Penanganan Tepat Bagi Korban Kekerasan Seksual

by
Ilustrasi : Liputan6.com

KEKERASAN seksual tentunya bukan hal yang dapat ditoleransi lagi. Kekerasan sendiri adalah suatu bentuk yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain dengan maksud untuk menyengsarakan, melakukan tindakan tidak manusiawi baik dalam bentuk fisik maupun psikis. Kekerasan seksual merupakan bentuk perilaku yang memiliki mutan seksual yang dilakukan seseorang atau sejumlah orang namun tidak diharapkan oleh orang yang menjadi sasarannya sehingga menimbulkan akibat negatif seperti rasa malu, tersinggung, terhina, marah, kehilangan harga diri dan kehilangan perasaan suci.

Berdasarkan pemantauan yang dilakukan Komnas Perempuan selama 15 tahun terakhir terdapat 15 bentuk kekerasan seksual diantaranya pemerkosaan, pelecehan seksual. Eksploitasi seksual, dan pemaksaan perkawinan. Sekecil apapun tindakan tersebut sudah seharusnya tidak dimaklumi oleh pihak manapun dan ditindak tegas. Dibalik banyaknya kasus yang terjadi tentunya terdapat korban-korban yang berjuang untuk memulihkan diri dari rasa trauma dari kejadian yang menimpanya.

Baik sengaja atau tidak sengaja kekerasan seksual ini memiliki dampak dalam mengganggu kinerja dan aspirasi seseorang dengan menciptakan lingkungan yang mengintimidasi, bermusuhan, kasar, atau ofensif. Pada tahun 2020 Komnas Perempuan mencatat terdapat kasus kekerasan seksual sebanyak 299.911 terhadap perempuan.

Tentunya masih banyak lagi korban yang tidak berani melaporkan bahkan menceritakan kekerasan yang dialaminya. Korban seringkali tidak menyadari bahwa dirinya sudah mengalami kekerasan seksual dan akan sadar bebeapa saat setelah kejadi tersebut terjadi. Korban kekerasan ini tidak dibatasi gender serta usia karena kekerasan seksual dapat terjadi pada siapa saja dengan kondisi apapun. Sebagian besar korban kekerasan juga biasanya menderita stress pasca trauma.

Selain karena tidak menyadari,  terkadang korban merasa tidak nyaman dan takut sehingga enggan menceritakan kejadian yang menimpanya. Kebanyakan korban juga masih ragu untuk menceritakan karena enggan mengingat-mengingat kembali perasaan yang dirasakannya saat mengalami kejadian tersebut. Sangat disayangkan lingkungan sekitar juga masih banyak yang kurang mendukung dan cenderung menganggap sepele hal yang menimpa korban bahkan beberapa malah balik menyalahkan korban atas terjadinya perilaku tidak pantas tersebut. Tidak jarang korban malah balik dihujat dan tidak didukung saat menceritakannya pengalamannya. Oleh karena itu mereka lebih memilih bungkam daripada menceritakannya.

Para korban seharusnya bisa mendapatkan penanganan yang lebih baik dari lingkungan sekitarnya bukan hanya dipojokan dan dikucilkan. Beberapa korban yang melaporkan kekerasan yang dialaminya kepada pihak berwajib biasanya akan mendapatkan penanganan dari psikolog khusus. Psikolog ini biasanya akan mendampingi selama proses pemeriksaan berlangsung. Selama proses pemeriksaan psikolog akan membantu dalam menggali informasi mengenai kronologis kejadian sebenrnya dari kedua belah pihak yaitu korban dan tersangka. Dengan adanya kesaksian dari psikolog akan membantu dan menjadi pertimbangan dalam pengambilan keputusan saat persidangan.

Jika korban tidak bersedia atau tidak melaporkan kekerasan yang dialaminya kepada pihak berwajib, maka mereka dapat mendatangi psikolog atau lembaga perlindungan perempuan dan anak (LPPA) terdekat. Sama seperti dikepolisian, para korban juga akan mendapatkan perlindungan serta penanganan yang tepat. Mereka akan mendapatkan bantuan dari tenaga professional untuk menangani perasaan traumanya. Secara garis besar tugas psikolog disini adalah untuk membantu korban agar segera pulih dari rasa traumanya sehingga dapat kembali beraktivitas di masyarakat dengan keadaan fisik dan psikis yang lebih baik.

Sebenarnya masih banyak pihak bahkan korban sendiri yang menganggap bahwa tindakan ini tidak diperlukan padahal hal tersebut sudah jelas salah. Sekecil apapun trauma yang dimiliki seseorang harus diselesaikan dengan tuntas agar memudahkan korban dalam menjalani hidupnya lagi. Korban dengan kasus kekerasan yang mungkin dianggap masih dianggap ‘sepele’ seperi kekerasan verbal pun pasti memiliki perasaan trauma yang sama dengan korban kasus pemerkosaan misalnya. Hal tersebut tidak bisa dianggap sepele saja bagai angin lalu. Mereka semua berhak mendapatkan penangan yang tepat untuk mengatasi perasaan traumanya.

Oleh Karena itu siapapun dan apapun kekerasan yang didapatkan oleh korban penting untuk diperhatikan dan tidak dianggap sepele. Para korban dari pelaku kekerasan seksual harus lebih aware akan kesehatan mental dirinya dan mendatangi professional untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Jika korban tidak sadar akan keadaannya, kerabat atau keluarga korban baiknya dapat membantu untu mengarahkan korban untuk mendapatkan penanganan khusus demi kebaikan psikis dan fisik korban itu sendiri.

Penulis : Diva Aulia Nabila Derpartemen Psikologi, Universitas Pendidikan Indonesia

divaaulianabil@gmail.com