Antisipasi OPT Padi Pada Musim Kemarau Basah di Provinsi Maluku

by
Edwen D Waas,staf peneliti pada BPTP Maluku. FOTO : DOK.PRIBADI

Musim tanam padi di Maluku periode Oktober – Desember 2021  ini sudah mulai tiba. Memasuki musim kemarau (MK) tahun ini, para petani mulai sibuk mempersiapkan lahan untuk segera mengolah sawah dan menanam padi. Petani selalu bersemangat dengan penuh harapan untuk memperoleh hasil panen yang melimpah. Keberhasilan dalam usaha pertanian sangat menentukan kualitas hidup masayarakat petani.

Berdasarkan prediksi Kalender Tanam (KATAM) versi 2.7 untuk Maluku, potensi hambatan budidaya padi masih didominasi oleh serangan OPT (Organise Penggangu Tanaman). Berkembangnya OPT tidak jarang menyebabkan tanaman yang dibudidayakan mengalami puso atau gagal panen. Berbekal dari pengalamam dimusim-musim sebelumnya, diharapkan para petani dapat belajar mengingat irama atau gejolak alam yang sering muncul di lahan pertaniannya.  Oleh karena itu, perlu diwaspadai perkembangan OPT utama pada di musim kemarau ini, apalagi sumber OPT dari musim sebelumnya berkembang dengan intensitas yang tinggi, hal ini diduga karena terjadi anomali iklim yang ditunjukan dengan musim kemarau basah.

Perubahan irama iklim yang terjadi semakin sulit diramalkan, kondisi semacam ini secara langsung maupun tidak langsung berdampak pada perubahan perilaku organisme yang berkembang di pertanaman padi. Ketidak normalan iklim ini berakibat pula pada meningkatnya gangguan oleh berbagai organisme pada tanaman padi. Kondisi musim kemarau dengan curah hujan yang masih tinggi membuat peluang besar terhadap berkembangnya organisme pengganggu tumbuhan. Hama wereng batang coklat, penggerek batang padi kuning, dan tikus masih menjadi hama utama, karena serangannya sering menyebabkan tanaman padi menjadi puso.

Pada musim kemarau 2021 ini menurut pengakuan petani di beberapa wilayah, hama wereng coklat dan wereng hijau sebagai vektor tungro berkembang pesat di beberapa daerah sentra produksi padi mengakibatkan produksi padi yang diperoleh hanya berkisar 1,5-2 ton/ha. Hal ini perlu diwaspadai oleh petani untuk mempersiapkan pertanaman musim hujan, karena sumber wereng coklat masih banyak terdapat pada tanaman padi yang dipanen.

Di beberapa daerah di Maluku yang airnya selalu tersedia, petani berusaha meningkatkan indeks pertanaman (IP 300) dengan menanam padi unggul berumur pendek, sehingga setahun dapat menanam padi 3 kali. Produksi padi meningkat dengan pola tanam tersebut, tetapi pola tanam padi-padi-palawija semakin ditinggalkan. Petani tidak menyadari bahwa cara budidaya semacam ini membuat makanan bagi serangga hama padi selalu tersedia sepanjang tahun. Apalagi, bila terjadi pada hamparan sawah dengan pola tanam yang tidak serempak. Kondisi tersebut di atas mendorong peningkatan dengan pesat populasi dan serangan hama karena siklus hidup hama tidak putus.

Agroekosistem dan Keseimbangan Alam

Suatu serangga berkembang menjadi hama bila telah menimbulkan kerusakan yang menyebabkan kerugian. Pergeseran status serangga menjadi hama pada rantai kehidupan sangat terkait oleh kegiatan manusia dalam menerapkan praktik teknologi budidaya dalam suatu agroekosistem.  Oleh karena itu, manusialah yang menempatkan suatu jenis serangga dalam kategori hama, baik secara permanen maupun temporal. Manusia menganggap serangga sebagai hama, karena ada kesamaan kebutuhan antara manusia dan serangga dalam  hal makanan.

