Remah-Remah Sejarah Kekristenan Maluku Oleh : Rudy Rahabeat

by
Dari kanan, Yusak Soleiman, Ph.D, Pendeta Rudy Rahabeat, dan Dr Johan Saimima. FOTO : ISTIMEWA

Sejarah Kekristenan Maluku itu kaya dan kompleks. Mulai dari kehadiran Portugis hingga Belanda, Inggris dan Jepang. Selanjutnya sejarah dalam kaitan nasionalisme Indonesia, pembangunan bangsa dan masa-masa krisis ketika badai konflik Maluku 1999.

Kondisi kesejarahan makin dinamis tatkala pandemi covid 19 dan revolusi teknologi informasi yang kian merebak. Semua itu turut membentuk corak dan pola Kekristenan Maluku. Terlalu sederhana bahkan naif jika menganalogikan Kekristenan Maluku ibarat kue lapis atau varnish sebagaimana dibilang Hendrik Kraemmer (1922).

Berikut ini beberapa catatan kecil ketika berkesempatan berdiskusi dan mengikuti beberapa presentasi yang disampaikan Yusak Soleiman, Ph.D dosen Sejarah Kekristenan Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Jakarta juga diskusi bersama koleganya Dr Johan Robert Saimima, dosen Sejarah Kekristenan Fakultas Teologi UKIM Ambon. Dr Yusak sedang melakukan sabbatical leave di UKIM sejak 17 Agustus hingga 9 Oktober 2022.

Pertama, pentingnya mengumpulkan, merawat dan memaknai arsip dan dokumen. Seperti ungkapan klasik no arsip no history, maka ikhwal menemukan dan merawat arsip merupakan hal yang urgen dan penting. Soalnya adalah ketika arsip itu makin langka atau tersebar di mana-mana. Konteks Maluku sebagai wilayah kepulauan memberi tantangan tersendiri terhadap upaya tersebut. Mungkin saja di warga jemaat atau warga masyarakat ada sejumlah arsip tua, tetapi masih tersimpan dan belum dikumpulkan. Ini butuh kerjasama untuk berburu arsip dan merawatnya.

Saya lalu teringat kerja-kerja Benjamin Frederik Matthes, seorang pendeta Belanda di Sulawesi Selatan, ketika sejak 1847 mengumpulkan karya sastra lokal orang Bugis yang kemudian dikenal sebagai sastra epic La Galigo. Tanpa kerja keras Mathhes yang kemudian membawa dokumen-dokumen tersebut di Belanda untuk diarsipkan tentu sulit mendapatkan publikasi La Galigo saat ini yang diterjemahkan dari Bahasa Bugis ke Bahasa Indonesia sebanyak tiga jilid, hampir tiga ribu halaman.

BACA JUGA :  Kapal Berpenumpang 12 Orang Dan Membawa Jenazah Hilang Kontak di Perairan Tual

Kedua, sejarah dari bawah dan pinggiran. Bukan rahasia umum lagi jika sejarah yang ditulis selama ini lebih condong pada sejarah para penguasa, elite dan kelompok dominan. Sejarah para feodal dan orang-orang kuat (big man). Sejarah juga ditulis dari pusat-pusat kekuasaan dan peradaban. Akibatnya, sejarah dari pinggiran dan sejarah orang-orang kecil terabaikan bahkan terlupakan. Dalam sejarah Indonesia muncul Sartono Kartodirjo yang memperkenalkan historiografi baru yang multiperspektif. Sejarah sosial dan orang-orang kecil mulai muncul di panggung penulisan sejarah. Inilah yang disebut sejarah dari bawah (history from below) dan atau sejarah dari pinggiran (history from margin).

Dalam kekristenan pun terkadang kita disuguhkan dengan nama-nama para Zending dan misinonaris dari Barat. Ini bukan berarti kita tidak mengakui mereka atau mengabaikan mereka. Tetapi kita juga perlu menggali dan memberi ruang untuk suara-suara marginal dan sumber-sumber lokal untuk muncul dan dimunculkan dalam panggung sejarah. Guru Injil atau Guru Jemaat orang-orang pribumi asal Ambon-Maluku yang memberitakan Injil di berbagai wilayah seperti di Sulawesi, Papua, Nusa Tenggara Timur, dan seterusnya perlu diangkat dan mewarnai penulisan sejarah Kekristen. Juga peran warga jemaat awam patut diberi porsi yang layak.

Ketiga, sejarah berperspektif gender. Pendeta Margareta (Etha) Ririmasse-Hendriks yang pernah menjadi salah satu moderator Dewan Gereja Sedunia, pada sesi seminar Sejarah Gereja Protestan Maluku (1/10/2022) memberi catatan kritis bahwa penulisan sejarah Kekristenan kadang bias gender. Peran dan kontribusi perempuan kadang diabaikan. Makanya yang muncul adalah gereja laki-laki. Padahal peran dan kontribusi perempuan tidak kalah pentingnya. Ia mencontohkan istri dari para Guru Injil atau Pendeta yang mendampingi suami mereka di jemaat-jemaat, mereka juga turut memberdayakan warga jemaat dan membangun masyarakat. Hal ini diaminkan Dr Johan Saimima yang berdasarkan studi arsipnya menemukan bahwa perempuan juga turut berperan dalam gerakan pembaruan gereja di Maluku. Sejarah berperspektif gender ini memang perlu diarusutamakan (mainstreaming) dalam rangka keadilan gender (gender justice) dan corak gereja dan kekristenan yang inklusif dan merangkul.

BACA JUGA :  PAD Maluku Tahun 2021 Lampaui Target, Nilainya Rp 547 Miliar

Keempat, digitasi arsip dan publikasi. Kita hidup di era digital. Gereja Protestan Maluku memberi aksentuasi tentang pentingnya transformasi digital. Cara pandang dan budaya digital mesti dihidupi oleh gereja-gereja dan agama-agama. Dalam kaitan dengan arsip sejarah maka upaya digitalisasi arsip menjadi penting. Tentu saja pergeseran dari penyimpanan arsip fisik ke arsip digital bukanlah hal yang mudah dan murah.

Selain membutuhkan mesin pemindai yang harganya tentu tidak murah, tetapi juga ada sejumlah biaya yang dibutuhkan ketika terhubung dengan platform digital. Kerja selanjutnya adalah akses dan publikasi arsip tersebut. Hal ini penting agar arsip dan sejarah tidak menjadi fosil dan dokumen mati, tetapi benar-benar untuk menata masa kini dan masa depan. Proses literasi dan edukasi penting dilakukan selain perlu ada manajemen arsip yang sistematis dan fungsional.

Beberapa catatan di atas tentu masih sangat terbatas. Dibutuhkan kerjasama dan kolaborasi lintas ilmu, lintas institusi dan lintas batas untuk menuliskan sejarah yang benar-benar bermutu dan berdampak. Masukan Dr Yusak patut direnungkan ketika ia berkata bahwa penulisan sejarah tidak harus secepat-cepatnya, sebanyak-banyaknya, dan selengkap-lengkapnya; tetapi pencarian dan pengumpulan sumber-sumber sejarah perlu dilakukan secepat-cepatnya, sebanyak-banyaknya, dan selengkap-lengkapnya. Sumber-sumber itu antara lain arsip-arsip dan dokumen, artefak, termasuk sumber lisan dan sumber lokal. Selamat mengumpulkan, merawat dan memaknai remah-remah sejarah untuk kepentingan kemanusiaan dan peradaban. (RR)

No More Posts Available.

No more pages to load.