Dari Momen Menjadi Monumen, Refleksi Akhir Tahun 2021

by
Pendeta Rudy Rahabeat. FOTO : DOK. PRIBADI

Tahun 2021 adalah momentum. Ruang kesempatan yang terbuka untuk kita hidupi. Di ujung tahun 2021 ini, apakah momentum itu sedang atau telah dimaknai dan diisi dengan optimal? Apakah momentum telah menjadi monumen, utamanya monumen yang hidup. Hidup bukan hanya untuk diri atau kelompok sendiri, tapi untuk sesama dan semesta yang makin berseri. Pada momen akhir tahun ini, perkenankan saya berbagi empat catatan reflektif dan proflektif ini

Pertama, monumen pengucapan syukur. Apapun yang kita gumuli di tahun ini, entah suka atau duka, sukses atau gagal, maju atau mundur, kiranya itu tidak mengurangi rasa syukur kita. Ajaran-ajaran agama mengingatkan kita untuk senantiasa mengucap syukur dalam segala hal. Kita tidak bersyukur hanya di saat lautan tenang atau langit berwarna biru. Kita tetap bersyukur walau gelombang dan badai datang, awan gelap dan hujan deras. Kita bersyukur kala kondisi bangsa dan dunia ini makin membaik, tetapi kita juga mesti tetap bersyukur meski pandemi covid 19 belum juga sirna, bencana terjadi dimana-mana. Kemampuan kita untuk melewati badai dan mengubah tantangan menjadi peluang, serta keikhlasan kita untuk bersyukur dalam segala cuaca, itu merupakan monumen yang pertama dan utama.

Kedua, monumen perjuangan. Hidup tiada mungkin tanpa perjuangan, tanpa pengorbanan. Begitulah penggalan syair lagu lama. Kita berjuang untuk membangun karier dan masa depan. Kita berjuang untuk mengubah pasir menjadi mutiara.Tahun ini ada yang berhasil menyelesaikan studi, mendapatkan pekerjaan, mengalami kenaikan pangkat dan golongan bahkan promosi jabatan. Usaha dan bisnis berhasil, investasi di bidang ekonomi berbuah manis. Ada juga yang membangun rumah tangga baru, memeroleh anak dan atau cucu, membangun rumah baru, dan sebagainya. Semua itu merupakan buah perjuangan dan kerja keras. Tidak mungkin orang dapat tiba di puncak tangga jika tidak merangkak dari bawah. Dan semakin tinggi sebuah pohon semakin kencang angin bertiup. Hanya orang yang berjalan yang sampai di tujuan. Tahun 2021 adalah tahun perjuangan dengan segala kisah dan ceritanya. Jatuh bangun kita alami. Tahun penuh keringat dan air mata, juga senyuman dan gelak tawa. Dan kita akan terus berjuang, selagi masih ada. Jangan pernah menyerah, jangan pasrah.

Ketiga, monumen ketangguhan. Tahun ini kita masih bergulat dengan covid 19 secara global. Ada orang-orang yang telah mampu beradaptasi dengan lingkungan baru sejak Maret 2020. Ada yang menyebutnya era new normal. Tapi masih ada yang terus menggerutu, saling menyalahkan dan merindukan keadaan pra pandemi. Dalam skala nasional, bangsa ini juga terus berjuang mewujdukan cita-cita Proklamasi dengan paradigma membangun dari pinggiran, bukan lagi Jawasentris tapi Indonesiasentrius, membangun infrastruktur dengan visi menjembatani disparatis atau kesenjangan. Dalam rangka memperkuat solidaritas kebangsaan dan pluralitas, dihadirkan moderasi beragama, agar agama-agama makin ramah terhadap perbedaan dan bersama-sama menghadirkan kebaikan bagi semesta. Pada basis keluarga, pasangan suami istri terus bergulat dengan kesetiaan dan kemampuan membina rumah tangga dan keluarga. Ada yang akhirnya bercerai dan membangun tatanan baru. Semua ini membutuhkan daya lentur dan lenting, kemampuan bertahan dan bereksistensi. Inilah monumen resiliensi. Ketangguhan menghadapi dan mengelola masalah yang datang bagai ombak yang tak pernah berhenti.

Keempat, monumen komitmen. Tugu-tugu dibangun. Prasasti-prasasti diteken. Menara-menara dipancangkan. Patung-patung berjejer, entah atas nama heroisme dan pengorbanan, entah sebagai branding untuk promosi pariwisata. Ada monumen yang makin mentereng, ada yang kian berdebu dan bahkan terabaikan. Ada orang yang masih terobsesi, seakan dengan mendirikan patung dan monumen fisik maka perkara selesai, ingatan diawetkan dan mimpi diwujudkan. Ternyata tidak semudah itu. Sebab patung-patung yang berjejer tanpa komitmen para pembuat dan penikmatnya maka ia akan menjadi berhala baru. Komitmen untuk memperjuangkan nilai-nilai keutamaan hidup seperti keadilan, kesetaraan, perdamaian, kelestarian alam dan sebagainya. Komitmen diri dan komitmen sosial merupakan monumen yang hidup. Ini harus kita pancangkan dan dirikan diakhir tahun 2021 dan membangunnya terus di tahun 2022 dan tahun-tahun seterusnya. Komitmen untuk menjadi pemimpin yang berarti bagi rakyat, komitmen untuk berbelarasa dengan sesama yang terpuruk dan menderita. Tidak mencari aman sendiri. Tidak puas di zona nyaman, bahkan mengabaikan orang lain guna kepentingan diri atau kelompok. Di sini lain, semua orang perlu berkomitmen menjadi individu yang baik dalam masyarakat. Memberikan yang terbaik bagi kepentingan bersama sesuai talenta yang dimiliki.

Kiranya setiap momen yang tersedia dapat kita ubah menjadi monumen yang berdampak bagi kesejahteraan bersama. Tahun 2021 akan berlalu, tahun 2022 akan kita masuki. Terima kasih untuk semua kisah bersama. Semua karya melintasi batas-batas agama, etnis, kelas sosial dan semesta perbedaan. Tantangan di masa depan kian kompleks dan dinamis. Begitu juga selalu ada ruang dan peluang kreativitas dan kejutan inovasi yang tersedia bagi kita. Momen-momen anugerah. Maka tetaplah bersyukur, teruslah berjuang, jadilah tangguh, dan tetaplah berkomitmen untuk menjadikan hidup bermakna, menjadikan tiap momen menjadi monumen yang hidup. Tuhan Memberkati Kita dan Semesta (RR)

Oleh : Pdt Dr Rudy Rahabeat, Wasekum Sinode GPM