Catatan Dari Kepulauan Banda Oleh: Rudy Rahabeat, Pendeta GPM

by

Seperti semerbak wangi Pala, demikian indahnya kepulauan Banda di Maluku Tengah. Ada tujuh pulau utama di Banda yakni Banda Naira, Banda besar, pulau Ay, pulau Lontar, pulau Hatta dan pulau Rhun. Ada ragam cerita tentang pulau-pulau bersejarah ini. Cerita tentang genosida yang dilakukan Gubernur Jenderal Yan Piterzoon Coen terhadap ribuan orang Banda tahun 1621, hingga cerita tentang Perjanjian Breda, antara Belanda dan Inggris yang mempertukarkan pulau Rhun dengan pulau Manhattan di Amerika Serikat tahun 1667. Waktu itu pulau Rhun dikuasai Inggris dan Manhattan dikoloni oleh Belanda. Waktu terus berlalu, masyarakat terus berubah. Kunjungan singkat di pulau Banda Neira dan pulau Ay menyisipkan beberapa catatan kecil berikut.

Pertama, pulau-pulau yang indah. Barangsiapa yang baru pertama kali datang ke pulau Banda pasti terpesona dengan pulau ini. Ada pulau gunung api yang menjulang tinggi. Di sisi kanannya terlihat bebatuan hitam yang eksotik. Di pulau Banda Naira misalnya terdapat dua benteng peninggalan Belanda yakni Benteng Nassau dan Belgica. Ada upaya membangun terowongan bawah tanah yang menghubungkan kedua benteng tersebut. Benteng-benteng ada pula di pulau-pulau lainnnya. Di Naira ada pula rumah pengasingan Bung Hatta, salah satu proklamator Indonesia. Saat singgah di rumah itu pintunya terbuka. Di dalamnya ada lemari yang berisikan pakaian jas yang dikenakan Wakil Presiden Indonesia pertama itu. Di samping kanan rumah ada sebuah perigi. Dua buah kursi santai di bagian belakang. Saya membayangkan Bung Hatta duduk di kursi itu sambil membaca dan menulis. Ada juga gereja Tua Banda Neira. Menurut Ketua Sinode GPM, Pdt Elifas Maspaitella, gereja itu merupakan salah satu monumen sejarah gereja tertua di Asia Tenggara.

Kedua, pulau Ay yang unik. Pulau Ay merupakan pemasok pangan bagi pusat kecamatan. Seorang Ibu di Ay menuturkan kepada saya bahwa hasil alam dari pulau Ay sangat dinanti masyarakat di pulau Naira, pusat kecamatan Banda. Pisang, ubi kayu, keladi merupakan beberapa pangan lokal yang memenuhi kebutuhan pangan masyarakat Naira yang merupakan penduduk terpadat di kepulauan Banda. Di pulau Ay juga terdapat Guest House. Rupanya untuk menerima turis yang berkunjung ke pulau itu. Ada beberapa situs sejarah di pulau Ay di antaranya Benteng Revenge dan gereja tua Ay. Benteng Revenge sudah kian rapuh. Temboknya tinggal sisa-sisa saja. Begitu pula gereja tua Ay sudah tidak berfungsi. Di depan bangunan gereja tua itu terdapat sejumlah makam orang Belanda. Ada sebuah perigi di samping kanan gereja. Perigi itu sudah tidak berfungsi lagi. Dinas Pariwisata memasang papan pengumuman di depan gereja menandakan situs ini dilindungi negara. Sebuah gereja baru dibangun di pulau Ay yang merupakan jemaat Gereja Protestan Maluku yang diketuai Pendeta Roman Latumeten. Di samping gereja terdapat rumah pendeta (pastori). Kedua bangunan itu letaknya tidak jauh dari pantai. Saat tiba di pulau Ay kami sempat bercakap singkat dengan Haji Jumat. Lelaki 84 tahun ini masih terlihat segar dan kuat. “Saya berasal dari Ay, walau orang tua saya dari Buton Wance” ungkapnya sambil tertawa. Menurut Pendeta Roman, Haji Jumat memiliki rumah dan toko yang besar. Ia merupakan orang terkaya di pulau itu. Leluhurnya yang berasal dari Buton juga mengkonfirmasi bahwa penduduk pendatang terbanyak di kepulauan Banda berasal dari Buton. Tentu ada pula etnis lainnya seperti Jawa, Bugis, Makassar, Maluku dan sebagainya.

