Peduli Warga, Anggota DPRD Datangkan Ratusan Bronjong ke SBT

by

TERASMALUKU.COM,-BULA-Sebagai bentuk perhatian kepada masyarakat Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) mengatasi abrasi pantai yang menghantam sejumlah desa, anggota DPRD SBT Costansius Kolatfeka, mendatangkan ratusan bronjong dari Balai Wilayah Sungai (BWS) Maluku.

Kolatfeka yang dikonfirmasi Terasmaluku.com, Jumat, (31/12/2021) mengatakan, bantuan ratusan bronjong ini sebagai hadiah akhir tahun untuk sejumlah desa di SBT yang terdampak ombak dan angin kencang pada akhir Desember 2021.

Seperti di Dusun Wawasa, Negeri Amarsekaru, Desa Kilalir, dan Negeri Dai di Kecamatan Pulau Gorom. Selain itu di Desa Administratif Gunak, Kecamatan Kilmury.

Namun, bantuan 20 ikat bronjong ini hanya diberikan pada Desa Kilalir, sesuai surat yang masuk di BWS Maluku.

“Bantuan 20 ikat bronjong ini untuk Desa Kilalir, Kecamatan Pulau Gorom. Akan dibawakan ke Gorom sesuai surat masuk,” kata Kolatfeka.

Ketua Fraksi Partai Gerindra DPRD SBT ini mengaku, telah merekomendasikan semua Desa di SBT yang mengalami abrasi ke BWS Maluku, agar diberikan bantuan bronjong.

Hanya saja, tidak ada surat resmi dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) melalui Dinas Badan Penaggulangan Bencana Daerah (BPBD) ke BWS Maluku untuk meminta bantuan bronjong tersebut.

“Usulan beta (saya) juga Desa Wawasa, juga Teor, Desa Administratif Gunak dan semuanya. Nanti beta (saya) turun di lokasi baru lihat perkembanganya lagi,” ucap wakil rakyat dari Daerah Pemilihan (Dapil) tiga itu.

Kolatfeka menanggung semua biaya transportasi pengangkutan bronjong. Tidak ada bantuan dari Pemkab. Padahal menurutnya, kalau Pemkab SBT membiayai tranportasinya, ia bisa mendatangkan lebih banyak lagi bronjong dari Ambon ke SBT.

“Beta seng (saya tidak) bisa bawah banyak, biaya bagasi tanggung sendiri. Kalau daerah tanggung boleh,” kata mantan anggota DPRD Provinsi Maluku itu, sembari berkata, yang penting bisa bikin sesuatu di akhir tahun sekaligus tutup ini.

Padahal di tahun anggaran 2021, ada Biaya Tidak Terduga (BTT) sebanyak 29 milyar rupiah di BPBD SBT untuk menangani kondisi seperti ini.

“Ada biaya tak terduga 29 milyar vor tangani kondisi kondisi begini ini. Ya tapi begitulah,” tutur Kolatfeka. (Sofyan)