Lolos dari Jerat Bos Karaoke di Kota Dobo, Perempuan Korban Trafficking Berhasil Pulang ke Daerahnya

by
Sheila (nama samaran) korban Trafficking didampingi Lusi Peilouw Wakil Ketua P2TP2A Maluku

TERASMALUKU.COM,-AMBON-Perempuan berwajah manis, berhidung bangir, berkulit putih mulus itu, duduk santai menikmati secangkir es teh lemon di Terascoffee Soabali di Kota Ambon.

Dia baru saja menjejak kakinya kembali ke kota transit ini dari Kota Dobo, Ibukota Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku, Sabtu (23/10/2021)

Setelah lebih dari 10 bulan bekerja di salah satu karaoke berinisial P, dia tampak lega, banyak senyum dan bercanda.

Wajahnya  khas perempuan Jawa, namun dengan Bahasa Indonesia yang fasih dan jelas tanpa medok Jawa yang kentara. Terlihat terpelajar namun siapa nyana dia lulusan SMP. ” Saya cuma lulus SMP bu, tidak ada uang buat sekolah, kami dari keluarga miskin,” ujarnya.

Wajah dan bentuk tubuhnya yang aduhai ternyata jadi incaran para calo human trafficking hingga akhirnya dia terdampar di kabupaten terluar di Maluku itu.

Sebut saja Sheila, dia mengaku berusia 24 tahun, kepada penulis dia berkisah perjalanan panjang diawali dari kota kelahirannya di Tulung Agung, Jawa Timur.

Pandemi Covid-19 melanda Indonesia di 2020 menyebabkan kondisi ekonominya sulit. Ibu satu anak yang masih berusia 4 tahun ini, terpaksa bekerja apa saja agar bisa menghidupi keluarganya.

Dia sulung dan harus membiayai sekolah adiknya dan putranya, serta kedua orang tua yang sudah lanjut usia.

Mulai dari berdagang roti di alun-alun hingga menjadi pelayan café dilakoninya. Motifnya sederhana bisa menyambung hidup.

BACA SELANJUTNYA

Hingga suatu saat diakhir tahun 2020, ia terbujuk rayuan seorang calo tenaga kerja, bersama empat  kawannya yang lain diimingi-imingi gaji Rp. 8 juta perbulan jika bersedia bekerja sebagai pelayan café di Kota Ambon.

‘’Kami di Jawa tidak paham dimana itu Kota Dobo, kami hanya tahu akan dibawa ke Ambon, Kota Ambon masih dikenal di Jawa,’’ ungkapnya.

Hingga akhirnya tanpa biaya sepeserpun dia berhasil tiba di Dobo.

‘’Saya kaget bu, kog kerjanya di karaoke dan melayani laki-laki minum-minum, gaji kami bukan 8 juta seperti yang dijanjikan tapi tak sampai 500 ribu karena dipotong untuk biaya perjalanan ke Dobo dan semua pengeluaran selama perjalanan,’’ tuturnya.

Di Karaoke ‘P’ yang terletak di pusat Kota Dobo, Sheila dan empat perempuan yang dikirim bergilir ke Dobo harus bekerja melayani tamu laki-laki mulai jam 8 malam hingga jam 2 pagi.

Penghasilannya ia dapat dari setiap minuman yang dikonsumsi para lelaki hidung belang ini.

‘’Saya terpaksa menjalani dengan berat hati, pakaian yang kami pakai harus beli dengan potong gaji, makan minum dan semua pengeluaran potong gaji, alhasil kami hanya dapat sekitar 500 ribu untuk kirim ke keluarga di Jawa,’’ jelas Sheila.

Memang dia mengakui sering menerima tips setiap kali menemani tamu yang minum-minum di karaoke tersebut.

Tapi tak setiap tamu memberi tips. Maka tak banyak uang dia peroleh dari pemberian tips tersebut. ‘’ Uang tips itu saya tabung, saya bertekad tidak boleh lama bekerja di Dobo, perlakuannya tidak manusiawi,’’ ketusnya.

