Dari Ambon, BNPB Gelar FGD Untuk Menyusun Laporan Kerangka Kerja Sendai Pengurangan Risiko Bencana

by
Direktur Pengembangan Strategi Penanggulangan Bencana BNPB, Agus Wibowo. Foto : terasmaluku.com

TERASMALUKU.COM,-AMBON-BNPB melalui Direktorat Pengembangan Strategi Penanggulangan Bencana (PB) bahas capaian Sendai Framework for Disaster Risk Reduction (SFDRR) atau Kerangka Kerja Sendai untuk Pengurangan Risiko Bencana.

Direktur Pengembangan Strategi Penanggulangan Bencana BNPB, Agus Wibowo menjelaskan SFDRR ini merupakan komitmen internasional dari negara-negara di dunia terkait penanggulangan kebencanaan.

“Kita disini gelar FGD tentang laporan SFDRR, kerangka global untuk pengurangan risiko bencana yang disepakati pada waktu UNBRR Tahun 2015 di Jepang. Kerangka sendai ini ada tujuh target yang akan kita capai,”kata Wibowo saat diwawancarai usai Focus Grup Discussion (FGD) Capaian SFDRR Strategi PRB Tingkat Lokal di Ambon, Senin (18/10/2021).

Kegiatan ini juga rangkaian dari Bulan Peringatan Risiko Bencana (PRB) Tahun 2021 yang dipusatkan di Ambon, Maluku.

Tujuh target yang jadi kerangka SFDRR ini yaitu mengurangi angka kematian akibat bencana, mengurangi jumlah penduduk terdampak bencana, mengurangi jumlah kerugian kaibat bencana dan mengurangi kerusakan infrastruktur akibat bencana.

Kemudian meningkatkan Strategi Pengurangan Risiko Bencana baik itu Nasional maupun Lokal.

Strategi Pengurangan Risiko Bencana secara nasional sudah ada RIPB atau Rencana Induk Penanggulangan Bencana 2020-2044 yaitu rencana jangka panjangnya yaitu Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 5 tahunan dan diterjemahkan di tingkat Provinsi dan kabupaten/kota juga.

Kemudian target keenam dari SFDRR yaitu meningkatkan kerjasama internasional dengan negara-negara yang sudah pengalaman dalam penanggulangan bencana agar bisa diterapkan di Indonesia.

Dan target ketujuh yaitu meningkatkan ketersediaan informasi dan Early Warning System (EWS) adalah suatu sistem peringatan/deteksi dini baik itu berupa penambahan alat-alat Ewarly warning System (EWS) gempa misalnya sirine, broadcast informasi seperti SMS supaya masyarakat sebelum terjadi bencana bisa tahu informasi agar lebih siap menyelamatkan diri.

“Itu adalah tujuh target yang kita sepakati secara internasional dan saat ini kita sedang menyusun laporannya. Ini laporan yang kelima yang kita susun dari 2015 sampai 2021 bagaimana capaian Indonesia dalam tujuh target tersebut, bagaimana kematian akibat bencana, kita naik atau kita turun,”kata Wibow kepada wartawan.

Nantinya laporan capaian SFDRR ini akan dipresentasikan Indonesia pada Global Platform for Disaster Risk Reduction Tahun 2022 (GP2022) di Bali dimana Indonesia menjadi tuan rumah.

Global Platform for Disaster Risk Reduction merupakan forum 2 tahunan yang dibentuk PBB United Nations Office for disaster risk reduction untuk mendiskusikan perkembangan dan tren terbaru dalam penanganan kebencanaan.

“Jadi ini adalah ajang pertemuan seluruh dunia untuk membahas kerangka SFDRR dan akan dilaporkan disitu, apakah sudah bagus, ataukah sedang ataukah masih kurang, kurangnya dimana, maakahnya dimana supaya nantinya kita bisa bekerjsa sama dengan negara-negara lain,”sambungnya.

Tidak hanya itu saja, dalam SFDRR ini juga ada empat aksi hasil kesepakatan.

Yaitu memahami risiko bencana. Artinya diharapkan seluruh masyarakat Indoensia paham apa itu bencana, bagaiaman cara mengatasi dan ciri-cirinya seperti apa.

Kemudian memperkuat tata kelola risiko bencana dan manajemen risiko bencana bak dari disisi tata kelolanya, uandang-undangnya, SDM, infrastruktur pendanaan yang diperkuat.

Selanjutnya investasi dalam pengurangan risiko bencana untuk ketangguhan.

“Seperti investasi dalam menyekolahkan SDM, investasi untuk membangun waduk untuk kendalikan banjir, investasi menanam pohon dan sebagai terutama dalam penanggulangan bencana,”terangnya.

Dan meningkatkan kesiapsiagaan bencana untuk respon yang efektif dan untuk build back better dalam pemulihan, rehabilitasi dan rekonstruksi.

“Artinya perlu ditingkatkan kesiapsiagaan supaya ketika terjadi bencana bisa direspon dengan cepat,”ujarnya.

Terkait hal ini kata Wibowo, Indonesia sudah punya Kepres Nomor 21 Tahun 2021 tentang dana cadangan sebesar Rp. 7 triliun sebagai modal awal untuk keperluan penanggulangan bencana, baik itu pra bencana, saat bencana dan pasca bencana.

“Sehingga saat terjadi bencana kita siap menghadapinya dengan target tujuh (point) diatas, itulah kita nyusun laporan itu sekarang ini,”pungkasnya.

Sejauh ini dari laporan SFDRR sebelumnya, kata Wibowo menutup capaian Indonesia termasuk bagus. (Ruzady)