Banyak Data Baru Terkuak Lewat Seminar Sejarah Kebencanaan, BNPB Bakal Buat Pusat Kajian

by
Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB, Raditya Jati. Foto : Terasmaluku.com

TERASMALUKU.COM,-AMBON-Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB Raditya Jati mengungkapkan banyak data baru terkait sejarah peristiwa bencana di Indonesia yang terkuak lewat Seminar Internasional Literasi Sejarah Kebencanaan.

Apalagi dalam seminar sejarah kebencanaan Indonesia yang digelar BNPB sejak Rabu kemarin hingga Kamis (14/10/2021) itu melibatkan berbagai pihak termasuk akademisi maupun para ahli baik dari dalam negeri maupun luar negeri yang melakukan penelitian dan kajian.

“Beberapa akademisi punya temuan dan kita baru tahu mereka punya hasil kajian yang selama ini kita tidak tahu. Kita berhasil menghimpun sekitar 100 data baru secara langsung, dan kita berhasil mengidentifikasi 40.000 data baru terkait dengan pembelajaran, pengetahuan sejarah kebencanaan,”kata Raditya didampingi Mohd. Robi Amri, Perencanaan Ahli Madya Direktorat Sistem Penanggulan Bencana BNPB di Ambon, Kamis.

Nantinya BNPB bersama Pepustakaan Nasional maupun kantor Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) akan kolaborasi membuat arsip literasi sejarah kebencanaan dari data yang dihimpun ini menjadi arsip nasional dan tidak hanya berada di luar negeri agar mudah diakses masyarakat Indonesia untuk dijadikan bahan edukasi dan akan dirangkum dalam Pusat Kajian atau Center of Excellent BNPB.

“Tinggal ditata agar mudah diakses bagi peneliti, pelajar, masyarakat, media dan pengambil kebijakan,”sambungnya.

Di lain sisi, dengan adanya arsip sejarah kebencanaan ini juga, masyarakat jadi mengetahui dimana mereka tinggal, apa potensi rawan atau risiko yang dihadapi dan seperti apa mitigasi bencana yang perlu disiapkan.

Karena karakteristik masing-masing wilayah bahkan pulau berbeda sehingga risiko atau tingkat kerawanan pun berbeda sehingga cara penanggulangan dalam mengurangi risiko pun berbeda.

Selain jadi bahan edukasi bagi masyarakat, data-data ini juga bisa dijadikan acuan atau gambaran bagi pengambil kebijakan dalam merumuskan langkah-langkah penanganan kebencanaan di masa depan dengan belajar dari keberhasilan penanganan bencana di masa lalu melalui koordinasi den kolaborasi dengan berbagai pihak.

“Harapan kita bukan saja mengedukasi masyarakat tapi juga pengambil kebijakan. Mereka belajar dari keberhasilan pengelolaan bencana di masa lalu untuk merancang pengelolaan kebencanaan di masa depan,”imbuhnya.

Raditya juga menyatakan seminar literasi sejarah kebencanaan ini tidak hanya terhenti sampai disini saja.

Tapi bisa berjalan terus kedepannya demi memperkaya pengetahuan tentang kebencanaan demi terwujudnya Bangsa Indonesia yang tangguh dalam kesiapsiagaan terhadap bencana di masa depan

“Dengan harapan tonggak sejarah ini menjadi awal untuk saling bangun ketangguhan bangsa ini, dari Ambon ini kita perkenakan dan akan terus kita gaungkan terus kedepan dengan harapan 2045 kita wujudkan Indonesia Tangguh Bencana didorong dari data literasi sejarah kebencanaan,”tandasnya.

Gubernur Maluku, Murad Ismail berharap BNPB bersama Perpusnas maupun ANRI dan pihak-pihak terkait membantu Pemda dalam hal literasi kebencanaan di Maluku.

“Jika ada literatur, naskah kuno maupun catatan sejarah lainnya juga dapat menajdi bagian dari perpusatakan daerah,”harap Gubernur melalui sambutan yang dibacakan Asisten II Administrasi Umum Setda Provinsi Maluku, Habiba Saimima saat menutup Seminar Internasional Literasi Sejarah Kebencanaan, Kamis. (Ruzady)