Tidak Pernah Ditaklukan, Benteng Alaka Bukti Kuatnya Pertahanan Hatuhaha Melawan Penjajah

by
Sisa-sisa dinding Benteng Alaka di puncak bukit Alaka, Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku, menjadi bukti kemenangan masyarakat Hatuhaha saat Perang Alaka I melawan Portugis, dan Perang Alaka II melawan VOC. (Balai Arkeologi Maluku)

TERASMALUKU.COM,-AMBON-Benteng tradisional Alaka di Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku menjadi bukti kuatnya pertahanan dan penolakan masyarakat Hatuhaha terhadap penjajahan Portugis dan Hindia-Belanda.

“Perang Alaka merupakan peristiwa penting dalam catatan sejarah Maluku, karena Alaka merupakan satu-satunya negeri di wilayah Maluku yang tidak berhasil ditaklukkan,” kata arkeolog Muhammad Al Mujabuddawat dari Balai Arkeologi Maluku, di Ambon, Jumat (5/11/2021).

Ia mengatakan Benteng Alaka tercatat dalam berbagai literatur sejarah tentang pertempuran antara masyarakat Hatuhaha dengan Portugis pada 1573-1590 yang dikenal dengan Perang Alaka I. Perang Alaka II melawan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), kongsi dagang Hindia-Belanda pada 1625-1637.

Bangunan pertahanan tradisional yang berada di bukit Alaka tersebut memiliki peranan penting dalam perjuangan masyarakat Hatuhaha memenangkan pertempuran melawan penjajahan Portugis yang berlangsung selama 17 tahun, selanjutnya 12 tahun perang dengan VOC.

“Hasil penelusuran menunjukkan bahwa Negeri Alaka merupakan daerah Benteng Alaka yang dipercaya dahulu sebagai tempat terjadinya peristiwa perang Alaka. Data arkeologis relatif cukup mewakili sejumlah rekam peristiwa,” kata Muhammad.

Peneliti bidang arkeologi sejarah itu mengatakan Benteng Alaka berada di puncak Bukit Alaka. Di masa lalu lokasi itu menjadi pusat pemerintahan Negeri Pelauw, Kabauw, Rohomoni, Hulaliu dan Kailolo yang dikenal dengan Uli Hatuhaha.

Dalam penelusuran yang dilakukan oleh Muhammad Al Mujabuddawat bersama para arkeolog lainnya pada 2018, kondisi Benteng Alaka hanya tersisa sebagian, berupa dinding batu yang dalam tradisi lisan disebutkan memiliki tinggi tiga meter dan lebar satu meter.

Terbuat dari susunan batu koral bertekstur tajam membentuk dinding, benteng itu memanjang mengikuti alur puncak bukit. Sisa-sisa yang masih dapat ditemukan tidak bisa memberikan banyak interpretasi sesuai penuturan tradisi lisan.

Kendati demikian, temuan data artefak berupa fragmen tembikar dan keramik periode masa Dinasti Ming – Qing di sekitar lokasi memperkuat analisis bahwa Negeri Alaka dihuni pada abad ke-17.

“Berdasarkan penuturan tradisi lisan, Benteng Alaka merupakan lokasi perlindungan para tokoh Negeri Alaka, wanita dan anak-anak. Ada batu besar yang disebut ‘batu ayunan’, dipercaya menjadi tempat persembunyian wanita dan anak-anak saat terjadi perang,” tandas┬áMuhammad Al Mujabuddawat.

Pewarta : Shariva Alaidrus/Antara
Editor : Alex Sariwating