Empat Catatan Dari Tutukembong Oleh : Pendeta Rudy Rahabeat

by
Pendeta Rudy Rahabeat. FOTO : DOK. PRIBADI

Tutukembong merupakan salah satu desa sekaligus ibukota kecamatan Nirunmas Kabupaten Kepulauan Tanimbar Provinsi Maluku. Saya berkesempatan datang ke desa ini untuk suatu kegiatan gerejawi yakni Penguatan Kapasitas Pendeta yang melayani di Klasis GPM Tanimbar Utara, yang memiliki 31 jemaat dengan 45 orang Pendeta. Berikut melalui jendela masyarakat Tutukembong, saya bagikan sedikit pengamatan dan analisis sederhana terkait dinamika sosial pembangunan dan budaya masyarakat Tanimbar pada umumnya.

Pertama, etnografi tentang Tanimbar yang cukup lengkap berasal dari Pastor Petrus Drabbe. MSC. Buku setebal 936 halaman itu menggambarkan secara etnografis masyarakat dan kebudayaan Tanimbar di masa lalu. Menurut pastor kelahiran Belanda itu masyarakat Tanimbar merupakan entitas budaya yang sangat kaya dalam berbagai aspeknya, termasuk pesona alamnya. Terkait hal ini, pada suatu pagi saya mendengar dari bapak Tony Uwuratu tuan rumah tempat saya menginap. Ia bertutur tentang asal usul marga “Uwuratu” yang memiliki kaitan dengan kisah di langit. Bahwa ada seorang lelaki yang naik ke langit melalui pohon koli. Setelah kisah perjumpaan di langit, ia kemudian turun ke bumi dan meneruskan kehidupan hingga anak cucunya saat ini pada keluarga Uwuratu. Tentu kisah ini ada banyak detilnya, namun yang hendak saya tandaskan di sini bahwa ada aneka kisah dan makna di balik nama dan simbol-simbol budaya masyarakat Tanimbar.

Kedua, catatan sosiologis Tanimbar. Bito Temmar merupakan mantan Bupati Kabupaten Kepulauan Tanimbar (dulu: Kabupaten Maluku Tenggara Barat) dua periode. Selain sebagai politisi, dia juga merupakan akademisi. Bidang keilmuannya adalah sosiologi. Dalam buku Menelusuri Jejak Identitas Kemalukuan (2017) yang diterbitkan oleh Lembaga Kebudayaan Daerah Maluku, Temmar menulis pengantar yang cukup komprehensif tentang masyarakat dan budaya Tanimbar. Ia antara lain menulis tentang budaya orang Tanimbar yang membuka diri kepada orang asing (pendatang). Budaya yang tidak melihat orang asing sebagai musuh tetapi sebagai sahabat. Paulus Koritelu (2009) dalam disertasinya pada departemen Sosiologi Universitas Indonesia (UI) menulis tentang perubahan hubungan sosial Duan dan Loat di Tanimbar. Ia menyebutkan bahwa budaya Tanimbar tidaklah statis tetapi dinamis. Seiring perubahan sosial budaya, maka masyarakat Tanimbar pun mengalami transformasi dari waktu ke waktu. Realitas sosiologis ini perlu dicermati oleh seluruh pengambil kebijakan termasuk oleh agama-agama dalam melaksanakan berbagai program pengembangan masyarakat yang berbasis pada nilai budaya dan realitas perubahan sosial tersebut.

Ketiga, jalan dan jaringan internet. Jalan raya merupakan salah satu infrastruktur yang dibutuhkan masyarakat untuk percepatan (akselerasi) pembangunan. Masyarakat praktis bertumbuh lambat ketika akses jalan raya tidak tersedia secara representatif. Para pendeta menyebutkan bahwa dulu mereka menjangkau desa-desa (baca: Jemaat-Jemaat) di Tanimbar Utara melalui jalur laut. Ombak dan gelombang merupakan teman seperjalanan mereka. Kadang muncul bencana dan musibah di laut. Tapi sekarang, kondisi semakin membaik. Jalan yang menghubungkan desa-desa di Tanimbar makin tersedia. Hal ini berbeda misalnya dengan sebagian wilayah di Kabupaten Maluku Tenggara, khususnya pulau Kei Besar yang jalan rayanya masih belum cukup memuaskan. Jaringan internet di Tanimbar Utara juga cukup tersedia, walau belum sepenuhnya memuaskan. Di desa Tutukembong misalnya terkadang internet lelet dan kesulitan akses komunikasi. Demikian pula dengan listrik. Listrik hanya menyala pada malam hari, sedangkan pagi hingga sore hari listriknya padam. Hal ini tentu berdampak pada aktivitas masyarakat, termasuk anak-anak sekolah dalam proses belajar mengajar yang membutuhkan listrik untuk koneksi internet.

Keempat, impian Blok Masela. Tak terhindarkan jika menyebut kepulauan Tanimbar hari ini, maka terlintas cerita tentang Blok Masela. Saya menyebutnya impian Blok Masela, sebab sampai saat ini proyek Migas Abadi itu belum juga menunjukan titik terangnya. Pemerintah Indonesia terus melakukan negosiasi dan renegosiasi, termasuk pemerintah kabupaten Kepulauan Tanimbar terus menggulir program yang bertujuan mengantisipasi realisasi proyek migas Blok Masela. Seorang rekan Pendeta menyebutkan anaknya mendapatkan beasiswa dari pemerintah Kabupaten Kepulauan Tanimbar untuk belajar di sekolah Migas Cepu di tanah Jawa. Pada lain pihak, muncul gejolak tentang tanah dan hak-hak masyarakat. Ada yang membeli tanah masyarakat dengan ukuran yang sangat luas. Demikian pula, muncul berbagai langkah masyarakat untuk menyiapkan sumber daya manusia yang kelak dapat masuk dalam lapangan kerja industri migas itu dengan berbagai industri turunannya.

Demikianlah sedikit catatan terkait budaya dan masyarakat Tanimbar yang kaya dan dinamis. Ada harapan dan doa kiranya masyarakat di kepulauan Tanimbar dan kepulauan Maluku pada umumnya, makin hari makin berkembang ke arah yang lebih sejahtera. Ubu Naflahar Ditinemun. (RR)