REFLEKSI 446 Tahun Kota Ambon Oleh : Rudy Rahabeat

by
Pendeta Rudy Rahabeat. FOTO : DOK. PRIBADI

WALIKOTA Ambon Richard Louhenapessy pada suatu kesempatan menyebutkan bahwa Kota Ambon ini bukan milik siapa-siapa tapi milik kita semua. Kota Ambon mesti menjadi kota yang tangguh di tengah ancaman pandemi yang melanda dunia dan kota ini dua tahun terakhir. Pada momen ulang tahun ke-446 kota yang berjulukan Ambon Manise ini sebagai warga kota, ada lima catatan refleksif yang disampaikan, yakni:

Pertama, jadilah kota yang tangguh. Ini merupakan tema perayaan HUT ke-446 kota Ambon. Hal ini menggambarkan tentang sikap dan respons pemerintah dan warga kota terhadap pandemi covid 19. Kita harus keluar dari suasana yang mencekam dan menakutkan, menuju suasana penuh harapan dan ketangguhan. Kita tidak mudah menyerah, tetapi bersama-sama saling menguatkan dan saling memberdayakan.

Kerjasama antara pemerintah dan warga masyarakat perlu terus ditingkatkan dari waktu ke waktu. Sinergi dan kolaborasi multipihak merupakan resep yang mujarab memajukan kota ini ke depan. Sebaliknya, jika kita hanya mengeluh atau saling menyalahkan maka bukannya kemajuan dan ketangguhana yang kita tuai, melainkan kegagalan demi kegagalan akan kita temui. Sebagai warga kota yang baik, tentu saja kita ingin membagi energi positif untuk keluar dari masalah dan meningkatkan imunitas sosial serta ketangguhan diri dan masyarakat.

Kedua, menjadikan kota sebagai rumah bersama yang nyaman. Secara sosio-antropologis kota memiliki kompleksitas persoalan. Selain tingkat keragaman agama dan etnis, terdapat pula berbagai kelas sosial dan persoalan sosial yang bersifat multidimensi. Jika keragaman tidak dikelola secara tepat dan bijak, maka dapat menimbulkan ketegangan bahkan konflik. Sudah cukup banyak pengalaman yang dirasakan dalam rentang 446 tahun kota Ambon, di antaranya konflik bercitarasa agama dan etnis di kota Ambon tahun 1999. Kita semua bersyukur pada saat ini kota Ambon semakin aman dan nyaman. Aktifitas sosial, politik, ekonomi, keagamaan dan sebagainya makin bertumbuh dan berkembang dari waktu ke waktu. Meski kita juga tetap waspada dan mengantisipasi hal-hal yang tidak kita ingingkan bersama. Ini merupakan tugas kita semua, pemerintah dan warga kota serta komponen lainnya.

Ketiga, kota yang inklusif. Apakah kota Ambon telah menjadi kota yang ramah kepada kelompok disabilitas? Berapa banyak fasilitas publik disediakan kepada kaum disabilitas di kota ini? Apakah di ruang-ruang publik telah tersedia aturan dan fasilitas bagi mereka yang selama ini kita sebut “catat” padahal mereka memiliki kemampuan berbeda yang patut kita apresiasi. Sebagai contoh, trotoar yang disediakan bagi kursi roda, ruang khusus bagi anak-anak disibilitas, dll. Sejauhmana sekolah-sekolah di kota ini memberi perhatian kepada siswa disabilitas dan ketersediaan dana yang cukup untuk menolong mereka. Ini tentu sebuah harapan dari warga kita yang merindukan kota ini makin hari makin menjadi kota yang memberi kenyamanan kepada para sahabat disabilitas dimaksud.

Keempat, kota musik yang bernyanyi. Di seputar lapangan Merdeka kota Ambon ada beberapa patung pemain musik. Ini hendak menegaskan citra Ambon sebagai kota musik. Semua orang tidak meragukan bahwa bakat musik dan menyanyi di Ambon sangat melimpah. Warga kota Ambon memiliki talenta seni yang luar biasa. Tentu saja, kita berharap visi dan strategi pengembangan kota musik makin hari makin progresif.

Selain sebagai objek wisata, musik dan lagu dapat pula menjadi wahana memperkuat relasi sosial, menumbuhkan identitas budaya, serta menghubungkan sesama manusia di berbagai tempat. Kota musik yang bernyanyi di sini maksudnya, kota yang tidak hanya memperlihatkan simbol-simbol seni namun menghidupinya dalam gaya hidup warga kota dan pemerintah. Apa yang sudah dirintis dan dihasilkan oleh pemerintah kota saat ini, perlu dirawat dan dikembangkan bersama dalam semangat “ale rasa beta rasa” agar terwujud harapan kita bersama yakni kota musik yang mendunia.

Kelima, kota yang solider. Semua kita sebagai warga kota Ambon mesti memiliki rasa bangga kepada kota ini. Rasa bangga itu disertai dengan rasa cinta dan rasa memiliki kota ini. Dan jika kita memiliki rasa bangga dan cinta kepada kota ini, maka kita akan menyumbangkan sesuatu yang kita miliki demi kemajuan kota ini. Pada lain pihak, pemerintah kota juga diharapkan terus menata kota ini secara holistik, bukan hanya aspek fisik tetapi etik moral spiritual juga.

Di tengah masa pandemi yang sulit ini, kita perlu terus menumbuhkan solidaritas lintas agama dan etnis. Etika kepedulian mesti terus dikembangkan sehingga kita dapat saling menopang satu lain. Walau kecenderungan individualisme dan konsumtifisme menjadi trend yang ada di masyarakat kota, tapi itu sama sekali jangan sampai menghilangkan rasa solider dan peduli antar warga. Justru melalui momen ulang tahun ini, solidaritas warga kota perlu diperkuat dan diarahkan untuk kemaslahatan bersama.

Selamat Hari Jadi ke-446 kota Ambon manise. Teruslah menjadi kota yang tangguh dan diberkati. Hadirkan damai dan sejahtera bagi semua. Karena Ambon adalah milik kita semua. Refleksi ini sekaligus salah satu tanda terima kasih dan apresiasi kepada Sekretaris Kota Ambon, Drs Tony Latuheru yang akan memasuki masa pensiun akhir tahun ini, setelah mengabdi di kota ini, hampir empat puluh tahun, dan menjadi Sekretaris Kota Ambon hampir sepuluh tahun. (RR)