Sejarah Gempa dan Tsunami di Indonesia, Kepala BMKG : Paling Sering Maluku

by
Kepala BMKG RI, Dwikorita Karnawati didampingi Plh Sekda Maluku, Sadli Ie saat saat rapat bersama Pemerintah Provinsi Maluku, Kota Ambon dan instansi terkait di ruang rapat lantai enam kantor Gubernur Maluku, Ambon, Kamis (2/9/2021). Foto ": terasmaluku.com

TERASMALUKU.COM,-AMBON-Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati mengungkapkan, sejarah gempabumi dan tsunami di Indonesia, ternyata frekuensi yang paling sering terjadi adalah di Maluku.

Ini berdasarkan hasil riset dari berbagai lembaga termasuk dari BMKG dan beberapa perguruan tinggi.

BACA JUGA : Kepala BMKG RI: Maluku Termasuk Daerah Rawan Gempa dan Tsunami

Paling mematikan kata wanita yang akrab disapa Rita ini terjadi pada tahun 1.899 di Pulau Seram dan tahun 1.674 silam di Ambon.

“Tsunami mematikan di Indonesia dua diantaranya terjadi di Maluku tahun 1.899 dan 1.674. (Tahun) 1.899 karena gempabumi dan tsunami (Pulau) Seram 4.000 ribu orang meninggal kemudian tahun 1.674 itu 2.000 orang lebih meninggal,”bebernya memaparkan sejarah gempa dan tsunami saat rapat bersama Pemerintah Provinsi Maluku, Kota Ambon dan stakeholder terkait di kantor Gubernur Maluku, Ambon, Kamis (2/9/2021) malam.

Dari sejarah dan riset yang dilakukan lanjut dia memaparkan, dilakukan penghitungan matematis perkiraan ketinggian dan waktu tiba tsunami yang pernah terjadi di Maluku yang rata-rata mencapai ketinggian 5 sampai 7 meter di Ambon dalam waktu 5 sampai 7 menit.

Berbeda dengan di Pulau Buru dengan ketinggian yang sama tapi durasinya lebih singkat hanya satu menit yang kemungkinan disebabkan longsor bawah laut terjadi dekat pantai.

Faktor penyebab sehingga bisa terjadi tsunami karena tiga hal, gempa tektonik akibat patahan aktif bergeser, longsor bawah laut dan erupsi gunung api bawah laut. Apalagi di Maluku ini ada enam gunung api yang pernah mengalami erupsi dan sebabkan tsunami.

BACA JUGA : Patahan Aktif Penyebab Gempa di Maluku Ada di Daerah Ini

Data dan hasil analisis ini diperlukan untuk menyusun langkah-langkah mitigasi. “Jadi bukan untuk panik, bukan untuk menakut-nakuti. Ini semua skenario terburuk. Kalau tidak terjadi Alhamdulillah, bisa tidak terjadi tapi perlu bersiap-siap,”sambungnya.

BACA SELANJUTNYA