Semua Karena Kasih Karunia, Cerita Menggapai Doktor Antropologi Oleh : Rudy Rahabeat

by

Tak pernah dibayangkan, seorang anak kampung dapat menggapai jenjang akademik tertinggi pada salah satu universitas prestisius di nusantara ini, Universitas Indonesia (UI). Ayah saya, Dominggus Rahabeat (alm.) hanya seorang mantri Pertanian dan ibu saya Christina Poceratu, seorang ibu rumah tangga. Kami 9 orang bersaudara. Ayah seorang migran lokal, merantau dari kepulauan Kei Maluku Tenggara, bertugas di Kamarian Pulau Seram (Nusa Ina), menikah dengan ibu saya. Ayah saya berpindah-pindah pada beberapa tempat di Maluku, terakhir di negeri Hatu hingga wafatnya. Saya lahir di sana, di Batu Dua Negeri Hatu Katuru Hena Mantelu, 20 Maret 1975.

Hanya oleh kemurahan Tuhan saya bisa menggapai gelar Doktor Antropologi pada hari Kamis, 5 Agustus 2021. Ujian promosi dilakukan secara terbuka online melalui Zoom. Saya berterima kasih kepada semua pihak yang telah menopang pencapaian ini. Ijinkan saya meringkas sebagian kisah perjuangan studi melalui media ini. Mohon maaf jika ada yang tidak berkenan dan harap maklum jika narasinya agak panjang. Dapat dibaca sambil ngopi atau ngeteh. Hehehehe.

Jalan Panjang dan Berliku

Sehabis sekolah SMA Angkasa Lanud Pattimura Laha Ambon 1993, saya berkuliah pada Fakultas Teologi UKIM Ambon. Seangkatan dengan Pdt Elifas Maspaitella, Pdt Daniel Wattimanella, Dr Wely Tiwery, Pdt Max Takaria, Pdt Jois Essuruw, Pdt Etika Hia, dst. Saat kuliah saya lebih banyak aktif dalam organisasi intra kampus. Pernah menjadi Sekretaris Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultas, kemudian Sekretaris Senat dan Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Teologi UKIM Ambon.

Semua itu turut membentuk sense kepemimpinan saya. Apalagi di ujung studi kami memasuki gelombang reformasi 1998 yang mengantar saya bersama Pdt Daniel Wattimanela (saat itu Ketua Dewan Reformasi Mahasiswa UKIM) mengunjungi berbagai kota di Jawa seperti Surabaya, Solo, Salatiga, Yogyakarta, dan Jakarta. Perjalanan reformasi itu yang antara lain memicu dan mengantar saya untuk melanjutkan studi S2 tahun 2000 pada program Magister Ilmu Religi Budaya Universitas Katolik Sanata Dharma Yogyakarta. Di sana saya banyak belajar dari Dr St Sunardi, ketua program IRB saat itu, juga Romo Budi Subanar,SJ, seorang pastor Yesuit yang pernah mengajar di SMK Katolik di Langgur Kei Kecil Maluku.

Selesai studi S2 saya kembali ke Ambon, mengikuti Vikaris di Jemaat GPM Wassu Klasis Lease, dan ditahbiskan sebagai Pendeta Gereja Protestan Maluku di gereja Pniel Latuhalat 2006. Pada tanggal, bulan dan tahun yang sama, 3 Desember 2006, saya menikah dengan Pdt Ruth Saiya di gereja Betlehem Jemaat GPM Hatu. Dua peristiwa dalam satu hari (tahbis dan menikah). Tahun 2007 saya ditugaskan pertama kali sebagai Pendeta Jemaat GPM Betel Klasis Kota Ambon selama 4 tahun. Setelah itu saya diutus selama 3 tahun menjadi Sekretaris Klasis GPM Ternate merangkap Ketua Majelis Jemaat GPM Imanuel (Gereja Ayam) Ternate. Dari Ternate saya “tembak langsung” ke Jakarta melanjutkan studi S3.

Secara pribadi saya telah bervisi bahwa sebelum berusia 40 tahun saya mesti melanjutkan studi S3. Hal ini antara lain untuk melihat peluang memeroleh beasiswa. Pada April 2014, 10 tahun sehabis kuliah S2, saya mulai berproses tes seleksi masuk Universitas Indonesia. Ada dua jenis tes saat itu. Tes tertulis di kampus UI, dan tes wawancara yang dilakukan melalui telepon. Saya ingat waktu itu salah satu dosen yang mewawancarai saya adalah Dr Irwan Martua Hidayana, yang kemudian hari saya ketahui adalah Ketua program pascasarjana antropologi UI. Saya bilang kepada Ruth, istri saya: “Kita tidak punya uang, tapi jika Tuhan berkenaan saya lulus tes, kita maju saja”. Ia mengaminkan kata-kata saya. Suatu pagi sebelum ibadah Minggu, saya membuka email dan betapa terkejut ketika membaca sebuah pesan. “Anda diterima sebagai mahasiswa S3 Antropologi UI. Mohon perhatikan pembiayaannya”. Saya dan istri tentu bersyukur dengan khabar di pagi itu. Namun kami juga saling memandang tentang darimana memeroleh biaya untuk studi nantinya. Waktu itu usia saya 39 tahun.

