Perempuan Gereja (Catatan HUT 54 Perempuan GPM) Oleh: Pendeta Ruth Saiya

by
Pendeta Ruth Saiya

Setiap tanggal 5 Mei dirayakan sebagai Hari Ulang Tahun Perempuan Gereja Protestan Maluku (GPM). Tentu saja perayaan dimaksud tidak sebatas ritual serimonial semata. Momen HUT mesti menjadi kesempatan untuk bersyukur, melakukan evaluasi dan kritik diri (self critic) serta proyeksi tentang siapa dan mau kemana perempuan GPM dan perempuan dari berbagai agama serta kelas sosial untuk berkontribusi di ruang domestik maupu ruang publik secara terukur dan progresif. Dengan begitu perempuan bukan sekedar pelengkap apalagi objek sematan. Perempuan mesti menjadi subjek yang otonom guna berperan aktif dalam menata masa depan yang adil, damai dan sejahtera.

Sejarah perempuan Indonesia tidak terlepas dari kontribusi perempuan di keluarga, masyarakat dan komunitas agamanya. Di antaranya peran dan partisipasi perempuan di gereja. Dalam bukunya, Sejarah Perempuan Indonesia, Cora Vreede-de Stuers dengan mengutip apa yang tulis oleh J.J. Nanlohy, ia menulis bahwa dalam suku Ambon Kristen, “perempuan berada di posisi terdepan. Di dewan kota seperti di persidangan – perempuan dihargai kecerdasannya…selama bertahun-tahun dia telah menjadi anggota dewan gereja….di beberapa desa di Ambon seorang perempuan dipercaya memimpin desa, dengan dibantu dewan desa”. Yang menarik adalah, Cora mengelompokkan aktifitas perempuan ini dalam bab 2 bukunya dan diberi judul para pelopor gerakan feminis. Artinya, tiap aktifitas yang dilakukan oleh perempuan baik di pedesaan maupun perkotaan adalah bagian dari gerakan feminis dan pergerakan perempuan Indonesia. Walaupun yang ditampilkan adalah secuil dari apa yang dilakukan oleh tiap perempuan dalam komunitasnya. Mereka menghadapi persoalan kemiskinan, buta huruf, dan perbudakan di bawah penindasan rezim yang berkuasa. Oleh Ruth Indiah Rahayu yang memberi pengantar pada buku ini, dia menyebutkan bahwa studi yang dilakukan oleh Cora ini adalah perintis bagi studi gerakan perempuan modern awal abad ke-20 yang dipengaruhi oleh suasana pergerakan nasional. Ini hasil penelitian yang dilakukannya sejak tahun 1937-1955. Jadi kita bisa membayangkan saja, bagaimana pergerakan perempuan Indonesia sebelum Indonesia merdeka, setelah Indonesia merdeka hingga sekarang ini, termasuk perempuan gereja turut memberi warna dalam sejarah besar bangsa ini. Perspektif feminis juga akan menolong kita memahami sejarah bangsa ini, termasuk sejarah gereja ini menjadi lebih utuh. Bahwa sejara bangsa dan khususnya juga di gereja ini bukan semata sejarah kaum bapak atau sejarah kaum elit namun menjadi sejarah bersama.

Tahun ini dalam HUT perempuan GPM ke-54, gereja ini mensyukuri kemurahan Tuhan bagi perempuan gereja dengan potensi yang mereka miliki. Dan satu hal yang penting, adalah bahwa potensi perempuan itu semakin berguna karena kerjasama semua orang dan semua pihak di gereja ini. Sebagai perempuan GPM kita mensyukuri kemurahan Tuhan yang telah memberikan kepada tiap-tiap perempuan di GPM potensi untuk terus diberdayakan supaya dia tetap bisa menjadi berkat sesuai dengan bidang-bidang hidup yang dia tekuni mulai dari dalam rumah, di tempat kerja dan di masyakarat.

Perempuan GPM juga akan bergerak bersama menuju 100 tahun GPM di Maluku dan Maluku Utara. Semua potensi gereja akan bergerak ke arah itu termasuk perempuan. Pemetaan aktifitas, peran dan partisipasi perempuan GPM di gereja, masyarakat dan bangsa penting dilakukan. Hal ini bukan berarti perempuan GPM akan semakin eksklusif namun dari pemetaan itu kita akan mendapat gambaran yang utuh, bagaimana peran perempuan gereja di GPM sejak tahun 1935, kemudian pada fase pembentukan wadah bagi perempuan di GPM tahun 1968 hingga sekarang ini dan menuju 100 tahun GPM nanti. Menurut beta ini hal yang bisa kita lakukan secara bersama-sama. Jika kita berbicara tentang sejarah perempuan gereja maka bukan saja para pendeta, penatua dan diaken tapi juga warga profesi dan warga jemaat. Jadi semua orang bisa saja menuturkan, merekam dan menuliskan aktifitasnya dan menjadikannya sebagai dokumen gereja ini, menjadi dokumen hidup dan menjadi saksi sejarah pertumbuhan gereja ini dari waktu ke waktu.

Toma maju perempuan GPM.
Salam dari waringin Pintu.