Kabar Baik dari Menko Airlangga Hartarto Oleh : Syah Sabur

by
Airlangga Hartarto. Foto : Instagram

MENTERI Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto kembali menyampaikan kabar gembira. Menurut Airlangga, ekonomi Indonesia pada triwulan III-2021 tumbuh 3,51 persen jika dibandingkan dengan triwulan III 2020 (yoy).

“Dalam situasi pandemi yang penuh tantangan seperti ini, hal ini patut kita kita syukuri karena adanya respon cepat jajaran pemerintah dan berbagai pihak dalam mengendalikan lonjakan kasus varian delta pada awal Triwulan III-2021. Dengan demikian kita tetap dapat mempertahankan momentum pemulihan ekonomi nasional,” katanya seperti dikutip dari instagram pribadinya, @airlanggahartarto_official, Senin (8/11/2021).

Menurut Airlangga, tumbuhnya ekonomi pada Triwulan III-2021 juga tidak terlepas dari pulihnya kepercayaan masyarakat dalam beradaptasi dan melakukan aktivitas ekonomi. Dengan demikian upaya pemulihan dan keseimbangan dari sisi demand dan supply tetap terjaga, baik dari sisi ekonomi domestik (konsumsi rumah tangga), ekspor dan impor, konsumsi pemerintah, maupun konsumsi Lembaga Nonprofit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT), dan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB).

Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, angka pertumbuhan 3,51 selama triwulan III tahun 2021 tidak jauh dari prediksi sebelumnya. Pemerintah sebelumnya memprediksi pertumbuhan ekonomi di kisaran 3,7 persen – 4,5 persen sepanjang tahun ini.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini menuturkan, optimisme membaiknya pertumbuhan ekonomi kuartal III ditopang oleh sejumlah leading indicators yang membaik setelah dihantam varian Delta Covid-19. Memang, pertumbuhannya tidak lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi kuartal II 2021 yang mampu mencapai 7,07 persen. Namun, kata Sri Mulyani, pencapaian ini sudah lebih baik mengingat kuartal III 2021 Indonesia sempat menghadapi serangan varian Delta.

Leading indicators
Menkeu mengungkapkan, pertumbuhan tersebut antara lain dipengaruhi beberapa leading indicators yang membaik, antara lain indeks keyakinan konsumsi, indeks penjualan ritel, indikator belanja, aktivitas investasi, aktivitas ekspor impor, dan realisasi pembelian kendaraan niaga. Tercatat, penjualan kendaraan niaga yang sempat mengalami kenaikan hingga 9 kali lipat, masih terus bertahan.

Sri Mulyani menjelaskan, meski pertumbuhan ini tidak setinggi pemulihan (rebound) awal, penjualan kendaraan masih tumbuh 60 persen secara tahunan (year on year/yoy). Kemudian, surplus neraca perdagangan berlanjut di bulan September 2021 dengan perolehan 4,37 miliar dollar AS. Hal ini membuat Indonesia sudah mengalami surplus neraca perdagangan 16 bulan berturut-turut sejak bulan Mei 2020.

“Nanti kinerja untuk kuartal IV tetap akan berpotensi rebound namun mungkin lebih normal. Dan rebalancing kegiatan ekonomi seperti di china, AS, dan Eropa, akan mempengaruhi outlook di kuartal IV dan tahun depan,” pungkas Sri Mulyani.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi kuartal III-2021 sebesar 3,51 persen itu lebih rendah dari pertumbuhan kuartal II-2021 yang mencapai 7,07 persen (yoy). Meskipun demikian, posisi ini membaik bila dibandingkan dengan laju ekonomi Indonesia kuartal III-2020 yang minus 3,49 persen.

“Bila dibandingkan dengan kuartal III-2020 maka pertumbuhan ekonomi di kuartal III-2021 sebesar 3,51 persen,” ujar Kepala BPS Margo Yuwono dalam konferensi pers virtual, Jumat (5/11/2021).