Kuliah Tanpa Beasiswa

Saya pernah mencoba beasiswa LPDP tapi tidak lolos. Salah satunya mungkin karena saya bukan pegawai negeri. Atau status saya yang bukan dosen pada sebuah perguruan tinggi, walau saya pernah mengajar pada Fakultas Teologi UKIM sebagai dosen tidak tetap tahun 2007-2009 dan STAKPN IAKN Ambon tahun 2010. Saya malah pernah membimbing penulisan skripsi mahasiswa S1 Teologi UKIM dan tesis mahasiswa IAKN Ambon. Sekarang mahasiswa S2 yang saya bimbing telah menjadi Dekan Fakultas Pendidikan IAKN Ambon.

Studi tanpa beasiswa membuat saya harus bekerja ekstra, makanya saya memilih studi di Jakarta bukan di Yogyakarta. Ada tiga pertimbangan studi di Jakarta. Pertama, saya dapat menambah pengetahuan di bidang antropologi. Kedua, dapat membangun relasi dan jaringan (networking) dengan berbagai pihak, dan ketiga, dapat mencari uang untuk menopang studi. Jakarta membuka ruang yang cukup besar untuk ketiga hal itu. Saya mulai bergerak dari kontrakan Citrasari Lenteng Agung Jakarta Selatan dengan transportasi andalan, kereta KRL Jakarta-Bogor.

Selain ada beberapa keluarga yang memberi dukungan dana pribadi, saya juga harus membagi waktu untuk melayani. Setiap hari minggu saya menggunakan kereta KRL Saya berkhotbah di beberapa Persekutuan Oikumene Umat Kristen (POUK) dan beberapa gereja mainstream di antaranya GPIB. Selain itu saya juga berkhotbah di seberang istana Presiden bersama jemaat GKI Yasmin Bogor dan HKBP Philadelpia Bekasi. Saya juga membantu menulis. Sekira sejak tahun 2016 saya mendapat kesempatan menjadi salah satu anggota Tim Penulis Pidato Gubernur Maluku bersama Dr Abidin Wakanno, Dr Ernas Said, Dr Pieter Soegijono dan Kee Enal. Tugas itu kami laksanakan sejak Gubernur Said Assagaf hingga Gubernur Murad Ismail saat ini. Honor penulisan itu turut menopang kebutuhan studi. Saya juga dilibatkan oleh Dirjen Bimas Kristen Kementrian Agama RI dalam beberapa kegiatan, termasuk perjalanan ke Sumatera Utara dan Jambi bersama pak Dirjen, Prof Dr. Thomas Pentury, M.Si

Biaya per semester 12,5 juta. Biaya hidup di Jakarta minimal dua juta per bulan. Belum terhitung biaya buku, kebutuhan tak terduga, dll. Tapi Tuhan begitu baik. Ia mengirim orang-orang baik untuk menopang kami. DIA adalah Jehovah Jireh, Allah menyediakan, Allah mencukupkan.

Dukungan Gereja

Saya berterima kasih atas dukungan Gereja Protestan Maluku (GPM). Pdt Dr John Ruhulessin ketua Sinode GPM saat itu bersama Majelis Pekerja Harian Sinode memberi ijin studi. Diberi gaji pokok, yang kemudian saya simpan tiap bulan untuk membayar uang semester. “Maaf ya gaji saya kita gunakan untuk biaya semester, untuk kebutuhan keluarga kita gunakan gaji kamu saja” dengan lirih saya sampaikan hal itu kepada istri saya. Dia tersenyum, walau kecut. Kami berjuang dengan IPK, Iman, Pengharapan dan Kasih.

