Empat Catatan Dari Kepulauan Kei Oleh : Pendeta Rudy Rahabeat

by
Rudy Rahabeat

Agama-agama tidak hanya berkutat pada dirinya sendiri tetapi mesti berkontribusi bagi kemaslahatan masyarakat, bangsa dan dunia. Salah satu iven gereja yakni Sidang ke-42 Majelis Pekerja Lengkap Sinode Gereja Protestan Maluku (GPM) telah berlangsung di Elat Kei Besar, 31 Oktober-5 November 2021. Sidang ini selain membahas soal-soal internal gereja, tetapi juga memberi respons terhadap berbagai persoalan sosial-publik yang merupakan bagian utuh dari panggilan dan tanggungjawab gereja dan agama-agama. Berikut saya terakan empat catatan ringkas dari iven yang berlangsung di kepulauan Kei yang baru saja melaksanakan Festival Pesona Meti Kei yang fenomenal itu.

Pertama, problem infrastruktur, aksesibilitas dan konektifitas. Maluku dan Maluku Utara merupakan daerah kepulauan. Salah satu persoalan klasik aktual yang masih menjadi persoalan masyarakat di pulau-pulau adalah soal infrastruktur dan aksesibilitas serta urgensi membangun keterhubungan antar pulau (konektifitas). Sebagai contoh, jalan raya yang menghubungkan ohoi-ohoi (desa) di Kei Besar masih perlu diperjuangkan untuk menggerakan sektor ekonomi masyarakat dan sektor lainnya.

Deputi 1 Kantor Staf Presiden (KSP) Febry C. Tetelepta dalam sesi study meeting antara lain menjelaskan kebijakan pemerintah nasional terkait pembangunan berparadigma Indonesientris dan bukan Jawasentris. Demikian pula paradigma Malukusentris dan bukan lagi Ambonsentris. Hal ini hendak menegaskan adanya pemerataan pembangunan dan upaya sadar mengatasi kesenjangan (disparitas) antar wilayah. Kebijakan nasional ini tentu perlu diaplikasi oleh pemerintah di tingkat kabupaten kota, kecamatan dan ohoi (desa) agar masalah infrastruktur, aksesibilitas dan konektifitas dalam mempercepat langkah keluar dari jebakan kemiskinan ekstrim dan komitmen mensejahterakan rakyat di pulau-pulau di kepulauan Maluku.

Kedua, transformasi digital. Saat tiba di Ohoi Tutrean di Kecamatan Kei Besar Selatan, kurang kurang lebih dua jam perjalanan dari kota Tual Kei Kecil dengan angkutan darat dan laut, nampak anak-anak sibuk memainkan gadgetnya. Komunikasi digital berlangsung berbasis internet. Sebuah tower Telkomsel berdiri kokoh di atas bukit. Warga ohoi dapat berkomunikasi dengan saudara-saudaranya di tanah Jawa bahkan sampai ke negeri Belanda.

Ini tentu hal yang positif berkaitan dengan akses komunikasi dan informasi. Walau begitu, akses itu belum merata di seluruh kepulauan Kei. Misalnya di Ohoifau tempat berlangsungnya Musyawarah Pimpinan Paripurna (MPP) Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku (AMGPM), tidak ada sama sekali jaringan internet. Ketika akses internet menjangkau masyarakat maka akan terjadi turbulensi sosial dan atau transformasi digital. Turbulensi terjadi ketika teknologi informasi digunakan untuk hal-hal yang negatif seperti penyebaran hoaks, kebencian, kejahatan ekonomi berbasis digital, dan sebagainya. Transformasi digital dimaknai sebagai upaya memanfaatkan teknologi digital untuk membangun peradaban manusia yang maju dan sejahtera.

Ketiga, Relasi sosial lintas agama. Salah satu keunikan masyarakat Kei adalah keragaman agama dan ikatan sosialnya. Tiga agama dominan adalah Islam, Katolik dan Protestan. Dalam satu ohoi (desa) bisa terdapat tiga agama sekaligus, dan mereka hidup berdampingan dengan rukun atas dasar falsafah dan tradisi budaya Kei yang solid. Konsep Ain Ni Ain, Wuut Ain mehe Ngifun, Manut Ain mehe ni Tilur, hukum adat Larvul Ngabal, dan sebagainya.

Benhur Watubun salah seorang putra Kei antara lain menyebutkan bahwa Ain Ni Ain secara harfiah berarti “satu memiliki satu” atau dapat pula bermakna “satu dalam satu”. Seseorang atau sekelompok orang memandang dan menempatkan orang lain sebagai saudaranya (Majalah Assau, 2021). Demikian pula falsafah Wuut Ain Mehe Ngifun, Manut Ain Mehe Ni Tilur artinya telur-telur yang berasal dari seekor ikan dan seekor burung yang sama, yang menegaskan kesatuan dan persaudaraan utuh masyarakat Kei. Kebudayaan masyarakat Kei mesti terus dirawat dan dilestarikan, termasuk Bahasa Kei.

Keempat, Potensi Pariwisata. Tak dapat dipungkiri bahwa salah satu sektor yang sangat prospektif saat ini dan ke depan adalah industri pariwisata. Daerah-daerah bahkan bangsa-bangsa terus berlomba-lomba untuk memajukan industri pariwisata. Saat iven gerejawi ini berlangsung, berlangsung pula Festifal Pesona Meti Kei di Kota Tual maupun Kabupaten Maluku Tenggara. Pesona pantai dengan pasir putihnya yang halus bagai terigu, demikian pulau-pulau kecil yang memesona seperti Pulau Baer, dan sebagainya.

Goa Hawang dengan airnya yang jernih dan sangat sejuk di Ohoi Letvuan di Kei Kecil, Air Terjun Harangur di Kei Besar, dan seterusnya. Semua potensi alami pariwisatas ini perlu ditopang dengan infrastruktur dan eksebilitas yang memadai, sehingga para wisatawan lokal maupun mancanegara betah datang ke kepulauan Kei. Selain itu, sikap keramahan (hospitalitas) dan solidaritas masyarakat Kei sebagai warisan leluhur, mesti terus dijaga dan diaktualisasikan.

Demikian beberapa catatan kecil yang kiranya bermanfaat. Duad in Berkat it Besa. (RR)