Jeritan Pilu Tiga Batu Oleh: Rudy Rahabeat, Pebelajar Antropologi

by

“Batu Badaong batu la batangke buka mulutmu telankan beta. Guna la apa beta hidup begini. Hidup begini terlalu susah’. Kutipan lagu ini dapat menggambarkan jeritan pilu warga tiga dusun di negeri Waai Kecamatan Salahutu Kabupaten Maluku Tengah. Ketiga dusun berlabel batu itu yakni dusun Ujung Batu, Batu Dua dan Batu Naga.

Malam itu obor-obor menyala sepanjang jalan sekira 3 kilometer dari arah jalan raya Waai-Liang menuju dusun Batu Dua. Ratusan warga berkumpul di pelataran Masjid Al Maun Dusun Batu Dua. Mereka datang untuk Zikir, Doa dan Bacarita Kampung. Cerita tentang apa? Doa untuk apa? Zikir karena apa?

Begini ceritanya. Dalam rangka pembangunan. Ya, dalam rangka pembangunan Ambon New Port yang beririsan dengan mega proyek Lumbung Ikan Nasional (LIN) maka warga di ketiga dusun tersebut terancam tergusur. Mereka mungkin akan direlokasi ke tempat lain. Disebut mungkin karena sedang berlangasung proses negosiasi antara warga dan pemerintah.

Ustad Arsal Tuasikal dalam Tausiah malam itu mengingatkan pemerintah untuk benar-benar memperhatikan nasib warga tiga dusun itu. “Harus ada studi kelayakan yang tepat, jika relokasi apa jaminan bahwa mereka tetap memperoleh penghidupan yang layak.

Apalagi mata pencaharian mereka sebagian besar sebagai nelayan”ungkap sang Ustad keren ini. Ia berharap pemerintah tingkat kabupaten maupun provinsi dapat memperhatikan keberadaan warga tiga dusun ini dengan baik. Ia juga mengajak umat untuk sabar dan terus berdoa dengan penuh tawakal.

Untuk diketahui tiga warga dusun ini sudah puluhan tahun tinggal di Negeri Waai. Mereka tinggal di pesisir pantai dan mengandalkan laut sebagai sumber pendapatan. Leluhur mereka berasal dari Buton Sulawesi Tenggara dan sebagian dari mereka lahir dan besar di Ambon. Ini fenomena migrasi orang Buton yang sudah jamak terjadi puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu. Mereka merupakan komunitas perantau yang tanggguh dan militan memperjuangkan hidup dan masa depan di bumi Indonesia.

Malam itu penyair Eko Poceratu tampil garang. Lelaki mungil kabaresi itu membacakan puisi profetik tentang pergulatan kapitalisme dan nasib rakyat kecil. “Ibu kita tidak cantik lagi. Ia telah diperkosa oleh tangan-tangan jahat. Hutan kita menangis, lautan tercemar, ikan-ikan mati. Siapa mau peduli?” kata-kata ini meluncur deras dari peserta residensi sastra di Belanda itu. Tak ketinggalan Opa Rudy Fofid tampil dengan puisi liris “Somba, Somba, Waopu”. Jurnalis senior itu membacakan kata-kata liris setelah sebelumnya Andi Fihriyani Firmansyah selaku Tim 17 menyampaikan sambutan selamat datang.

Hadir malam itu pula Yanny Salampessy dari Gerakan Sayang Maluku (GSM) bersama penasihat GSM Bung Doddy Latuhahary bersama istri. Ketua Panitia Syarifuddin Tomia memberi laporan pendek.

Anak-anak TPQ Batu Dua membawakan tarian, anak-anak remaja tiga dusun menari sambil diiringi lagu “Tobat” serta pemuda tiga dusun menyanyikan lagu Maluku Tanah Pusaka dan Gandong. Suasana malam itu sangat mempesona. Ada doa dan zikir, ada puisi dan lagu, ada harapan dan semangat.

Tapi ada pula kecemasan dan ketakutan. Keraguan dan kesangsian. Bagaikan malam yang kian turun, ombak-ombak memukul batu karang di hidup warga tiga dusun ini sedang berhadapan dengan tantangan dan pergumulan yang berat.

Saya teringat buku Peter Berger yang berjudul Piramada Kurban Manusia di dalamnya berisi 35 tesis terkait pembangunan dan problematikanya. Terkadang untuk sebuah piramida yang indah dan megah, ribuan korban manusia meninggal sia-sia. Pada tesis ke lima belas Berger menulis: Mereka yang merupakan sasaran kebijakan politik harus mempunyai kesempatan untuk berpartisipasi, bukan saja dalam mengambil keputusan-keputusan khusus, tetapi juga dalam merumuskan definisi-definisi situasi yang merupakan dasar dalam mengambil keputusan-keputusan tadi, partisipasi ini bisa disebut partisipasi kognitif”. Tesis ini hendak menegaskan tentang pentingnya memperhatingkan dan memperhitungkan nilai-nilai humanisme dalam pembangunan apapun.

Malam itu cuaca cukup cerah, setelah sebelumnya hujan turun mengguyur ketiga dusun itu. Anak-anak kecil masih ceria, walau mereka mungkin tidak tahu apa yang akan terjadi kelak. Saya bertanya kepada seorang Bapak Tua tentang perasaannya. Ia hanya tersenyum dan berkata singkat “Semoga pemerintah tetap perhatian nasib kami rakyat kecil”. Ia memalingkan wajah ke arah laut. Ombak masih berdebur, malam kian pekat. Saya hanya merenung sembari membatin “Tenanglah Bapa, esok matahari akan terbit, masih ada harapan dan masa depan”.

Mobil yang mengantar kami pulang mengoleng di jalan yang berlubang. Penyair Eko Saputra yang duduk di depan terus bercerita sembari sesekali tertawa. Ya hidup memang harus ditertawakan. Ketika orang besar menindas orang kecil, jurang kesenjangan makin lebar antar yang kaya dan miskin, tangisan dan air mata anak-anak kecil, maka mungkin lebih baik terus tertawa, walau serasa kecut dan penuh nestapa. Sebuah tertawa yang sesungguhnya adalah perlawanan. Salam dan doa buat warga tiga dusun di bebatuan cadas. Saya akhir renungan ini dengan sebuah puisi yang ditulis dalam perjalanan ke lokasi kegiatan.

DOA SEORANG HAMBA.
Ya Sang Khalik semesta kepadaMu kami bersujud dan menyembah. KepadaMu, kami bawa hati kami yang telanjang.
Kami menangis di hadiratMu membawa beban hidup kami. Sebab kami percaya Engkau Maha Adil dan Maha Rahim. Kuatkan kami menghadapi badai dan gelombang hidup ini.

Mampukan kami mengarungi samudera nestapa sembari percaya Engkau tak pernah meninggalkan kami. Kirimkan orang-orang bak untuk berjuang bersama demi menghadirkan kemaslahatan bersama. Orang-orang yang peduli kepada orang-orang kecil nan sederhana. Kuatkan kami para musafir ini agar hidup kami tetap bermakna. BagiMu, bagi sesama dan semesta PadaMu kami bersujud dan bersyukur !
Batu Dua Negeri Waai, malam ini (RR)