Enam Tahun CCI, Fokus Bantu Disabilitas dan Marjinal Hingga Daerah 3T di Maluku

by
Pendiri sekaligus direktur Clerry Cleffy Institute saat perayaan 6 tahun CCI akan melanjutkan pelayanan kepada penyandang disabilitas dan marjinal ke Pulau Seram, (13/2). FOTO: Priska Birahy

TERASMALUKU.COM,AMBON – Enam tahun melayani di Maluku, lembaga kemanusiaan Clerry Cleffy Institue terus berfokus melayani kaum disabilitas dan marjinal.

Pada perayaan HUT tersebut total sebanyak 487 penyandang disabilitas dan kaum marjinal yang telah menerima pelayanan keliling Maluku.

Pelayanan CCI ini terus mencari target kaum disabilitas dan marjinal yang belum tersentuh bantuan dan pertolongan yang tepat. Khususnya di daerah yang jauh dengan akses cukup sulit.

Dwi Prihandini, pendiri sekaligus direktur CCI menyatakan kegiatannya di lembaga nirlaba itu tak lain untuk membantu lebih banyak anak Maluku yang membutuhkan.

“Disabilitas jadi konsen utama saya. Saya temi dalam perjalanan ke pulau-pulau yang jauh dan terluar sangat banyak anak Maluku yang membutuhkan,” katanya saat memberikan keterangan pers tepat di hari ulang tahun CCI ke-6 di Ambon.

Salah satu wilayah itu, Kabupaten Kepulauan Aru. Berdasarkan data yang tercatat, Aru merupakan wilayah paling banyak mendapat bantuan. Ada 200 orang penyadang disabilitas dengan total biaya yang digelontorkan senilai lebih dari Rp 400 juta.

“Di Aru ini yang paling banyak disabilitas dan biaya. Lokasinya jauh jauh, dari satu desa ke desa lain harus perahu motor,” terangnya sambil menceritakan aktivitasnya di Aru.

Perempuan yang sudah menyambangi 6 dari 18 pulau 3T (tertinggal, terluar, dan terdepan) di Maluku untuk aktivitas kemanusiaan itu mengaku takjub dengan kondisi di Aru.

Dia mengakui Aru punya kecantikan alam dan sumber daya yang sangat besar dibanding wilayah lain. Namun di balik itu ada banyak anak Maluku dengan segala keterbatasan belum tersentuh.

Bertepatan di ulang tahun ke-6, pelayanannya dengan merogoh kocek pribadi itu akan dilanjutkan di Pulau Seram.

“Beta akan lanjutkan ke Seram bersama relawan. Tetap setia untuk membantu Maluku dengan cara saya sendiri,” kata perempuan yang.

Berbekal kecintaannya itu, dia telah memberi dukungan berupa alat bantu kursi roda 84 buah, tongkat 30 buah, bantuan modal usaha bagi 99 orang disabilitas.

Ada pula modal usaha bagi 36 orang perempuan marjinal, santunan 435 disabilitas yang kondisinya marjinal.

CCI juga memberi santunan kematian bagi 29 keluarga terdampak gempa. Tak lupa juga bantuan 142 sepeda kepada anak Maluku dengan kondisi marjinal, 26 buah hape untuk keperluan belajar daring serta 151 beasiswa pendidikan.

“Total dananya Rp 4,5 miliar murni dari uang pribadi saya,” kata perempuan yang mencapai 5 atap tertinggi dari 7 summit Indonesia itu.

Tak hanya itu terucap pula sebuah target lain yang ingin dicapai ibu satu anak ini. Yakni, mempelajari budaya Maluku, salah satunya melalui Bahasa. “Ini hiden value buat diri saya sendiri. Saya tidak mau menjadi bodoh di negeri yang saya cintai,” sebut Dini.

Pada kesempatan itu, Dini juga membagi kisahnya saat bertemu Elkana Amarduan, penjaga mercusuar perbatasan Indonesia –Australia.

Elkana atau yang disapa Eli, menjaga mercusuar di desa terluar, Desa Eliasa Kecamatan Selaru Kabupaten Kepulauan Tanimbar (KTT), Provinsi Maluku. Dia pun mengunggahnya pada akun Instagram pribadi pada 15 September 2021.

Dia berharap pelayanan mengelilingi dapat menjangkau lebih banyak kaum disabilitas dan marjinal di wilayah 3T juga wilayah lain yang belum tersentuh. (PRISKA BIRAHY)