Saat Ketua Sinode Pdt AJS Werinussa (20015-2020) saya beberapa kali diberi bantuan studi lanjut, khususnya untuk keperluan membeli buku. Bantuan itu diberikan untuk setiap Pendeta yang sedang melanjutkan studi (S2 maupun S3). Saya berterima kasih atas kebijakan gereja yang mensupport para Pendeta untuk melanjutkan studi. Demikian pula di ujung studi, Pdt Elifas Maspaitella selaku ketua Sinode GPM (2020-2025) turut menopang studi saya. Sahabat yang baik hati ini memang sejak awal sudah mensupport saya ketika studi S2. Teringat waktu ia baru pulang dari India, dan memberi Rupee untuk saya membayar biaya masuk S2 kala itu. Ketika saya hendak ujian promosi, ia datang dengan pakaian jabatannya, mengumpulkan saya, istri dan ketiga anak di ruang Media Center GPM, ia berdoa. Ia juga memberi UCAPAN SELAMAT melalui Zoom ketika ujian berakhir. Sebuah ucapan yang penuh makna. “Kami berterima kasih kepada UI sebagai garda terdepan nasionalisme Indonesia dan telah menyumbang bagi gereja kami seorang scholar yang gigih” kalimat ini berdimensi luas.

Saya bersyukur semakin banyak pendeta GPM yang studi lanjut lintas bidang. S2 sangat banyak. Untuk S3 saat ini antara lain Pdt Dr Alexander Uhi (Filsafat), Pdt Dr Ferry Nahusona (Sosiologi Agama), Pdt Dr Frans Serang (Ekonomi), Pdt Dr (Cand.) Weldemina Pattipeilohy (Ekonomi), disamping yang sedang studi S3 di Program doktoral Agama dan Kebangsaan: Pdt Edison Wajabula, Pdt George Likumahwa, Pdt Jerry Takdare, Pdt Steven Atihuta, dst. Peran gereja dalam mendorong peningkatan SDM sangat strategis. Dengannya gereja dapat berkontribusi bagi kemanusiaan, bangsa dan negara.

Kuliah Sambil Berbagi Kasih

Sejak awal studi saya sudah bertekad tidak hanya menempuh rute kampus-kamar kost. Saya tidak hanya mengejar gelar. Itu terlalu pragmatis. Saya menggunakan kesempatan emas ini untuk juga saling menopang dan berbagi. Entah sudah berapa banyak pribadi yang saya temui, khususnya mereka yang sakit, yang datang dari daerah. Saya akan berusaha menjumpai mereka, mendengar keluhan dan berdoa, serta berusaha mencari jalan untuk dukungan pembiayaan pengobatan. Kereta KRL Bogor-Jakarta, ojek, grab, bajaj, hingga jalan kaki saya nikmati, sebagai cara pertanggungjawaban iman saat melanjutkan studi.

Setelah melewati kuliah tatap muka 4 semester (dua tahun) penuh di kelas, saya habiskan waktu berikutnya untuk riset dan menopang pelayanan gereja dan kemanusiaan. Saat saya di Ambon, saya aktif menopang tugas-tugas pelayanan gereja di Jemaat, Klasis dan Sinode. Salah satunya bersama Pdt Dr John Saimima, dkk kami mengedit dan menyiapkan 3 buku untuk Sinode GPM yakni Menuju Gereja Orang Basudara (2017), Gereja di Hati Bangsanya (2018) dan Gereja yang Melayani Anak (2019). Suatu waktu istri saya mendapat kesempatan studi singkat di pusat belajar oikumene Bossey Swiss selama 5 bulan, saya mengisi kesempatan melayani Jemaat GPM Waringin Pintu. Selain itu, saya tetap aktif merajut silahturahmi dan relasi dengan kawan-kawan Muslim serta kegiatan-kegiatan bersama, antara lain dengan kawan-kawan HMI dan IAIN Ambon.

Pada fase studi S3 saya juga memanfaatkan media sosial untuk berbagi pikiran dan gagasan. Tulisan-tulisan dan informasi saya sebarkan melalui media sosial, seperti fesbuk, juga media online utamanya Terasmaluku.com. Saya berterima kasih kepada sahabat Hamdi Jempot yang secara rutin menerbitkan tulisan-tulisan saya di media online Terasmaluku.com. Saya menjadikan media sosial sebagai sarana berbagi Khabar Baik. Ketika kita telah memasuki era digital saat ini, maka tidak ada jalan lain, kita harus masuk dalam kanal itu dan menghadirkan kasih dan berita-berita yang mencerahkan, ketimbang media itu diisi oleh berita-berita bohong, dan kebencian. Panggilan untuk edukasi dan literasi media harus kita lakukan dengan cermat agar semuanya bermuara untuk kemaslahatan dan kebaikan bersama.

Pendekatan Lintas Disiplin Ilmu

Ketika saya memilih antropologi sebagai subjek studi S3 ada sebagian orang yang bertanya: mengapa bukan teologi dan antropologi. Saya dapat memaklumi. Masih ada orang yang terjebak dalam cara berpikir dikotomistik; ilmu agama (teologi) dan ilmu non agama teologi. Seakan hanya ada satu jalan menuju “keselamatan” pengetahuan. Padahal ada banyak jalan menuju Roma. Sebagian pula masih terjebak pada rezim linearitas, garis lurus. Padahal hidup ini tak selamanya lurus, kadang bergelombang dan melingkar (siklis). Ini memang sebuah problem epistemologis, selain sosiologis dan psikologis sehari-hari.

