ode Ketua RT Taeno Atas menjelaskan bak itu berfungsi untuk menampung air yang ditarik menggunakan mesin dari sungai besar di desa Taeno. Sayangnya mesin rusak. Warga sementara memperbaiki mesin agar sistem irigasi berfungsi kembali. Sambil menunggu rampung, berkah air hujan beberapa waktu lalu sedikit membantu petani. Sebab sistem tanam bawang di antara batu karang cadas membutuhkan cukup air untuk menggemburkan tanah.

Bertanam bawang beda dengan jenis tanaman lain. Tanah harus teririgasi dengan baik pada masa awal tanam. Sedangkan jelang panen, barulah tanaman butuh banyak matahari. “Kalu panas tarus nanti umbinya kosong di dalam. Jadi dekat-dekat panen itu baru panas supaya bawangnya padat,” jelas pria 43 tahun itu.

BACA JUGA :  Ribuan Pekerja Informal dan Non-ASN di Ambon Terima Jaminan Ketenagakerjaan

Musim tanam bawang biasanya jelang akhir tahun dengan intensitas hujan cukup. Namun kali ini cuaca bergesar, panas lebih pajang dan hujan belum datang. Sementara panen bawang hanya setahun sekali. Tanaman bawang yang terpapar banyak air berisiko terjangkit penyakit dan mati. Di lain sisi penanaman di musim panas, akibatkan umbi bawang kosong.

Sebagian petani pun merugi lantaran bibit bawang mati kepanasan di awal tanam. Ketua dua poktan di Taeno Atas itu mengaku salah satu poktan merugi lantaran bawang mati. Sebagian petani itu memulai masa tanam lebih dulu sekitar sebulan lalu saat matahari sedang tinggi-tingginya. Sedangkan dia dan tiga petani lain baru mulai bertanam pada beberapa minggu lalu.

“Yang tanam sekarang ni nanti panen Januari. Kalau ada hujan sedikit sedikit berarti bawang bagus dan banyak. Harga jual juga bagus,” harap pria yang sudah 20 tahun lebih jadi petani itu. Harga jual bawang bisa lebih baik jika tanaman bawang cukup air. Sementara kenyataan saat ini, bak penampung di area berbatu karang itu kosong. Petani berharap ada pertolongan dari pemerintah untuk mengatasi masalah irigasi air. (PRISKA BIRAHY)

No More Posts Available.

No more pages to load.