‘Kain Timur’ Tenunan Martabat Orang Maybrat Oleh : Pdt Jacky Manuputty, pekerja Perdamaian

by
Pdt Jacky Manuputty. FOTO : ISTIMEWA

Mama tua itu menangis histeris saat tahu bahwa ‘Kain Timur’ pusaka milik keluarganya telah raib. Seketika tubuhnya diguyuri kemarahan. Ia merasa ditelanjangi, harga dirinya diambil paksa. Seperti kehilangan pijakan, tubuhnya mendadak lunglai, lalu pingsan.

“Kain Timur” memang keramat bagi orang Maybrat di Papua Barat. Pada setiap lembar Kain Timur tertenun harga diri dan jati diri orang Maybrat. Status sosial sebuah keluarga bisa ditentukan dari banyaknya Kain Timur yang mereka miliki, apalagi jika usianya sudah ratusan tahun. Dalam tradisi masyarakat Maybrat, Kain Timur digunakan untuk pembayaran adat, mas kawin, atau juga denda adat. Jenis kain dalam fungsi ini boleh dialih-tangankan secara adat, namun ada jenis lainnya yang dimaknai sebagai pusaka keluarga.

Tenunan pusaka keluarga merupakan kehormatan keluarga yang tak boleh diberikan kepada orang lain untuk alasan apapun. Harga Kain Timur termahal bisa mencapai ratusan juta rupiah, tergantung jenis kain dan ketuaan usianya. Masyarakat adat mengetahui detail sejarah setiap lembar Kain Timur, karena selalu dituturkan ketika digunakan dalam ritual adat.

Lembaran kain dengan motif tenunan ikat ini memiliki sejarah yang panjang dalam persentuhannya dengan wilayah Papua Barat. Beberapa warga local meyakinkan saya bahwa sejak era Portugis mereka sudah mengenal Kain Timur. Sejumlah kajian menjelaskan asal tenunan ikat ini awalnya dibawa oleh para guru dan misionaris asal Timor/NTT yang datang ke Papua Barat di masa lalu. Mereka memperkenalkan dan melatih masyarakat setempat untuk menenun kain sebagaimana yang berkembang dalam budaya Timor.

Tak mengherankan, motif tenunan ikat di Papua Barat terlihat mirip dengan tenunan ikat Timor, bahkan istilah ‘Kain Timur” dilekatkan pada produk yang dihasilkan para penenun local di Papua.

Dalam kunjungan saya ke Maybrat pada awal Pebruari lalu, kisah Kain Timur adalah gumpalan narasi pedih dari orang-orang local yang merasa dicampakan harga dirinya. “Kain Timor yang kami tinggalkan saat mengungsi dijarah semua. Di Kota Sorong, kami temukan beberapa lembar kain milik kami yang terjarah dijual murah. Kami merasa sungguh terhina,” tutur seorang bapak kepada saya.

Penyerangan Pos Koramil Kisor Kodim 1809 Maybrat oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Desa Kisor, Distrik Aifat, Kabupaten Maybrat, pada 2 September 2021 berakibat terbunuhnya empat orang prajurit TNI-AD.

Peristiwa tragis ini memicu pihak TNI dan kepolisian melakukan penyisiran di hampir semua desa yang berada dalam kawasan Distrik Aifat. Ribuan warga dari puluhan desa seketika mengungsi ke desa-desa tetangga yang dirasa aman, terutama di Distrik Aitinyo. Saat mengungsi, masyarakat tak sempat menyelamatkan barang-barang berharganya.

Peristiwa tragis itu terjadi sekitar pukul 4 dinihari. Bunyi tembakan dan keriuhan kelompok penyerang membangunkan warga yang sedang lelap tertidur. Sewaktu kelompok penyerang menghilang, ditemukan menemukan empat jenazah prajurit TNI-AD. Warga ketakutan dan seketika meninggalkan desa dengan membawa barang seadanya. Kabar penyergapan dan pembunuhan prajurit TNI-AD itu menyebar cepat ke desa-desa di sekitar Kisor, menjangkitkan ketakutan dan memaksa mereka turut mengungsi.

Ketika saya bermalam di Desa Kisor, beberapa warga desa menyampaikan bahwa mereka baru memberanikan diri pulang ke desanya dalam jumlah besar sewaktu Pos TNI-AD dicabut dari desa mereka, beberapa hari sebelum kedatangan saya. Menurut mereka, banyak warga desa mereka dan desa-desa tetangga lainnya yang masih menetap di hutan, ataupun di distrik tetangga. Mereka belum kembali bukan hanya karena khawatir terhadap ketidakpastian keamanan, tetapi juga karena rumah-rumah mereka dirusak dan harta bendanya dijarah saat mereka mengungsi. Dalam panjarahan itu, ribuan lembar Kain Timur ikut raib.

Dalam perjalanan kembali dari Distrik Aifat menuju Distrik Ayamaru, tak disangka-sangka saya temukan beberapa gulungan kain berwarna merah dan hitam, berjejer teratur di sisi jalan raya yang kami lintasi. Di atas setiap gulungan terlipat selembar Kain Timur. Pendeta setempat yang mendampingi saya berbisik, “itu ritual pembayaran denda. Kain-kain itu ditaruh di depan rumah keluarga korban. Kalau mereka tak segera mengambilnya berarti negosiasi terhadap jumlah dan jenis kain harus dilanjutkan. Perlu lebih banyak Kain Timur ditambahkan disitu,” ulas Pak Pendeta.

Penjelasan lanjutan Pak Pendeta tak lagi saya dengar. Imajinasi saya terlanjur dilambungkan pada kisah mama tua yang lunglai dan pingsan, saat temukan Kain Timur miliknya telah raib. Tangisan histerisnya terdengar jauh lebih keras dari deru kendaraan yang sedang saya tumpangi, namun lambat laun tangisan itu bernada dan berangsur berubah menjadi kidung. Meskipun sudah lama tak saya dengar, namun saya kenal lagu pujian itu.

“T’rang Bintang Siang Gemerlap, yang turut janji yang tetap. Terbit di seb’lah Timur. Ya Anak Daud, Rajaku, cahaya pengasihan-Mu, bri hatiku terhibur. Amin, amin, kebenaran, kegemaran, kemurahan. Kau beri berkelimpahan,” MNR2/25.

Dalam lantunan lembut lagu itu, nampak di kejauhan gulungan besar Kain Timur terurai turun menyusur urat pegunungan Arfak lalu membungkus Maybrat seutuhnya. Saya menyaksikannya, indah sekali!