BNPB Edukasi Unsur Pentahelix di Maluku, Cara Nilai Ketahanan Bangunan Atas Bahaya Gempabumi

by
Analis Kebijakan Ahli Madya pada Direktorat Mitigasi Bencana BNPB, Radito Pramono Susilo saat diwawancarai, Senin (18/10/2021). Foto : terasmaluku.com

TERASMALUKU.COM,-AMBON-BNPB mengedukasi cara menilai tingkat ketahanan bangunan terhadap gempabumi bagi unsur pentahelix atau multi pihak di Maluku. 

Pentahelix terdiri dari unsur pemerintah, dunia usaha, masyarakat dan komunitas maupun media.

Edukasi ini dilakukan melalui Bimbingan Teknis Penilaian Bangunan sebagai Upaya Mitigasi Bencana melalui Rancang Bangun Tahan Gempa yang digelar di Ambon selama dua hari sejak Minggu (17/10/2021) hingga Senin (18/10/2021).

Kegiatan ini merupakan rangkaian peringatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Tahun 2021 yang dipusatkan di Ambon.

Di hari kedua Bimtek, peserta Bimtek terjun ke lapangan mendata tepatnya di kawasan Silale, Kecamatan Nusaniwe, Ambon setelah sehari sebelumnya diberi materi.

Bimtek hari pertama, Minggu (17/10/2021). Foto : terasmaluku.com

Peserta Bimtek berjumlah 30 orang ini dibagi dalam lima tim lakukan penilaian 25 bangunan rumah warga.

Analis Kebijakan Ahli Madya pada Direktorat Mitigasi Bencana BNPB, Radito Pramono Susilo menjelaskan, kegiatan ini sebagai bagian dari upaya pengurangan risiko bencana. Antusias peserta ikuti Bimtek di Ambon ini sangat luar biasa.

Dari penilaian di lapangan ini, nanti data yang dikumpulkan akan dimasukkan dalam aplikasi ACeBS pada aplikasi inaRISK Personal yang dikembangkan BNPB untuk mengetahui kerentanan bangunan terhadap gempabumi.

Aplikasi ini bisa digunakan juga oleh masyarakat secara online dengan cara mengunduh Aplikasi inaRISK Personal, karena ACeBS ada di dalamnya. Saat ini, ACeBS baru difokuskan untuk penilaian bangunan struktur beton 2 sampai 4 lantai.

Fitur terbaru dari aplikasi ACeBS ini akan diluncurkan pada puncak PRB di Ambon pada Rabu (20/10/2021). “Sementara ini kami masih fokus pada ancaman gempabumi dan masih bersifat edukatif,” kata Radito saat diwawancarai usai Bimtek.

Usai Bimtek ini, peserta diharapkan dapat melakukan edukasinya kepada masyarakat. “Minimal kepada keluarga dan lingkungan sekitar, semakin banyak orang yang paham maka kita bisa mendapatkan setidaknya gambaran bagaimana kerentanan bangunan khususnya di daerah rawan gempabumi,”sambungnya.

Edukasi ini sangat penting untuk Maluku karena termasuk wilayah yang rentan terhadap ancaman gempabumi. “Betul, terutama untuk bangunan-bangunan yang sudah didirikan,”ujarnya.

Kedepannya, BNPB akan terus mengupgrade agar aplikasi ACeBS juga bisa menilai bangunan kayu maupun baja.

“Kami masih berproses untuk ke arah itu tanpa mengesampingkan kondisi sosial masyarakat, minimal mereka tahu sebenarnya bangunan tempat tinggal yang aman untuk didirikan itu seperti apa,”tandasnya. (Ruzady)