Coba kita baca buku Prof. Amin Abdullah, “Multidisiplin, Interdispilin dan Trandisiplin. Metode Studi Agama di Era Kontemporer (IB Pustaka, 2020). Atau buku David Epstein, “Range. Mengapa Menguasai Beragam Bidang Bisa Membuat Kita Unggul di Dunia yang Mengedepankan Kekhususan Bidang (Gramedia, 2020). Buku-buku ini membuka mata kita untuk melihat adanya kerjasama dan kolaborasi lintas ilmu. Para ilmuan mesti saling kerjasama lintas ilmu, termasuk ilmu teologi.

“Semoga ilmu yang diperoleh dapat diterapkan untuk kepentingan pengetahuan dan masyarakat” demikian pesan Prof Yasmine Shahab, Promotor saya seusai pengukuhan doktoral saya. Demikian pula Dr Tony Rudyansjah, Ko Promotor saya memberi sanggahan terkait positioning saya menautkan ilmu antropologi dan praksis emansipasi kemanusiaan. Semua itu merupakan dinamika sekaligus tantangan bagi para scholar untuk mengembangkan ilmu pengetahuan sekaligus merespons persoalan-persoalan kemanusiaan dan kemasyarakatan saat ini dan ke depan.

Secara pribadi saya melihat ada dua agenda praksis terkait sumbangan ilmu antropologi bagi teologi (gereja). Pertama, mengembangkan kerja-kerja etnografi terkait pelayanan di jemaat-jemaat. Hal ini sebenarnya telah dilakukan oleh para Zendeling (Penginjil) pada zaman Hnidia Belanda, mereka membuat catatan-catatan harian mengenai jemaat-jemaat yang mereka layani. Kedua, mengembangkan teologi kontekstual. Melalui kajian-kajian antropologis dan sosiologis yang memadai, gereja dan teolog dapat mengembangkan teologi yang berakar pada budaya dan realitas sosial setempat. Bukan teologi impor atau foto copy dari Barat. Teologi empirik yang emansipatoris, bukan teologi yang di awan-awan. Melalui pendekatan lintas disiplin akan ada banyak kebaruan (novelty) dan terobosan-terobosan yang dapat diproduksi.

Semua Karena Kasih Karunia

Disertasi saya diberi judul “Kelenturan Relasi dan Rasa Keterhubungan Dalam Ruang Pluralitas. Studi Antropologis Terhadap Etnis Bugis dan Etnis Ambon di Maluku”. Studi ini mengkaji relasi antar-etnis, khususnya orang Bugis yang telah hidup bertahun-tahun di Ambon. Bagaimana terjadi proses saling memberi dan menerima (take and give) di antara orang Bugis dan orang Ambon. Bagaimana dinamika relasi dan kerjasama yang terbangun di sektor ekonomi, agama, pendidikan dan sosial. Semua ini dibingkai dalam kesadaran bahwa kita semua adalah perantau atau orang asing di dunia ini, dan kita terpanggil untuk membangun relasi, kerjasama dan kolaborasi lintas agama, lintas suku, lintas ilmu dan lintas institusi demi menghadirkan kesejahteraan bagi semua ciptaan.

Manusia berusaha, tapi Tuhanlah yang menentukan. Jalan panjang dan berliku adalah ziarah pengetahuan dan ziarah iman. Ada “tangan yang tak kelihatan” yang menuntun tiap langkah. Ada anugerah di tiap jerih dan juang. Demikian pula, Tuhan menggunakan banyak cara dan banyak orang untuk saling menopang. Keluarga, sahabat, kerabat, kolega bahkan “orang-orang asing” yang setia menolong dan berbagi kasih dalam ziarah hidup ini.

Pemazmur berkata “Orang yang menabur dengan mencucurkan air mata akan menuai dengan sorak sorai”. Hanya orang yang berjalan yang sampai pada tujuan. Tak mungkin tiba di tujuan jika tidak berjalan dan berjuang. Hidup ini penuh perjuangan. Kita harus tegar berjuang dan jangan pernah menyerah. Tak ada yang tak mungkin bagi setiap orang yang mau berjuang dan berserah kepada Tuhan. Dan jangan lupa untuk tetap berbagi kebaikan di sepanjang jalan kehidupan.

Terima kasih ya Tuhan atas semua kemurahan dan kasih karuniaMu. Dengan apa ku balas semua ini? Selain bersyukur dan bertekad untuk terus melayani dengan setia dan penuh kerendahan. Segala kemuliaan hanya bagi TUHAN. (RR)