Minyak Tanah di Banda Neira Alami Kelangkaan dan Harga Melambung Tinggi, Masyarakat Menjerit

oleh
Ilustrasi kelangkaan minyak tanah

TERASMALUKU.COM,-AMBON-Masyarakat di Kecamatan Banda Neira, Kabupaten Maluku Tengah keluhkan sulitnya mendapatkan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis minyak tanah untuk memasak akibat stok alami kelangkaan. Bahkan harga mitan ikut melambung tinggi.

Ibu-ibu rumah tangga yang setiap hari harus berurusan dengan dapur untuk memasak terpaksa harus mengelus dada gegara tak ada asap yang mengepul di dapur mereka lantaran kesulitan dapatkan mitan untuk diisikan ke kompor.

Apalagi para pelaku UMKM dan nelayan yang juga bergantung pada penggunaan mitan, semua ikut terkena dampak. Usaha UMKM terpaksa dihentikan sementara, nelayan pun tak bisa melaut.

Bayangkan saja, untuk satu jerigen ukuran 5 liter saja, warga harus merogok kocek Rp. 45ribu hingga Rp. 55ribu karena melambung tinggi harganya. Itupun jika beruntung didapat setelah harus susah payah mengantre lebih dulu.

Padahal normalnya, mitan dihargai dikisaran Rp 25ribu hingga Rp. 35ribu per jerigen ukuran 5 liter.

Nur, salah seorang warga Banda yang dihubungi Terasmaluku.com dari Ambon, Rabu (9/11/2022) mengaku kelangkaan mitan ini sudah cukup lama terjadi di Banda Neira.

“Tidak bisa masak, minyak tanah tidak ada, sudah lama minyak tanah langka di Banda, mau bikin jualan (dagangan) bagaimana kalau minyak tanah langka, susah,”beber ibu rumah tangga yang sehari-hari juga membuat kudapan untuk dagangannya itu.

Sementara Iwan, salah seorang nelayan Banda juga mengeluhkan hal yang sama, sulitnya mendaptkan mitan.

Alhasil berdampak kepada nelayan di Banda termasuk dirinya. Bahkan ia sudah hampir sebulan ini tak bisa pergi melaut. “Susah skali, stok tidak ada, sudah lima-lima bulan kayaknya, beta (saya) saja sudah satu bulan tidak melaut, Kalau ada itu dijual 55ribu (jerigen ukuran 5 liter), itupun susah, cari minyak tanah model (seperti) cari emas,”kata Iwan dihubungi terpisah.

Harga yang terlalu mahal, nelayan pun mengurung niat untuk membeli karena dinilai tak wajar.

Tak jarang kata dia, ada nelayan yang terpaksa harus membeli mitan di Geser, Kabupaten SBT agar bisa melaut.

BACA JUGA :  Masih Melonjak Naik

Atas persoalan kelangkaan berujung melambungnya harga mitan ini, ia menyayangkan sikap Muspika di Kecamatan Banda yang dinilai kerap menutup mata tak peduli.

“Yang beta (saya) heran, beta sayangkan itu kita punya pimpinan-pimpinan Muspika di Banda sini kenapa minyak harganya sampai begini (melambung tinggi), tapi tidak ada penekanan harga untuk kasi turun harga (operasi pasar). Ini satu dengan yang lain saling baku tindis (mainkan harga) ada yang (jual) 45, 50 bahkan ada 60ribu per jerigen (ukuran 5 liter),”kesalnya.

Mewakili masyarakat Banda, dia berharap ada perhatian serius dari pemerintah terhadap persoalan ini. “Supaya stok minyak tanah ini yang penting dia ada par kebutuhan masyarakat,”ujarnya.

Terpisah, Camat Banda, Kadir Sarilan mengaku atas persoalan kelangkaan mitan ini dia sudah melaporkannya ke pihak Pertamina Cabang Masohi.

