Cita, Cinta dan Tekad Yang Menembus Batas ; Catatan dari Fesfip AMGPM 2022

by
Paling kiri, Pdt Rido Kwalomine. FOTO : DOK. Pdt Rido Kwalomine, Pengurus Besar PB AMGPM

Pada Jumat 23 September 2022, sore hingga malam gedung Baileo Oikumene gegap gempita dengan temaran cahaya lampu sorot warna warni, musik ukulele dan parade film pendek dalam acara puncak Festival Film Pendek AMGPM 2022. Perhelatan yang digelar oleh Pengurus Besar itu berujung pada Penganugerahan dan Nonton Bareng Film Pendek karya orang-orang muda yang cerdas dan kreatif. Diketahui ada 12 karya film pendek yang dilombakan.

Dari Maluku Utara, AMGPM Ranting Geresareth, Labuha tampil dengan film yang berjudul Labuha; Damai di kaki gunung Sibela. Film yang berdurasi 14 menit, 56 detik dibuka dengan penjelasan histori Canga dan komunitas Suku Boeng di Labuha sebagai negeri tua yang terletak di pesisir pantai Pulau Bacan. Film ini bercerita tentang peristiwa kemanusiaan yang kelam, pengungsian, kerinduan pada tanah leluhur, recovery, suasana damai dan kehidupan sosial masyarakat yang hidup tentram satu dengan yang lain dalam semangat Saruma. Gunung Sibela adalah gunung tertinggi dipulau Bacan yang memberi harapan dan masa depan bagi semua orang seperti ibu dan anak-anaknya.

Dari Utara Pulau Seram, AMGPM Daerah Seram Utara menampilkan film yang bercerita tentang suku Mausu Ane yang tertinggal, terabaikan dan terasing ditengah-tengah kemajuan modernitas. Film yang berjudul Merayakan Cinta di Utara Nusa Ina ini bermakna advokatif mengangkat komunitas Mausu Ane yang memprihatinkan. Film ini seolah-olah menginterupsi negara bahwa negara gagal dalam mewujudkan Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia khususnya untuk warga suku Mausu Ane, suku terasing yang juga adalah warga Indonesia yang cinta merah putih. Film dengan sound track lagu Hio – hio yang pernah dipopulerkan oleh Hani Tuhuteru di era tahun 80-an seolah-olah mengusik jiwa ke-Malukuan yeng bergelora meronta melihat ketidak adilan yang terjadi di Nusa Ina, tanah yang kaya dan subur.

Dari Nusa Apono pulau Ambon ada tujuh karya film yang dilahirkan, masing-masing film berjudul Soya Murni produksi Theology Community, Dari Sapanggal Maluku produksi Welora Cinema yang berbasis di Amahusu, Masohi Semanis Kacang Gula produksi AMGPM Ranting Elim Hative Besar, Radio Usang yang diproduksi oleh Exodus Picture AMGPM Ranting II Lata, Barmaeng produksi AMGPM Ranting Fajar Pengharapan, Monokrom karya Rasta Production yang beralamat di Negeri Suli dan Diantara karya AMGPM Ranting Bethfil, Cabang Ebenhaezer–Passo sekaligus menobatkan AMGPM Daerah Pulau Ambon Timur sebagai Daerah yang memiliki peserta terbanyak di panggung perdana festival ini serta menjadikan Film bertitel Diantara yang bercerita tentang tanggung jawab generasi muda terhadap lingkungan hidup sebagai film yang memenangkan kategori the Best Fun Film Fesfip AMGPM 2022 setelah berhasil menghumpulkan 1017 likers pada official medsos Fesfip AMGPM 2022.

BACA JUGA :  Tim KemenpanRB Visitasi Transformasi IAIN Ambon ke UIN Imam Rijali

Film Elias produksi Ranting Yabok, Cabang Bethania, Daerah Kairatu menyabet trophi pada kategori the Best Director Fesfip AMGPM 2022. Film Elias menceritakan tentang seorang pemuda piatu yang bertanggung jawab untuk menghidupi ibu dan tiga orang adiknya serta berjuang untuk masa depan adik perempuan yang sedang berjuang di perguruan tinggi. Elias sebagai tokoh utama berada dalam dilema antara Cita-cita untuk keluarganya dan gelora cintanya untuk gadis pujaannya. Film yang berdurasi 16 menit 58 detik ini mengambil latar desa Waihatu – Kecamatan Kairatu yang heterogen dengan percampuran budaya lokal dan budaya Jawa sebagai desa transmigrasi. Film Elias mampu mendelivery sebuah pesan tentang budaya hybrid, kreativitas dan keunikan masyarakat kultural yang berhadapan dengan kemajuan modernitas.