BACA JUGA :  Bangunan ACC Passo Yang Rusak Akibat Gempa Diperbaiki

Ketiga, relasi antar agama yang dinamis. Saat anak saya Kia (9 tahun) tiba di pastori (rumah pendeta) Banda Neira ia memiliki kesan tersendiri. “Orang Banda ini baik ya? Ada ibu-ibu berjilbab melayan di dapur pastori” ungkapnya kepada Pdt Yuliet Noya, Ketua Majelis Jemaat GPM Banda Neira. Seorang anak memberi impresi terhadap simbol relasi antar agama. Walau pemeluk agama Kristen tidak banyak di kepulauan Banda, namun sejak dulu agama Kristen hidup berdampingan dengan saudaranya, kaum Muslim. Klasis GPM Pulau-pulau Banda sebelum tahun 1999 terdiri atas 5 jemaat masing-masing di pulau Lontor, Rhun, Hatta, Ay, dan Banda Neira. Kini tersisa tiga jemaat yakni Jemaat GPM Ay dan Jemaat GPM Banda Neira serta satu jemaat di Ambon yakni Jemaat GPM Sola Scriptura Banda Suli. Pdt Boy Tuhumena merupakan Ketua Klasis GPM Pulau-pulau Banda saat ini. Dalam lintasan sejarahnya berbagai bangsa dan agama berinteraksi di Banda. Sebuah Masjid di dekat pelabuhan Banda menjadi penanda kekentalan agama Islam yang dipeluk masyarakat setempat.

Keempat, geliat masyarakat Banda. Malam hari kami mampir di sebuah café dekat pelabuhan. Nama kafe itu Spice Islands café. Nama yang menarik. Yang membuat kami agar tersentak pada lukisan-lukisan di tembok café yang berlatar budaya Jawa. Gambar wayang misalnya. Kami bertanya dalam hati mengapa tidak ditampilkan gambar yang berciri Banda seperti pohon Pala, atau ikan Cakalang Banda, dan sejenisnya. Ini berbeda dengan lukisan di hotel tempat kami menginap. Ada gambar pohon kenari besar dan penari Cakalele. Seorang sahabat mengatakan bahwa ketika Des Alwi masih hidup, ia sangat menjaga berbagai benda warisan masa lalu. Bangunan-bangunan tua dilestarikan. Tetapi setelah beliau wafat kesannya warisan-warisan itu kurang terawat. Semoga pemerintah tetap memberi perhatian untuk hal ini. Des Alwi merupakan anak angkat Bung Hatta, salah satu tokoh nasional, penulis buku Sejarah Maluku: Banda Naira, Ternate, Tidore dan Ambon (Dian Rakyat, 2005). Masyarakat Banda terus bergeliat melintasi zaman yang terus berubah. Harapannya mereka tetap eksis dan sejahtera di kelilingi kekayaan alam yang mereka miliki.

BACA JUGA :  Wartawan Bursel, Korban Pengeroyokan Meninggal Dunia

Banda tetap memesona. Sejumlah buku ditulis tentang Banda. Novel Mirah dari Banda karangan Hanna Rambe (1986), Banda Zone karangan Roy F Ellen (2003), The Nutmegs Curse karya Amitav Ghosh (2021) serta sejumlah film tentang Banda menegaskan bahwa Banda sungguh kaya dalam berbagi aspeknya. Seperti Gunung Api Banda yang indah, di dalamnya ada potensi bencana yang sewaktu-waktu datang tiba. Hidup memang selalu menyisahkan tanda tanya. Seperti laut yang tak selalu tenang teduh, kita mesti siaga kala badai tiba. Kita harus terus memberi makna atas hidup ini. Danke banya Banda, danke banya Paneee ! (RR).

No More Posts Available.

No more pages to load.