Entah beruntung entah hanya sebuah kesempatan, ada tamu yang berbaik hati memberikan uang 15 juta untuk menebusnya. ‘’Koko ini bilang akan menolong saya keluar dari sana, makanya dia beri uang untuk tebus,’’ jelasnya.

Namun setelah dilunasi, si koko memintanya ikut ke kampung halamannya dan mau diperistri oleh si koko. Sheila tentu menolak karena masih memiliki keluarga di Jawa dan anak semata wayang yang menunggunya.

BACA SELANJUTNYA

Akibatnya, dia masih harus bekerja di karaoke itu selama empat bulan untuk membayar kembali uang 15 juta milik koko tersebut.

Setelah melunasi dia akhirnya berhasil melepas diri dari karaoke tersebut dengan bantuan salah satu pendamping aktifis perempuan.

Namun selama enam bulan dalam belenggu bos karaoke, dan empat bulan bekerja membayar hutang tebusan, Sheila menyaksikan banyak tindakan di luar batas kemanusiaan.

Seorang kawannya terpaksa meminta bantuan ke bos rumah bordil di Nabire dan menebusnya dari karaoke tersebut. Namun  ketika tiba di Nabire justru terpaksa bekerja bukan lagi sebagai ladys atau teman minum tamu, tapi jadi pekerja seks komersial atau PSK.

Sementara perempuan lainnya yang hamil dipaksa digugurkan dan mengalami siksaan di markas salah satu institusi di Dobo saat melarikan diri dari karaoke tersebut.

Banyak kisah pilu lain yang dialami Sheila dan teman-temannya saat berada di sarang penyamun itu.

Sheila bahkan bisa menyebut dengan fasih siapa saja pejabat daerah di Dobo yang senang minum-minum di karaoke tempatnya bekerja.

Namun kini Sheila bisa bernafas lega, apa yang dia alami telah berakhir, dia mengaku kapok dan tidak akan tergiur gaji tinggi lagi.

‘’Saya mau bicara ke media karena saya berharap tidak ada lagi yang mengalami seperti saya, saya berharap tidak ada lagi yang dijual secara tidak manusiawi,’’ harap Sheila.

BACA SELANJUTNYA

Sheila mungkin berhasil pulang ke kampung halamannya,   namun ada banyak perempuan lain bahkan yang masih berada di bawah umur dijual  ke karaoke atau rumah bordil tanpa kejelasan kontrak kerja dan diperlakukan tidak manusiawi.

Aktifis perempuan Lusi Peilouw menuturkan ada banyak kasus yang sama bahkan jauh lebih buruk terjadi di Maluku.

Setiap tahun sejak 2019 hingga 2021,  Lusi mencatat ada 12 kasus perempuan yang menjadi korban human trafficking atau dijual dengan modus penipuan gaji yang menggiurkan.

‘’Tapi laporan yang masuk cenderung karena kekerasan baik fisik maupun psikis, baru kemudian terungkap mereka adalah korban penjualan manusia,’’ jelasnya.

Menurut Lusi seringkali,  bahkan proses hukum tidak berjalan di kepolisian karena pembuktian unsurnya  tidak terpenuhi, ‘’ Jadi jika itu penjualan manusia maka yang paling mungkin harus memiliki tiket dari kota asal ke Ambon untuk menunjukkan mereka memang didatangkan dari luar,’’ ungkapnya.

Parahnya, karena terintimidasi oleh pihak bos pemilik pelacuran atau karaoke, korban tidak  bisa menunjukkan diri sebagai korban penjualan manusia.

‘’Laporan paling sering kami terima itu dari Kabupaten  Seram Bagian Timur dan Kabupaten Aru,’’ tegas Lusi.

Lusi yang juga Wakil Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Provinsi Maluku ini menyebutkan penjualan perempuan di Maluku harus segera ditangani aparat jika tidak ingin semakin banyak korban.

“ Sheila itu salah satu contoh saja, masih banyak kasus serupa, sayangnya banyak juga para petinggi di daerah yang jadi  pelanggan di lokalisasi atau karaoke itu, sehingga menyulitkan proses advokasi, apalagi ada bekingan, sulit itu, ‘’ tegas Lusi. (Insany)