Dari Ambon, Literasi Kebencanaan Digaungkan Lewat Seminar Internasional Demi Kurangi Risiko Bencana

by
Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB Raditya Jati (tengah) bersama stakeholder di Maluku saat Seminar Internasional Literasi Sejarah Kebencanaan dalam rangka bulan Pengurangan Resiko Bencana di Amaris Hotel Ambon, Rabu (13/10/2021).

TERASMALUKU.COM,-AMBON-Pertama kalinya seminar internasional literasi sejarah kebencanaan dilaksanakan dan Ambon diplot sebagai tuan rumah seminar yang berlangsung secara luring atau tatap muka terbatas maupun secara daring.

Seminar Internasional literasi sejarah kebencanaan merupakan rangkaian kegiatan Peringatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Tahun 2021 yang digagas BNPB dan BPBD Provinsi Maluku .

Kegiatan ini juga bekerjasama dengan stakeholder terkait seperti Perpusatakan Nasional, kantor Arsip Nasional dan juga didukung Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi, sejumlah universitas dan perguruan tinggi, Ikatan Ahli Bencana Indonesia dengan menghadirkan para pakar baik dalam negeri maupun luar negeri.

BACA JUGA :

Seminar ini berlangsungselama dua hari, Rabu (13/10/2021) hingga Kamis (14/10/2021)┬ádengan mengusung tema “Literasi Sejarah Kebencanaan sebagai Warisan Ketangguhan Masa Lalu, Kini dan Nanti”.

 

“Hari ini kita pertama kali selenggarakan seminar internasional tentang literasi kebencanaan di Ambon dalam rangka Peringatan Pengurangan Risiko Bencana Dunia yang diperingati setiap 13 Oktober dan Bulan Peringatan Pengurangan Risiko Bencana yang puncak kegiatannya pada 20 Oktober,”kata Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB, Raditya Jati disela-sela Seminar yang dipusatkan di Hotel Amaris, Ambon, Rabu (13/10/2021).

Literasi sejarah kebencanaan sangat penting dengan tujuan untuk pengurangan risiko bencana.

Melalui sejarah kebencanaan kata dia, masyarakat didorong miliki pemahaman tentang kebencanaan sehingga langkah-langkah apa yang harus diambil sebelum, saat dan sesudah bencana terjadi demi mengurangi risiko.

Terlebih lagi bagi yang berada di daerah yang risiko tinggi atau rawan. Dan antisipasi melalui mitigasi menjadi langkah utama.

“PR kita bersama adalah bagaimana masyarakat yang hidup di (daerah) risiko tinggi atau rawan bencana agar mereka tahu apa saja prioritas. Dengan memahami risiko itu masyarakat sudah bisa paham upaya untuk menyelamatkan dirinya. Bagaimana kesiapsiagaan mereka, kesiapan mereka, dimana mereka harus evakuasi begitu ada potensi bencana,”sambungnya.

Apalagi Indonesia secara umum dan Maluku secara khusus termasuk dalam wilayah Ring of Fire atau memiliki potensi kebencanaan yang cukup tinggi akibat proses geologi.

Peristiwa-peristiwa bencana alam yang terjadi dalam beberapa tahun belakangan ini seperti tsunami Aceh, tsunami dan likuifaksi di Palu, gempabumi di NTB dan Jogja maupun sejarah lampau peristiwa bencana alam di Indonesia termasuk di Maluku.

“Paling penting sekarang masyarakat harus tahu mereka ada dimana, risikonya apa dan apa yang harus dilakukan dan strategi apa yang harus dilakukan kalau itu terjadi. Dengan adanya informasi ini masyarakat akan tahu dan mulai belajar, belajar dari sejarah,”sambungnya.

Terkait ini juga, BNPB juga menyediakan fortal informasi data dalam bentuk website dan aplikasi yang disebut inarisk.bnpb.go.id yang dapat diakses masyarakat untuk menambah wawasan tentang kebencanaan dan langkah apa yang perlu dilakukan saat bencana terjadi.

Terlebih hal paling utama dalam pengurangan risiko akibat bencana alam adalah antisipasi.

Di lain sisi, daerah juga dapat merumuskan perencanaan pengurangan risiko bencana yang tertuang dalam RPJMD dan teranggarkan dalam APBD.

Sementara itu Gubernur Maluku, Murad Ismail menyambut baik pelaksanaan Seminar Internasional Literasi Sejarah Kebencanaan ini dan diharapkan dapat memberikan informasi dan wawasan bagi semua pihak di Maluku.

Kegiatan ini menjadi momentum perkembangan literasi di bumi raja-raja karena pengetahuan tentang sejarah kebencanaan ini masih minim di kalangan masyarakat

Karena selain miliki keindahan panorama dan kaya sumber daya alam, namun juga miliki potensi bencana alam yang tak kalah beragam.

Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB Raditya Jati memberikan cenderamata kepada Staf Ahli Gubernur Maluku Bidang Ekonomi dan Pembangunan Margareth Samson di Seminar Internasional Literasi Sejarah Kebencanaan di Ambon (13/10/2021).

 

“Kami menanti dukungan dari semua pihak terkait baik dari BNPB, Perpustakan Nasional, kantor Arsip Nasional, Akademisi dan pihak terkait lainnya untuk mewujudkan ketangguhan bencana dimuai dari literasi. Kami berharap sejarah kebencanaan di masa lampau dapat diterjemahkan dan memenuhi ruang perpusatakan kami disini sehingga kami dan generasi penerus di bumi raja-raja dapat mengetahui sejarah tentang bencana,”kata Gubernur melalui sambutan tertulis yang dibacakan Staf Ahli Gubernur Maluku Bidang Pembangunan Ekonomi dan Keuangan Margareth Samson.

Gubernur juga berharap masukan dari berbagai pihak berdasarkan sejarah kebencanaan dapat diberikan agar Pemda kebijakan yang diambil dapat tetap sasaran. (Ruzady)