Makna dan Harapan Kurban dari Masyarakat Prasejahtera

by
FOTO : ACT

JAKARTA–Hari raya kurban hampir tiba. Beberapa area di ruas jalan sudah mulai ditempati sebagai lapak para penjual hewan kurban. Dari mulai kambing hingga sapi, mereka jajakan kepada para dermawan yang hendak berkurban.

Berkurban merupakan ibadah yang memiliki hukum sunah muakad atau sangat dianjurkan bagi orang yang mampu secara materi. Menjadi ladang pahala bagi mereka yang memiliki rezeki berlebih.

Namun, berkurban bukan hanya momen spesial untuk mereka yang dititipkan rezeki berlebih oleh Allah. Bagi masyarakat prasejahtera pun, hari raya kurban juga menyirat makna dan harapan mendalam.

Janis (54) salah satunya. Seorang guru mengaji yang tinggal sendiri di kontrakan satu petak di wilayah Jakarta Pusat. Menurut Janis, hari raya kurban adalah salah satu ibadah yang sangat penting. Meski hidup serba pas-pasan, keinginan untuk berkurban sangat besar.

“Pengin. Pengin banget kurban. Kambing yang kecil juga enggak papa,” pungkas Janis saat ditemui tim Aksi Cepat Tanggap (ACT).

Hal senada juga disampaikan oleh seorang tukang jamu keliling di Jakarta Selatan bernama Sutarsih (46). Meski pendapatannya kecil dan harus menghidupi dua orang anak serta cucu, semangat berkurbannya sangat tinggi.

Tiap tahun, Janis selalu menyisihkan sebagian penghasilannya. Uang tersebut ia gunakan untuk ikut patungan bersama jemaah masjid dekat rumahnya, untuk membeli sapi kurban.

Menurut Sutarsih, pendapatan sedikit bukan sebuah alasan untuk tidak menjalankan ibadah sesuai anjuran agama. “Pengen sih beli yang satu (hewan kurban) dan untuk satu keluarga itu. Tapi belum mampu. Belum pernah saya beli yang satu gitu,” harapnya.

BACA SELANJUTNYA