Perpustakaan Rijali, Tempat Bermain dan Belajar Baru Anak-anak Pasar Mardika

by
Lurah Rijali, Marlina Haupea mengenalkan sejumlah buku kepada anak-anak sekitar kelurahan yang datang di peresmian Perpustakaan Rijali, Sabtu (21/8/2021). FOTO: Priska Birahy

TERASMALUKU.COM, AMBON, – Kelurahan Rijali Kota Ambon kini telah memiliki perpustakaan yang diperuntukkan bagi anak anak sekitar Pasar Mardika.

Mereka dengan antusias mengikuti acara peresmian, Sabtu (21/8/2021), demi bisa menjawab rasa penasaran dengan ratusan buku di rak perpustakaan.

Lokasi perpustakaan berada persisi di sebelah kantor kelurahan. Tempatnya yang strategis dekat dengan pasar dan permukiman padat penduduk menjadi salah satu alasan pihak kelurahan segera merealisasi perpustakaan.

“Jadi di sini anak anak banyak, dan kita lihat mereka tidak ada tempat beain dan belajar bahkan mereka ikut orang tua kerja di pasar. Kalau ada perpustakaan mereka kan bisa belajar dengan lingkungan yang tepat,” ujar Lurah Rijali, Marlina Haupea kepada wartawan usai peresmian.

Pengadaan buku dan ruangan sudah ada sejak awal 2021. Menurut Marlina, lurah sebelumnya yang menginisiasi penganggaran Perpustakaan.

Sasaran utama perpustakaan yakni anak anak usia di atas 5 tahun yang tinggal di sekitar kantor kelurahan.

Mereka tidak sekadar belajar namun memperkaya wawasan dan bermain permainan yang sesuai dengan usia.

“Setelah beta datang di sini, baru tau kalau ada banyak anak anak yang orang tua tidak mampu sekolahkan jadinya ikut bermain di pasar. Nah, sekarang mereka kan bisa belajar di sini sambil bermain,” Aku kurang yang baru menjabat pada 2021 ini.

Perpustakaan Hatukau Batu Merah juga menjadi salah satu pendukung peresmian perpustakaan Rijali.

Aritha Muhlisa pengurus Perpustakaan Hatukau mengatakan mereka selain melatih SDM, juga menyuplai pengajar lepas.

“Adik adik di sini bisa belajar Bahasa Inggris di perpustakaan. Nanti akan ada anak muda, orang Ambon yang datang langsung dari Kampung Inggris, Pare untuk mengajar. Begitu pun dengan mata pelajaran lain,” jelas Aritha.

Dia berharap warga sekitar tau dan mau mengajak anak anak untuk datang bermain dan belajar di perpustakaan. Minimnya ruang terbuka yang ramah anak di sekitar kelurahan diakuinya jadi faktor yang membatasi pertumbuhan anak.

“Semoga kelurahan lain juga bisa contoh. Ini sesuatu yang keren, kelurahan berani anggarkan bangun perpustakaan. Biasanya kan fokus ke pembangunan fisik,” harapnya. (PRISKA BIRAHY)