Catatan Dari Ulieser Oleh : Rudy Rahabeat, Pendeta Gereja Protestan Maluku

by
Pendeta Rudy Rahabeat. FOTO : DOK. PRIBADI

Ulieser adalah penamaan generik bagi tiga pulau di Kabupaten Maluku Tengah yakni Saparua, Nusa Laut dan pulau Haruku. Oleh Gereja Prostestan Maluku ketiga pulau itu disatukan dalam wadah Klasis yakni Klasis GPM Pulau-pulau Lease yang diketuai oleh Pdt Tjak Tomasoa dan Pdt Herry Rutumalessy sebagai Sekretaris. Dalam perjalanan dua hari di pulau Saparua, ada beberapa catatan reflektif yang hendak dibagikan melalui kesempatan ini, yakni:

Pertama, pulau bersejarah. Bukan rahasia umum lagi bahwa banyak pahlawan dan cendekiawan serta pemimpin berasal dari Uliaser. Kepemimpinan itu bukan hanya di aras lokal tapi juga nasional bahkan global. Ulieser juga merupakan wilayah yang paling awal berinteraksi dengan dunia luar, khususnya saat kehadiran Belanda di Nusantara. Olehnya, pendidikan warga masyarakat lebih maju dan orang-orangnya menjadi pionir dalam perluasan pendidikan modern di berbagai wilayah di Indonesia seperti Sulawesi, Nusa Tenggara Timur, dan Papua.

Guru Injil dan tentara (soldadu) serta pendeta banyak berasal dari tiga pulau ini. Demikian pula pahlawan-pahlawan seperti Kapitan Pattimura, Martha Christiana Tiahaha, Said Perintah, Anthony Rhebok berasal dari Ulieser. Sejarah mencatat semua itu dalam dokumen dan arsip, dalam cerita dan kapata. Fakta sejarah ini dapat menjadi energi positif untuk mendorong dan menginspirasi orang-orang Ulieser untuk terus maju. Demikian pula dapat menginspirasi orang lain untuk terus memacu diri, berkembang dan maju bersama meraih masa depan yang gemilang.

Kedua, rentan konflik. Ini juga realitas yang tak dapat dipungkiri. Konflik yang pernah terjadi antara negeri Porto-Haria di pulau Saparua merupakan salah satu contohnya di Ulieser. Kita bersyukur pada saat ini narasi damai kedua negeri makin menguat. Yang terbaru yakni yang terjadi di Kariu dan Ori-Pelau beberapa waktu lalu di pulau Haruku. Realitas ini menggugah sekaligus menggugat kita semua untuk bersama-sama membangun dan merawat damai. Konflik tidak pernah memberi manfaat apa-apa, selain menyisahkan kehancuran peradaban. Olehnya dibutuhkan komitmen kuat dan usaha sadar dari semua pihak untuk menjaga dan merawat damai (peace building). Penging mengidenfikasi faktor-faktor laten dan manifest juga cara-cara mengantisipasi konflik. Potensi konflik sering makin menguat ketika menjelang iven-iven politik seperti pemilihan Raja, Bupati, Walikota, anggota DPRD bahkan Presiden. Ketahanan masyarakat dan budaya damai harus terus diperkuat dan dimantapkan. Dalam Injil dikatakan “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah”.

Ketiga, one village one product. Setiap negeri (desa) punya produk unggulan. Jika hendak mendapatkan makanan olahan seperti bagea, serut, halua kenari, datang saja ke Negeri Ihamahu di jazirah Hatawano. Di sana warga masyarakat telah mengolah hasil alam seperti sagu, kenari, gula merah menjadi pangan lokal yang gurih. Produk kemasan ini telah dipasarkan secara luas dan menjadi produk andalan negeri Ihamahu. Demikian pula jika hendak memiliki koleksi sempe (wadah terbuat dari tanah liat) datang saja ke Negeri Ouw di Jazirah Tenggara. Sempe aneka ukuran dengan kualitas terbaik dapat diperoleh dengan harga terjangkau. Sempe biasanya dipakai sebagai wadah tuang papeda, makanan khas orang Maluku Tengah.

Pangan sagu dapat dinikmati di Negeri Ullath di Jazirah Tenggara oleh tangan-tangan trampil perempuan Beilohy Amalatu itu. Jika hendak memperoleh ikan datang saja ke Negeri Haria dan pangan Keladi dapat diperoleh di negeri Porto. Keladi Porto sudah sangat terkenal karena rasanya yang khas. Tentu ada aneka produk khas dari tiap negeri (desa) di pulau Saparua. Semua ini merupakan penanda kemandirian dan kreatifitas masyarakat untuk mengelola hasil alam yang diberikan Tuhan kepada mereka. Tentu saja ke depan diharapkan produk-produk ini dapat menembus pasar nasional dan global, termasuk pemasarannya melalui media online (digital).

Keempat, merengkuh masa depan. Masa lalu Ulieser dengan prestasi dan prestinya tentu bukan sebatas romantisme semata. Realitas masa kini perlu disikapi dengan bijaksana. Realitas jalan-jalan raya yang masih berlubang, ide pemekaran menjadi Kabupaten sendiri, rencana pengembangan objek wisata bertaraf internasional, merupakan hal-hal yang perlu mendapat perhatian serius. Tantangan ke depan juga makin kompleks dan kompetitif. Revolusi industri 4.0 atau 5.0, era digital dengan segala dampaknya, serta krisis global membutuhkan langkah-langkah antisipasi yang cerdas dan terukur.

Sejarah juga mengajarkan kita bahwa masa lalu yang gemilang belum tentu berulang di masa depan. Olehnya kemampuan membaca tanda-tanda zaman serta langkah-langkah antisipatif dan terukur merupakan pilihan yang mesti dikerjakan dengan sungguh-sungguh. Ulieser tetaplah merupakan pulau-pulau yang indah, sepanjang sumber daya manusia, nilai-nilai budaya luhur, serta kearifan hidup terus dirawat, dikelola serta ditransformasi untuk mewujudkan damai sejahtera bagi semesta ciptaan.

Demikian beberapa catatan reflektif yang dapat dibagikan. Semoga ada manfaatnya. Terima kasih Pdt Tjak Sapulette, Sekretaris Umum MPH Sinode GPM, mantan Ketua Klasis GPM pulau-pulau Lease, rekan seperjalanan yang telah berbagi percikan-percikan kisah yang turut memperkarya refleksi ini. Salam sehat bagi kita semua (RR)