Jembatan Penghubung Tak Ada, Anak Sekolah di Batabual Kabupaten Buru Harus Bertaruh Nyawa Seberangi Sungai Deras Demi Bersekolah

by
Anak-anak sekolah terobos aliran sungai yang mengalir deras saat menyeberang dari Dusun Waelawa ke Desa Waemorat, Kecamatan Batabual, Kabupaten Buru, sepulang sekolah, Selasa (9/8/2022). Foto : Tangkapan Layar

TERASMALUKU.COM,-AMBON-Tak ada infrastruktur jembatan penghubung, anak-anak sekolah di Kecamatan Batabual, Kabupaten Buru terpaksa harus bertaruh nyawa seberangi aliran sungai yang mengalir deras demi bersekolah.

Potret yang cukup memprihatinkan ini diabadikan akun Muhammad O. Galela melalui postingannya di jejaring sosial Facebook, Selasa (9/8/2022).

Dalam postingan video pendek bedurasi 0:45 detik dan 0:15 detik tersebut terlihat anak-anak sekolah berseragam SMA seberangi aliran sungai yang mengalir deras. Mereka harus ceburkan diri ke dalam aliran sungai dan menerobos lebar sungai berkisar 10 meter lebih itu.

Terlihat juga sejumlah pelajar diseret aliran sungai saat menyeberang. Mereka pun harus saling berpegangan tangan.

Dikonfirmasi via seluler Rabu (10/8/2022), Muhammad O. Galela, warga Dusun Waelawa yang memposting potret perjuangan anak-anak sekolah tersebut mengatakan video tersebut menunjukan potret anak-anak sekolah dari Desa Waemorat, Kecamatan Batabual bertaruh nyawa saat seberangi sungai sepulang sekolah Selasa (9/8/2022) kemarin. Para pelajar itu kata Muhammad, merupakan siswa-siswi SMA 11 N Buru. SMA N 11 Buru terletak di Dusun Waelawa, Desa Persiapan Waelawa.

Begitu juga ketika akan pergi ke sekolah, cara yang sama harus ditempuh mereka.

Meski berbahaya, mau tak mau terpaksa dilakukan anak-anak di kawasan ini dan berlangsung setiap hari ketika menuju atau pulang sekolah.

Cara ini terpaksa dilakukan anak-anak sekolah itu lantaran tidak ada jembatan yang menghubungkan dua sisi daratan dari sungai tersebut. Sementara jika harus menempuh jalur darat, maka jarak yang ditempuh sangat jauh, 3 kilometer.

“Iya (terpaksa harus seberangi sungai). Sekolah (SMA) berada di Dusun Waelawa, sementara anak-anak sekolah dari Waemorat harus terobos aliran sungai agar bisa mencapai sekolah,”kata Muhammad O. Galela dihubungi terasmaluku.com via seluler dari Ambon, Rabu.

BACA JUGA :  Inisiasi Pemuda Skip Bagi Sembako kepada Warga Sekitar

Tidak hanya anak SMA, anak-anak SMP juga demikian, harus bertarung nyawa seberangi sungai tersebut ketika menuju maupun pulang dari sekolah. Jika anak sekolah SMA N 11 Buru menyeberang dari Waemorat Dusun Waelawa, anak sekolah SMP N 25 Waemorat yang berasal dari Dusun Waelawa harus seberangi sungai dari Waelawa ke Waemorat.

Perjuangan anak-anak sekolah tersebut, sambung dia sangat membahayakan keselamatan. Peristiwa-peristiwa terseret aliran sungai pun tak terelakan, kerap terjadi.

Apalagi saat hujan lebat dan aliran sungai menjadi lebih deras, tingkat bahayanya lebih besar lagi dan tak jarang anak-anak terpaksa tak bisa bersekolah akibat takut menyeberang. “Kalau talalu kuat (aliran sungai terlalu deras), dong seng bisa lewat (mereka tidak bisa ke sekolah), nyawa taruhan,”sambungnya.

Ternyata, kondisi yang terbilang sangat memprihatinkan ini sudah berlangsung selama 20 tahun lantaran belum ada jembatan penghubung yang dibangun pemerintah. “Katong (kita) punya kecamatan (Batabual) ini sudah 20 tahun, sampai sekarang belum ada jembatan,”sebutnya.

Dia berharap secepatnya pemerintah daerah berikan perhatian serius atas persoalan ini.

“Katong (kita) berharap semoga pemerintah daerah, pemerintah Provinsi Maluku usulkan anggaran untuk pembuatan jembatan sesuai janji Gubernur kemarin. 77 tahun Indonesia merdeka, 20 tahun Kecamatan Batabual jadi (berdiri), jembatan belum jadi-jadi,”tandasnya.

Penulis : Ruzady Adjis

BACA BERITA TERKINI LAINNYA DIĀ GOOGLE NEWS

No More Posts Available.

No more pages to load.