Namun pihak pertamina menyatakan stok mitan untuk Kecamatan Banda perbulannya sudah sesuai kuota, 200 ton untuk kebutuhan karena disesuaikan dengan jumlah penduduk sebanyak 21ribu jiwa dari 5ribu Kepala Keluarga (KK).

Kuota mitan ini sesuai ketentuannya diperuntukan bagi kebutuhan rumahtangga dan penerangan.

Hanya saja, pemakaian mitan alami peningkatan sejak akhir September hingga awal November 2022 karena banyak dibeli nelayan untuk pergi melaut. Karena periode ini periode yang bagus untuk melaut tuna atau yang biasanya disebut masyarakat setempat sebagai musim ikan mati.

Dari 200 ton kuota mitan untuk Banda sebulan, sejak musim ikan tuna, dalam sehari dari jumlah total kapal nelayan Banda sebanyak 300-400 unit, dalam seharinya ada sekitar 200 kapal nelayan yang pergi melaut dan per kapal nelayan rata-rata harus konsumsi 100 liter mitan.

Artinya dalam dalam sehari aja sekitar 10 ton mitan terpakai untuk nelayan melaut. Penyebab nelayan harus pakai mitan karena rata-rata mesin kapal yang dipakai adalah mesin jonson 40 PK.

Dampaknya kuota sebulan hanya akan bertahan untuk kebutuhan 10 hari saja berujung kelangkaan.

BACA JUGA :  Ketua Komnas HAM Indonesia Bertemu Gubernur Maluku

“September akhir, Oktober hingga November awal itu penggunakan BBM (mitan) di Banda itu melebihi kuota, kenapa? karena nelayan yang melaut itu sangat banyak, lagi musim ikan tuna jadi kapal nelayan berbondong-bondong ke laut, kalau kondisi normal seperti biasa, tidak terjadi kelangkaan,”ungkapnya.

Atas persoalan ini, kata Camat, pihak pertamina menyarankan agar nelayan gunakan BBM jenis pertalite atau pertamax.

Hanya saja kata Camat lagi, dia langsung menimpali pertamina karena menyarankan nelayan beralih ke pertalite tapi faktanya stok pertalite saja di Banda tidak ada.

Dan permintaan agar pertalite dikirim ke Banda pun sampai saat ini tak dipenuhi pihak pertamina.

“Pertaminan sarankan pakai pertamax atau pertalite, saya bilang ke mereka (pimpinan pertamina), jangankan ini, pertailte saja tidak pernah muncul di Banda. Beta sudah beberapa kali dengan Kepala Dinas (terkait) ke pertamina di Masohi supaya kirim pertalite agar bisa imbangi harga BBM di Banda, tapi sampai hari ini tidak terjawab, alasanya pertalite itu BBM subsidi, tidak bisa dibeli dengan jerigen. Kalau bicara soal upaya, sudah berulang kali, bulan September kemarin juga sudah kita bertemu dengan pertamina di Masohi,”tandasnya.

Menyinggung persoalan operasi pasar agar menekan harga mintan di Banda yang dikeluhkan warga karena harga jual terlalu mahal, Camat mengaku sudah memberikan teguran kepada penjual nakal karena membeli stok dari pengecer di Masohi dengan harga Rp. 30ribu-Rp. 35ribu per jerigen, dan dijual di Banda dengan harga tinggi.

Sementara kalau di pangkalan mitan resmi yang ada di Banda, harganya normal kisaran Rp. 33-35ribu per-jerigen 5 liter.

“Makanya beta (saya) bilang ke mereka (penjual nakal), kalau begitu jangan beli minyak (tanah secara enceran) dari sana (Masohi) supaya harga minyak tanah di Banda tetap stabil. Kalau di pangkalan harga tetap stabil, normal 33ribu sampai 35ribu (per-jerigen 5 liter). Orangnya beta sudah tegur, sudah kasi teguran,”pungkasnya.

Penulis : Ruzady Adjіѕ

BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

No More Posts Available.

No more pages to load.