Dapat dipastikan bahwa peserta Fesfip AMGPM 2022 yang paling berbahagia dan bangga adalah Daerah Buru Selatan. AMGPM Dari Bumi Bupolo ini datang dengan dua film berjudul Anafina; the story of Olif dan Geba. Geba menceritakan advokasi lingkungan, penolakan perusahaan dan ilegal loging yang dilakukan oleh Geba atau saudara laki-laki Bupolo. Pada Fesfip AMGPM 2022 yang perdana ini, dewan juri menobatkan Anafina; the story of Olif sebagai pemenang yang menyabet dua kategori yaitu the Best Film fesfip AMGPM 2022 dan the Best Script Writter fesfip AMGPM 2022. Anafina dalam bahasa Buru berarti Perempuan.

Perempuan Buru adalah manusia sejati yang berada dalam kekuatan adat Bupolo dan cita-cita untuk terbang tinggi melampaui batas-batas patriarki dan hegemoni kekuasaan yang menaklukan. Anafina mengangkat satu kisah nyata dari negeri di pedalaman Buru diantara barisan bukit dan gunung Ephrarat yang menjulang. Fakal, negeri diatas awan yang menjadi latar film tidak hanya mempersembahkan surga holtikultura yang memproduksi wortel dan kentang segar namun juga melahirkan manusia-manusia tangguh yang menggugat kokohnya gunung dan terjalnya lembah yang dalam. Anafina memburai cita-cita anak Bupolo yang bertarung diantara dinding-dinding dunia pendidikan yang rapuh. Anafina tidak hanya menyajikan film yang indah dalam Fesfip AMGPM 2022 sebagai peraih the Best Film, namun juga mempersembahkan kisah otentik dengan skenario yang memperhitungkan plot yang dinamis bersama ending yang memuaskan penikmat film.

PB AMGPM membaca potensi orang-orang muda yang berbakat dan visioner dengan Fesfip AMGPM 2022. Atas kerja sama dengan Badan Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Maluku dan instansi atau pihak terkait, maka festival film pendek Seribu Pulau Maluku 2022 dapat digelar. Festival ini tidak semata–mata menjadi ajang kompetisi akan tetapi juga menyediakaan fasilitas pembinaan film maker dengan proses yang dapat dipertangungjawabkan. Tidak berlebihan, namun dapat dikata bahwa Festival Film Pendek AMGPM 2022 merupakan sebuah even perdana yang baru pernah dilakukan di Maluku dan Maluku Utara sekaligus menjadi ruang yang bebas bagi orang-orang muda yang kreatif dan inovatif untuk berekspresi.

BACA JUGA :  Kapolda Maluku Bagikan Makanan Berbuka Puasa, Warga Dihimbau Hilangkan Rasa Dengki

PB AMGPM menyadari bahwa film merupakan salah satu bagian dari sarana komunikasi yang efektif dalam penyebarluasan ide dan gagasan untuk mengungkapkan kreativitas yang direkam pada pita selluloid, pita video atau teknologi lainnya. Film juga merupakan media ekspresi seni dan budaya yang dapat melukiskan kehidupan manusia dan watak sebuah bangsa dan masyarakat. Film mengandung tiga unsur yakni edukasi, estetika dan komersial. Sehingga berfungsi sebagai media hiburan dan pengetahuan, sarana pengekspresian diri, media penerangan dan pendidikan serta pengembangan budaya bangsa.

Fesfip AMGPM 2022 yang berlangsung sejak tanggal 8 Juli 2022 akhirnya dikunci dengan Malam Penganugerahan bagi para pemenang. Dua Juri Profesional dihadirkan oleh Panitia dalam gawe ini adalah Sairin “Embong” Salampessy seorang Jurnalis Senior yang banyak terlibat dalam kerja-kerja ekonomi kreatif dan peliputan serta M. Irfan Ramli, director dan script writter ternama yang melahrikan film Cahaya dari Timur; Beta Maluku, Filosofi Kopi, Surat dari Praha deretan film lainya sebagai script writter, story development dan director untuk menjaga kualitas materi festival. Proses penilaian dan kategori pemenang ditentukan bersama secara profesional seperti yang biasa digunakan dalam Festival Film Indonesia.

Irfan Ramli mengungkapkan bahwa dirinya sudah lama merindukan adanya sebuah even yang dilakukan di Maluku dalam rangka membina generasi muda Maluku termasuk Maluku Utara untuk serius menggeluti dunia ekonomi kreatif dan industri film sebagai film maker sebab seni musik dan seni peran adalah satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Dirinya pun berharap agar Maluku tidak hanya dikenal sebagai gudangnya penyanyi tetapi juga dapat merambah perfilman, sebab dengan film kita dapat membangun manusia Maluku yang lebih bermartabat. Hal senada juga disampaikan oleh Penjabat Walikota Ambon, Ketua Umum PB AMGPM dan MPH Sinode GPM dalam sambutan dan arahan masing-masing.

Penulis : Pdt Rido Kwalomine, Pengurus Besar PB AMGPM