Faktor lingkungan amat menentukan keberadaan suatu spesies serangga pada tempat tertentu. Disamping ketersediaan makanan, hubungan suatu spesies organisme dengan organisme lainnya juga sangat menentukan kelangsungan hidupnya.  Prinsip ekologi adalah mengatur hubungan atau interaksi antara serangga dengan serangga atau dengan organisme lain dan juga manusia. Perkembangan teknologi yang pesat mendorong manusia untuk semakin jauh memodifikasi keterkaitan interaksi antar organisme dalam sistem kehidupan dalam lingkup keseimbangan alam pertanian.

Manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, dengan sengaja mengubah ekosistem alami menjadi ekosistem baru. Ekosistem baru yang diciptakan khusus untuk kepentingan pertanian disebut sebagai agroekosistem. Dalam agroekosistem komponennya lebih sederhana, biasanya terdiri dari populasi tanaman pertanian seragam (monokultur). Misalnya di sawah hanya terdapat tanaman padi saja. Sehingga keanekaragaman tanaman dalam agroekosistem sangat kecil, dan interaksi antar species organisme yang menghuninya menjadi sangat sederhana atau tidak stabil.

Dengan menyederhanakan ekosistem, tanpa disadari bahwa manusia sebenarnya telah mengubah keseimbangan alam. Keadaan ini dapat menyebabkan spesies serangga yang cocok dengan lingkungannya dapat bertambah dengan cepat. Serangga tersebut mempunyai tingkat reproduksi yang cepat dengan waktu generasi yang pendek. Sehingga serangga tersebut mempunyai potensi berkembang dalam waktu singkat menjadi pengganggu dengan merusak tanaman budidaya, karena hilang faktor pengendalinya secara alami.

Pada kondisi keseimbangan, suatu serangga sebagai salah satu komponen dalam ekosistem populasinya selalu dikendalikan oleh berbagai faktor lingkungan sehingga tidak mudah terjadi  peledakan populasi. Pada ekosistem alami, secara bersamaan faktor-faktor sebagai komponen lingkungan punya peranan dalam melakukan pengendalian secara alami terhadap suatu serangga. Musuh alami yang umum adalah predator, parasitoid, dan patogen punya peluang besar untuk berkembang

Program pengendalian suatu hama, umumnya hanya dilakukan penekanan terhadap populasi serangga hama saja, belum berdasarkan konsep sistem kehidupan. Pendekatan terhadap sistem kehidupan dapat membantu mengembangkan kerangka pemikiran pengendalian hama yang konsepsional. Rekayasa ekologi dengan meningkatkan keragaman genetik tanaman di sekitar lahan pertanian sangat perlu dikembangkan. Berbagai tanaman dapat menyediakan makanan maupun sebagai reservoir tempat berlindung bagi serangga netral dan predator.   Keanekaragaman tanaman yang tinggi diharapkan meningkatkan keanegaragaman serangga yang menguntungkan, sehingga dapat menjaga sistem keseimbangan secara alami.

  Pengendalian Hama

Populasi serangga hama ditekan dengan menggunakan insektisida oleh manusia sudah sejak lama. Seiring dengan berjalannya waktu, semakin banyak insektisida yang digunakan di lahan pertanian baik jenis maupun dosisnya, namun demikian kerusakan tanaman akibat serangan hama tidak kunjung berhenti.  Banyak jenis insektisida yang beredar di lapangan menyebabkan semakin banyak pengaruh samping penggunaan insektisida, seperti:

  • Resistensi hama terhadap insektisida.
  • Resurgensi hama, dan
  • Pencemaran lingkungan.

Resistensi hama terhadap insektisida tertentu merupakan masalah yang umum terjadi di lapangan. Resistensi juga menyebabkan terjadinya resurgensi, sehingga hama dapat berkembang dengan baik dan populasinya dapat berlipat (pest outbreaks). Resistensi merupakan salah satu fenomena evolusi. Serangga hama mengadakan adaptasi agar dapat terus bertahan hidup di lingkungannya walaupun ada tekanan, termasuk penggunaan insektisida. Resistensi serangga hama telah terjadi, terhadap hampir semua jenis insektisida.  Berdasarkan hal tersebut di atas, perlu dikembangkan konsep pengendalian hama yang berlandaskan prinsip-prinsip ekologi misalnya pengendalian hama terpadu (PHT).

Penulis adalah : Edwen Waas, Peneliti BPTP Maluku