Kenali Sumber Air Yang Dikonsumsi Masyarakat Indonesia, Sehat Hingga Tercemar

by
Sumber air minum yang dikonsusmi masyarakat Indonesia. FOTO : Tangkapan layar

TERASMALUKU.COM,-AMBON-Air merupakan zat gizi yang sangat penting bagi tubuh manusia, sama pentingnya mengkomsumsi makanan pokok, sayur mayur dan buah-buahan serta lauk pauk.

Awalnya air merupakan zat gizi yang terlupakan, namun sejak 2013, air masuk dalam angka kecukupan gizi untuk orang Indonesia. Artinya, air harus dipenuhi dalam kehidupan keseharian.

Air sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Tiap hari, tubuh kita harus memiliki kecukupan air mineral.

 

Namun bukan sekedar minum untuk memenuhi kebutuhan, tapi kualitas air sangat penting untuk kesehatan tubuh.

Nah, ukuran kualitas air sangat ditentukan darimana sumber air yang kita minum. Jangan sampai air yang kita minum tercemar. Karena jika hal itu terjadi akan berdampak pada kesehatan tubuh, baik jangka pendek maupun jangkan panjang.

Ketua Departemen Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) Dr. Nurul Ratna, M.Gizi, SpGK. FOTO : Tangkapan layar

Kebutuhan air minum kita sehari-hari sumbernya bermacam-macam. Ketua Departemen Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) Dr. Nurul Ratna, M.Gizi, SpGK menyebutkan ada 4 sumber air minum yang dikonsumsi masyarakat Indonesia.

Yakni, air dalam kemasan, yang dikonsumsi 31 persen masyarakat Indonesia, sumur air terlindungi, yang dikonsumi 21 persen, air dari sumur pompa yang dikonsumsi 15 persen serta air dari Ledeng atau PDAM yang dikomsumsi 11 persen masyarakat Indonesia.

Berdasarkan tempat, sumber air berasal dari air permukaan tanah dan air tanah. Air tanah terdiri, air tanah dangkal dan air tanah dalam.

Untuk air permukaan atau air dangkal kata Nurul, kualitasnya tidak terlindungi, khususnya karena cemaran mikrobiologisnya. Air pemukaan lebih rentang terhadap pencemaran dari permukaan tanah.

Contohnya air tanah dangkal di perumahan daerah padat penduduk rentan tercemar bakteri jika jarak antara septic tank dan sumber air kurang dari 10 meter. Sumber air yang tidak terlindungi ini juga rentan tercemar pestisida, dan pupuk dari area persawahan atau deterjen dari aktivitas mencuci.

“Untuk air dangkal kan pakai sumur pompa, ini hati-hati, kadang-kadang masih ada cemara, terutama kalau dekat dengan tempat pembuangan kotoran, (septic tank) atau dekat dengan sawah, ada pupuk, bahan kimia, ini bisa tercemar,” kata Nurul saat Workshop Virtual yang digelar Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) dan Danone Indonesia, Syber Media Forum bertemakan “Potret dan Tantangan Kesehatan Masyarakat Menuju Endemi Covid-19, Rabu (21/9/2022).

BACA JUGA :  Warga Hila Gelar Prosesi Adat ¬†Pemasangan Atap Pamali Rumah Pusaka Hatala

Sedangkan air tanah dalam kualitasnya lebih terlindungi. Karena itu, Nurul meminta masyarakat untuk memilih menggunakan air tanah dalam karena merupakan sumber air yang terlindungi.

Dari hasil survei  kata Nurul, menunjukan banyak sekali masyarakat Indonesia yang belum memanfaatkan air dari sumber yang terlindungi.

Urusan air bukan sekedar minum dan memenuhi kebutuhan sehari-hari, tapi kualitas air itu yang perlu pertimbangkan secara matang.

“Tidak cuma sekedar kalau direbus cukup deh, pasti akan bebas dari cemaran, ternyata itu tidak cukup. Karena penanganan yang tidak tepat dapat menyebabkan cemaran bakteri E.coli pasca perebusan,” kata Nurul, ahli gizi UI ini.

Nurul menyebutkan, hasil survei kepada 400 ibu rumah di sejumlah kota besar terhadap berbagai sumber air, terungkap kalau mereka tidak aman dengan kualitas air minum yang dikonsumsi tiap hari. Tidak semua air minum sama, air yang jernih, tidak berbau dan tidak berasa saja tidak cukup. Bisa jadi ada cemara jahat yang tidak terlihat, tidak berbau dan tidak berasa.

Jangan sampai cemara jahat dari air yang diminum, menumpuk menyebabkan penyakit serius dan menggangu perkembangan tubuh. Efek cemar jahat memang tidak langsung terasa oleh tubuh, tapi dalam jangka panjang akan berdampak pada kesehatan.

Nurul yang juga pengurus Indonesian Hydration Working Group (IHWG) kelompok studi terkait hidrasi, mengingatkan cemaran di dalam air minum yang perlu diwaspadai. Seperti bakteri penyebab penyakit, senyawa kimia, senyawa pestisida, senyawa organik, logam berat dan bakteri penyebab penyakit.

Nurul menegaskan air minum yang tercemar berdampak bagi kesehatan tubuh. Seperti air minum yang tercemar dari kotoran manusia, E. coli dan koliform yang dapat menyebabkan diare.

Untuk jangka panjang, minum air yang tercemar dapat menyebabkan gangguan kehamilan, bayi lahir dengan berat rendah, gangguan perkembangan saraf pada anak-anak dan janin, serta gangguan ginjang dan pencernaan.

BACA JUGA :  Mendikbud Akui Belum Punya Konsep Tangani Pendidikan Daerah Kepulauan
FOTO : Tangkapan layar

Nurul menyebutkan data BPS tahun 2018, 10 dari 34 provinsi di Indonesia memiliki indeks kualitas air yang buruk, dengan cemaran bakteri E.Coli, (penyebab diare) yang cukup tinggi.

Sementara itu, data riset Kemenkes RI Tahun 2018, prevalensi diare di Indonesia meningkat 5x dari tahun 2011 ke 2018. 1 dari setiap 10 balita di Indonesia menderita diare. Diare merupakan salah satu penyebab utama kematian pada balita.

Lalu solusinya apa untuk mendapatkan air minum yang berkualitas untuk keluarga?

Menurut Nurul, sebaikya memilih air minum yang sumber airnya jelas dan berkualitas. Tidak hanya air dari penggunungan atau air tanah dalam, pengolahan air yang baik juga penting untuk menjaga kualitas air yang baik.

Air minum yang diproduksi di tempat yang bersih serta higianis, belum tentu karyawannya dapat menjaga kesehatan dirinya. Air minum yang baik, diproduksi melalui proses yang ketat dan terstandarisasi untuk menjamin kualitasnya seperti air.

Karena itu, Nurul menyarankan masyarakat mengkonsumsi air yang berkualitas dan terlindungi untuk memenuhi kebutuhan air keseharian. Mau seperti apa air minim yang dipilih, keputusannya dari keluarga.

“Tapi pastikan sumbernya terlindungi, dari sumber air penggunungan yang konstan, kualitasnya baik. Jadi jangan sekali-kali gunakan air lendeng, air tanah atau air isi ulang yang tidak jelas sumbernya atau mereknya. Jadi saran saya, gunakan air galon atau air dalam kemasan yang memang kita tau sumbernya terpercaya,” kata Nurul.

Editor : Hamdi

No More Posts Available.

No more pages to load.