IMM Gelar Diskusi Publik Perempuan Maluku dan Politik di Pemilu 2024

oleh
oleh
Empat Narsum Perempuan dalam Diskusi Publik dengan tema Perempuan Maluku dan Politik di Pemilu 2024 yang digelar DPD IMM Maluku. Rabu (22/11/23) Foto : Terasmaluku

TERASMALUKU.COM,- Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Ikatan Mahasiswa Muhamadiyah (IMM) Maluku menggelar diskusi publik membahas perempuan Maluku dan politik di Pemilu 2024, Rabu  ( 22/11/23).

Dalam diskusi publik yang dihadiri sejumlah pengurus DPD IMM Maluku serta Immawati ini, empat pembicara dihadirkan diantaranya Astuti Usman anggota Bawaslu Maluku, Ayu Hasanusi, anggota DPRD Maluku, Insany Syahbarwaty, ahli pers Dewan Pers untuk Maluku dan Maryam Payapo, mantan Ketua DPD IMM Maluku yang juga politisi Partai Amanah Nasional (PAN).

Astuti Usman sebagai anggota Bawaslu Maluku mengakui selama ini posisi perempuan masih termarginalkan bahkan dalam politik praktis perempuan kerap hanya menjadi pelengkap dan asal comot oleh parpol.

” Coba perhatikan setiap selesai perhitungan suara pasti posisi perempuan digeser, titik krusial politisi perempuan itu saat penghitungan suara makanya suara perempuan harus betul-betul dikawal jika tidak ingin dicurangi, ” tegas Astuti yang pernah menjabat sebagai Ketua Bawaslu periode sebelumnya.

Sementara Ayu Hasanusi menjelaskan perjalanan karir politiknya hingga bisa menduduki posisi tiga periode terpilih sebagai anggota legislatif. Dia mengaku berpindah parpol untuk memastikan posisinya selalu aman karena memiliki karakter dan sosok yang sudah dipercaya kosntituennya.

” Perempuan harus membangun trust atau kepercayaan publik agar bisa berhasil dalam proses politiknya, tak perlu money politic, cukup rebut kepercayaan dan hati rakyat, sebab perempuan lebih unggul dari politisi pria sebab lebih peka dan pakai hati saat mengurus rakyat,” cetus Ayu yang sering berpindah Parpol ini.

Sedang Insany Syahbarwaty, jurnalis perempuan yang sudah bekerja di Maluku selama lebih dari 20 tahun itu menilai kapasitas intelektual perempuan politis seharusnya lebih diasah agar tak kalah bersaing dalam menjalankan fungsi legislasinya, Apalagi menurut data dan riset Perludem tahun 2014 misalnya menunjukkan perempuan hanya dicomot untuk memenuhi kuota 30 persen afirmasi action sebagai syarat lolos tidaknya parpol dalam ajang pemilu.

BACA JUGA :  Pesta Pendidikan Gandeng Puluhan Komunitas Gelar Festival Publik

”Tapi kemudian yang terpilih tidak melalui kaderisasi politik yang kuat secara intelektual sehingga memahami betul apa yang akan dia lakukan di parlemen, bayangkan jika perempuan yang mewakili kita justru hanya bisa diam dan dengar saja selama proses legislasi berlangsung, ” tegas Insany.

Insany menggugat pelaksanaan kuota 30 persen syarat afirmasi action yang diterapkan selama ini, tidak dibarengi dengan proses seleksi yang berjenjang oleh parpol, bahkan tanpa pendidikan politik yang memadai.

”Belum lagi jumlah pemilih perempuan di Indonesia lebih dari 50 persen. Lebih banyak pemilih perempuan tapi apakah perempuan mau memilih perempuan dalam pemilu? belum tentu,” jelas Insany.

Sementara Maryam Payapo kader IMM yang juga politisi muda mengakui selalu gagal dalam proses pemilu karena tidak memiliki pengalaman politik secara berjenjang dalam kaderisasi yang membuatnya kuat secara mental dan intelektual.

”Tapi saya akui harus memiliki percaya diri dan kekuatan mental yang baik jika berani terjun ke politik, ” ungkap Maryam.

Diskusi publik ini menurut Abubakar Mahu, Ketua DPD IMM Maluku, adalah upaya IMM memberi pemahaman tentang posisi perempuan dalam politik kepada kader IMM sehingga bisa mengetahui bagaimana harus bersikap dalam Pemilu 2024 nanti.

” Kami berharap perempuan bisa memahami posisinya dalam politik dan tahu harus mengunakan haknya sebagai warga negara dengan sebaik mungkin, ” cetusnya. (***)

No More Posts Available.

No more pages to load.