Marwah Parlemen Oleh : Pdt Yanez Titaley, Sekretaris Klasis GPM Masohi

by
Pdt Yanez Titaley. Foto. Dok. Pribadi

Ketika berhadapan dengan persoalan dewasa ini, kadang kita harus kembali belajar dari para Founding Parents. Mereka bukan saja turut mendirikan bangsa ini, tetapi juga meletakkan dasar hidup berdemokrasi di Parlemen.

IJ Kasimo, dalam buku Politik Bermartabat Biografi IJ Kasimo, karangan JB Soedarmanta, perbedaan politik tidak memisahkan persaudaraan dan persahabatan pribadi. “Misalnya, Natsir dari Masyumi mengaku di dalam sidang konstituante ingin menghajar Dipo Nusantara (DN) Aidit, pemimpin PKI, dengan kursi. Hingga selesai sidang, tak ada kursi yang melayang. Malahan, usai sidang, Aidit lebih muda dari Natsir membuatkan segelas kopi dan keduanya berbincang-bincang soal keadaan keluarga masing-masing,” tulis JB Soedarmanta.

Bahkan, kejadian seperti itu acap kali terjadi. Saat Natsir tak ada tumpangan untuk pulang, Aidit sering memboncengkan sepeda dari Pejambon. Rukunnya dan menghargai perbedaan pendapat juga diperlihatkan saat Natsir mengajukan Mosi Integral kemudian dikenal dengan sebutan Mosi Integral Natsir, 3 April 1950. Para tokoh non-Muslim tegak berdiri mendukungnya.

“Menurut Natsir, kepemimpinan adalah seperti tukang kayu yang dapat memanfaatkan semua jenis kayu. Petinggi Masyumi, KH Isa Ansari malah mengajak Aidit dan Nyoto makan sate setelah rapat. Kalau Aidit ke Sukabumi, ia menginap di rumah Kian Ansari,” tulis Soedarmanta.

Bagi Kasimo, Natsir dan kawan-kawan adalah rekan dialog yang konstruktif, demikian pula sebaliknya. Permusuhan dan pertentangan ideologi bukan pertarungan dengan musuh yang harus dilawan secara membabi-buta serta saling membunuh, tetapi dipandang perseteruan biasa dengan saudara-saudara sebangsa dan setanah air. “Karena itu, tidak pantas memperlakukan lawan sebagai musuh, tetapi sebagai sesama saudara dengan membedakan antara urusan politik yang bisa “kalah-menang” dan urusan pribadi diwarnai persaudaraan serta keakraban,” tulisnya.

Para politisi dan negarawan Indonesia masa kini semestinya banyak belajar dari para pendahulu ini. Agama boleh berbeda. Pilihan politik boleh berbeda. Ideologi politik boleh berbeda. Namun, semua itu tidak boleh menghalangi persahabatan dan keinginan yang sama, yakni memberikan yang terbaik untuk bangsa. Jangan hanya ingin duduk di Parlemen. Tetapi teladani juga para pendahulu tentang bagaimana mereka melaksanakan tugas keterwakilan di Parlemen.

Semoga semangat mereka bisa ditiru oleh politikus saat ini, untuk PAMAHANUSA yang bermartabat, relijius dan sejahtera.