Green Moluccas Gandeng Sound of Forest Lab, Universitas Wisconsin, Amerika Gelar Diskusi di Hari Bumi 2022

by
buku audio Sound of Forest yang menjadi bahan diskusi webinar Green Moluccas dan Univ Wisconsin Amerika Sabtu (23/04/22) Foto : istimewa

TERASMALUKU.COM,- Green Moluccas salah satu komunitas pencinta lingkungan di Maluku, dalam memperingati Hari Bumi, menggandeng Sound of Forest Lab, Universitas Wisconsin di Amerika dengan menggelar  webinar bertajuk Eco-Literacy  Sabtu, (23/04/22).

Dalam rilis yang diterima redaksi terasmaluku.com Sabtu, Green Moluccas menyebutkan mengajak ratusan pelajar di Maluku untuk  membahas hasil penelitian satwa dalam bentuk audio book bertajuk Sound of Forest dengan latar Hutan Borneo.

Peringatan Hari Bumi tahun 2022 mengusung tema Invest Our Planet, bertujuan mengembangkan advokasi dan tindakan signifikan agar bumi menjadi lebih baik.

Green Moluccas menilai tema Hari Bumi tahun ini sejalan dengan isi buku yang mengurai keberadaan dan keberagaman jenis satwa hutan, yang diperuntukan bagi pada pendidik untuk turut ambil bagian dalam kampanye perlindungan satwa.

Irene Sohilait, Founder Green Moluccas menyatakan, kegiatan Eco-Literasy ini penting agar dapat meningkatkan pengetahuan anak didik dan pendidik dalam menjaga hutan. Selain itu, buku ajar yang telah di tulis oleh tim penulis ini telah tersedia dalam Bahasa Indonesia dan Bahsa Inggris, sehingga memudahkan kita untuk mempelajarainya.

‘’Dengan adanya bacaan ini, anak-anak bisa mendengarkan secara langsung suara hutan, sehingga menarik untuk dibaca dan terdorong untuk menjaga dan melestarikannya.” Jelas Irene.

Sebagai narasumber dihadirkan ketua tim peneliti, Prof. Zuzana Burivalova dari Sound Forest Lab, Tatiana Maeda, peneliti  asal Brasil dan  H.S. Sathya Chandra Sagar peneliti asal  India.

Sedangkan perwakilan University of Wisconsin-Madison,  Prof Noah Feinstein,  Director of Curriculum and Instruction,  hadir sebagai Special Guest.

Setidaknya ratusan  siswa SD dan SMP di Maluku hadir dalam diskusi Hari Bumi secara daring ini. Diantaranya para siswa SD 245 Maluku Tengah yang mengikuti dari ruang kelas mereka secara virtual. Selain itu hadir juga siswa SD Kristen Kusu-Kusu Sereh, SMPN 15 dan SMPN 2 Ambon, sekolah Lentera Harapan, SMA N 8 Tanimbar,  SD N 1 Ambon, para guru,  serta sejumlah komunitas pencinta lingkungan lainnya.

Antusiaisme peserta terutama anak-anak nampak jelas saat sesi tanya-jawab pengenalan satwa hutan berlangsung, diskusi yang dipandu oleh Gloria M. F. Pingak salah satu storyteller dari Kampus Merdeka.

Menjawab pertanyaan siswa, Prof Zuzana, mengatakan,  seperti manusia, hewan-hewan itu juga punya rumah, jika kita saling menjaga dan tidak mengganggu mereka, maka keseimbangan ekosistem akan terjaga.

Sementara Sagar, peneliti India  menanggapi pertanyaan seorang siswa tentang sesama satwa yang saling memakan, “makhluk hidup lainnya juga butuh makanan untuk bertahan hidup, seperti kita manusia makan sambal, makan nasi goreng. Untuk itu, bagaimanapun makhluk hidup akan berusaha menjaga rumahnya, tetapi jika dia saling menghancurkan secara terus menerus, jumlah mereka akan saling berkurang, eksosistem akan terganggu, maka akan terjadi kehancuran. Semua yang ada di alam ini harus seimbang,” jelasnya.

Sedangkan Tatiana, peneliti Brazil menyatakan untuk menghargai mereka, harus  sama-sama menjaga bumi dengan tidak saling mengganggu.

Perihal penangkapan satwa untuk dijadikan hewan peliharaan, Zuzana mengajak peserta webinar  untuk merubah mindset dalam melihat satwa dan mau merubah cara menikmatinya, yakni dengan cara menikmati keberadaan mereka di alam.

Sebagai penutup, ketiganya memaparkan keberadaan kebun binatang sebagai tempat alternatif bagi beberapa jenis satwa yang hampir punah di hutan. Keberadaannya membantu satwa-satwa ini untuk bertahan dan berkembang biak sebelum dilepas kembali.

Kebun binatang bisa menjadi alternatif yang cukup ramah bagi anak-anak yang berada di kota sebagai ruang edukasi. Sedangkan bagi anak-anak di kampung, yang sudah terbiasa hidup berdampingan dengan berbagai jenis satwa, hutan akan selalu menjadi ruang edukasi yang ramah bagi mereka.

Pada kegiatan kali ini, Misheila  E. Telussa, Kewang Remaja Green Moluccas tampil sebagai Storyteller, menyampaikan pesan-pesan mengenai perlindungan lingkungan hidup, kerusakan hutan dan kondisi satwa lewat narasinya yang berjudul “Hutan Kalimantan”.

Di akhir kegiatan, empat orang siswa Sekolah Dasar yang berhasil menjawab pertanyaan seputar satwa hutan, mendapatkan giveaway, menjadi Adopter Mangrove Green Moluccas. Sebagai ucapan terima kasih, kelima narasumber juga diberi souvenir yang sama. (insany)