Kepala BPS juga mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia sejalan dengan pertumbuhan eonomi mitra dagang utama yang tercatat positif di kuartal III-2021, meski lebih rendah dari kuartal sebelumnya. Misalnya China (ekonominya tumbuh 4,9 persen), Amerika Serikat (4,9 persen), Singapura (6,5 persen), Korea Selatan (4 persen), Hong Kong (5,4 persen), dan Uni Eropa (3,9 persen). Selain itu, pertumbuhan ekonomi kuartal III-2021 juga dipengaruhi harga sejumlah komoditas yang terus meningkat, baik makanan maupun tambang. Di antaranya minyak kelapa sawit, cokelat, kopi, timah, nikel, dan alumunium.

“Perkembangan harga komoditas dan membaiknya perekonomian mitra dagang kita ini berpengaruh besar pada kinerja ekspor, yang juga mempengaruhi perekonomian,” kata Margo.

 

Rendahnya mobilitas masyarakat

Selain itu, rendahnya mobilitas masyarakat di sepanjang Juni-September 2021 seiring dengan penerapan PPKM Darurat atau Level 4 juga turut berpengaruh. Pemerintah memperketat mobilitas masyarakat untuk menekan penyebaran Covid-19 yang melonjak di Indonesia.

“Secara keseluruhan di kuartal III-2021 mobilitas penduduk lebih rendah dibandingkan kuartal II-2021 maupuan kuartal III-2020,” imbuh Margo.

Berdasarkan berbagai indikator di tingkat global maupun domestik tersebut, BPS mencatat, ekonomi Indonesia berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB) di kuartal III-2021 atas dasar harga berlaku mencapai Rp 4.325,4 triliun. Sementara berdasarkan harga dasar konstan dengan tahun dasar 2010 sebesar Rp 2.815 triliun. Adapun secara kumulatif Januari-September 2021, pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 3,24 persen dibandingkan periode yang sama di 2020.

Dengan kinerja seperti itu, Bank Indonesia berani memproyeksi tahun depan perekonomian akan tumbuh lebih tinggi di kisaran 4,6 persen hingga 5,6 persen. “Ekonomi kita terus membaik. Insya Allah tahun ini setelah mengalami pertumbuhan yang tinggi 7,07 persen di triwulan II, akan terus tumbuh di triwulan III dan IV,” sebut Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo berharap

Karena itulah, Airlangga melihat optimisme di masa depan. Sebab, hal itu sejalan dengan konsistensi penurunan kasus harian Covid-19 yang terus terjadi. Di saat yang sama, pemerintah melakukan pelonggaran PPKM secara lebih luas namun tetap dalam pengawasan dan penerapan protokol Covid-19 secara disiplin.

Kerjasama internasional

Selain itu, menurut Ketua Umum Golkar tersebut, proyeksi perekonomian Indonesia ke depan juga didukung oleh berbagai kerja sama internasional yang terus dilakukan oleh pemerintah. Di sela-sela KTT G-20 di Roma, Italia misalnya, Presiden Joko Widodo bersama jajaran Menteri Kabinet Indonesia Maju beberapa waktu lalu mejajaki kerjasama dengan sejumlah negara. Hal serupa juga dilakukan dalam rangkaian KTT COP26 di Glasgow-Skotlandia dan kunjungan kerja ke Persatuan Emirat Arab (PEA).

Airlangga berharap, prospek ekonomi dari berbagai kerjasama tersebut dapat memicu peningkatan investasi melalui aneka kebijakan, seperti kerja sama energi terbarukan, ritel, infrastruktur pelabuhan, dan jalan tol, kerja sama kesehatan, serta teknologi digital. Faktor yang tidak bisa disepelekan adalah masuknya Indonesia Investment Authority (INA), yang merupakan Lembaga Pengelola Investasi di Indonesia sebagai anggota International Forum of Sovereign Wealth Funds (IFSWF).

“Dengan bergabungnya Idonesia ke jaringan global sovereign wealth fund, maka IFSWF sekarang memiliki 35 anggota penuh dan 6 anggota asosiasi, mewakili 40 negara di seluruh dunia,” jelas Airlangga.

Dengan berbagai fakta tersebut, Airlangga yakin, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan akan berada di atas level 5% pada Triwulan ke-IV tahun 2021. Artinya, Indonesia akan mampu mencapai target pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan ke depannya. (***)