Bersatulah Indonesia : Refleksi Hari Pahlawan

by
Revaldo Pravasta Julian MB Salakory. FOTO : ISTIMEWA

Pahlawan adalah para pejuang yang berperan penting dalam kemerdekaan Indonesia. 10 November 1945 menjadi perayaan mengenang jasa para pahlawan, salah satu peristiwa kenangan yang terukir dalam sejarah yaitu pertempuran melawan bangsa asing Inggris setelah proklamasi kemerdekaan. Kemarahan para tentara Inggris terhadap Indonesia setelah kematian Jendral Mallaby (Pimpinan Tentara Inggirs), kematian jendral Inggris mengakibatkan pertempuran di Surabaya.

Sejarah mencatat jejak perjuangan tokoh para pejuang 10 november 1945 menjadi tantangan dan kenangan membangun kemerdekaan atas bangsa asing. Namun bila dilihat langkah perjuangan menjadi bangsa yang mandiri, Indonesia telah mencatatkan nama-nama tokoh nasional yang gagah berani. Peran para pejuang sebelum masa kemerdekaan sangat krusial mereka harus melawan begitu banyak bangsa asing sebut saja Portugis, Belanda dan Jepang.  Tokoh popular dari pulau sumatera ada Sisingamangaraja XXI sang gerilyawan kolonial belanda, Pahlawan ini lahir di tanah batak di Bakara. Kedua A.H Nasution pelopor yang menjadi incaran saat G30S PKI, Pattimura sang pelopor yang melawan Belanda di Maluku, Soekarno dan Leimena dan lain-lain. Beberapa tokoh diatas memiliki peran penting dalam memperjuangkan kemerdekaan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Perjuangan para pahlawan tidak lepas dari keinginan mempertahankan dan merubah kehidupan seluruh masyarakat. Era penjajahan masyarakat Indonesia mengalami masa sulit, sebagai wilayah yang dijajah sudah pasti hak dan kebebasan dikuasai oleh sang penjajah. Keinginan yang kuat dari para pelopor perjuangan kemerdekaan tentu ingin melepaskan diri dari belenggu kesengsaraan, pengorbanan nyawa menjadikan mereka sebagai pahlawan.

Era sekarang ini banyak sekali ketimpangan sosial yang dialami oleh masyarakat, kasus KKN, perampasan hak masyarakat, membuat kerugiaan terhadap sistem pemerintahan demokrasi di Indonesia. pada tahun 2020 di era pandemi masyarakat menjadi sulit dan dipersulit dengan sejumlah regulasi yang tidak berpihak terhadap masyarakat. Masa sulit diera penjajahan seakan-akan merongrong kehidupan bangsa Indonesia atas praktek-praktek politik oligarki, politik identitas menjadi treatikal kehidupan yang dialami bangsa Indonesia.

Bersatu di hari Pahlawan

10 November 2021 seluruh bangsa turut merayakan perjuangan para pahlawan yang mengorbankan nyawa demi bangsa Indonesia. bila mengingat kembali peristiwa perjuangan para pahlawan sudah pasti ada tangisan dan air mata bagi para pahlawan, akan tetapi sebaliknya para pahlawan akan menangis melihat kondisi bangsa Indonesia saat ini. Indonesia adalah sebuah rumah bagi seluruh masyarakat telah di kotori dan tidak terawat, banyak sekali masyarakat menjadi “tamu” atas rumah mereka sendiri. Para pahlawan mengusir penjajah untuk merebut keadilan bagi masyarakat namun sekarang ini keadilan di renggut oleh oknum-oknum penguasa elit.

Indonesia yang kaya dengan hasil alam membuat para penjajah datang dan menguasai negeri ini, bangsa eropa menjadi kaya karena mengambil keuntungan dari Indonesia. sejak 17 Agustus 1945 sudah 76 tahun negara kita merdeka, kerinduan para pahlawan melihat generasi penerusnya hidup dalam kedamaian dari Imperialisme penjajah asing.  Sudah semestinya diumur 76 tahun setelah merdeka negara ini makin dewasa namun demikian, dewasa ini Indonesia tidak cukup tua untuk sebuah negara yang menegakkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat.

Tulisan sederhana ini menjadi bahan refleksi bagi seluruh masyarakat Indonesia agar kembali bersatu dalam bingkai NKRI (negara kesatuan republik Indonesia). dalam sejarah di hari pahlawan bangsa asing dapat di usir karena seluruh masyarakat bersatu, pada sila ketiga menjelaskan bahwa seluruh elemen masyarakat  harus bersatu. Bersatu menjadikan Indonesia menjadi kuat dan tidak mudah goyang dalam menghadi perubahan zaman, ada pepatah yang mengatakan “ bersatu kita teguh bercerai kita runtuh” makna yang menjadi falsafah hidup masyarakat Indonesia ini dapat menyelesaikan serangkaian masalah yang di hadapi bangsa Indonesia. Indonesia harus bersatu melawan KKN (Korupsi, kolusi dan nepotisme), ketidakadilan gender dan  kemiskinan.  Dewasa ini Indonesia seringkali terjadi masalah kasus korupsi yang mengakibatkan kerugian besar bagi negara, kolusi dan nepotisme yang dilakukan oleh para elitis membuat keberpihakan terhadap para pejabat negara dan pemilik modal.

Bila kita melihat pada kondisi saat ini Indonesia seakan-akan telah diramal oleh Soekarno yang pernah berkata “ perjuanganku lebih mudah melawan penjajah, namun perjuangmu lebih sulit karena melawan bangsa sendiri” kalimat yang di proklamirkan oleh presiden pertama terbukti kebenarnnya, sebab di negara Indonesia banyak sekali oknum-oknum yang menjadi penjajah bagi sesama masyarakat di Indonesia. Sudah waktunya Indonesia berbenah diri demi keberlangsungan perdamian agar seluruh elemen mastarakat dapat merasakan perjuangan para pahlawan, bersatu dapat membuat Indoensia menjadi negara maju dan mampu bersaing dengan negara asing. Jangan biarkan perjuangan para pahlawan menjadi sia-sia karena serangkain kepentingan sesaat yang berdampak pada kemiskinan seluruh rakyat Indonesia buatlah para pahlawan senyum dan gembira, ciptakan Indonesia  yang berjiwa demokrasi, yang dapat menyatukan kepelbagaian Ras, Suku, Agama di negarai tercinta republik Indonesia.

Penulis : Revaldo Pravasta Julian MB Salakory, berstudi di Salatiga di Universitas Kristen Satya Wacana, sekarang bekerja sebagai dosen di Universitas Pattimura-Ambon.