Strick Parents, Apakah Sebuah Masalah Bagi Perempuan Minangkabau?

oleh
oleh
Bastian. FOTO : DOK. PRIBADI

Kita tentu agak asing dengan kata strick parents, karena dalam bahasa Indonesia strick parents adalah orang tua yang menuntut anaknya menjadi apa yang dia mau. Dalam dunia psikologi, strict parents lebih dikenal dengan pola asuh otoriter. Pola asuh otoriter merupakan pola pengasuhan yang membatasi dan menuntut seorang anak untuk mengikuti setiap perintah orang tuanya. Banyak orang beranggapan bahwa strick parents itu adalah budaya atau tradisi yang sudah kuno, karena orang tua masih saja membatasi anaknya untuk melakukan sesuatu hal. Tidak ada kebebasan bagi seseorang untuk menjadi apa yang dia mau.

Strick Parents banyak dilakukan kepada anak perempuan, karena anak perempuan lebih dijaga biasanya ketimbang laki-laki. Makanya strick parents sering ditentang oleh pejuang-pejuang emansipasi wanita di seluruh dunia. Karena terjadinya pertentangan tersebut, maka orang tua yang harus bisa memilah atau menggunakan strick parents untuk siapa saja. Karena pada dasarnya ketidakadilan gender antara laki-laki dan perempuan terlihat dalam aplikasi strick parents dalam kehidupan. Contohnya saja larangan-larangan lebih banyak kepada perempuan dibandingkan kepada laki-laki.

Di Minangkabau perempuan dikatakan sebagai limpapeh rumah nan gadang. Maksudnya perempuan adalah harkat dan martabat yang menjadi ikon dari orang Minangkabau itu sendiri. Perempuan yang akan menjadi penghuni rumah gadang, karena hal ini dapat dikatakan bahwa perempuan di Minangkabau sangat dijunjung tinggi kedudukannya. Karena dengan demikian para perempuan di Minangkabau sudah terbiasa mengalami strick parents dalam kehidupan. Dari kecil perempuan Minangkabau sudah di didik dengan latar belakang rumah gadang. Maksudnya adalah perempuan Minangkabau sudah diberi didikan dari orang tua untuk menjaga rumah, harta pusaka atau warisan dan sebagainya.

Perempuan Minangkabau adalah salah satu tonggak adat, karena dengan ini perempuan Minangkabau sangat dihormati. Menurut hemat penulis, di Minangkabau itu sendiri, tidak diperlukan emansipasi yang berlebihan untuk para perempuan. Karena hal perempuan lebih banyak dibandingkan laki-laki di Minangkabau. Makanya para pejuang emansipasi di Minangkabau tidak begitu banyak, karena kedudukan perempuan di Minangkabau lebih ditinggikan sederajat dibandingkan dengan di daerah lain. Kenapa demikian, karena dalam kehidupan di Minangkabau, mamak di Minangkabau sudah memberikan harta warisan kepada perempuan. Hal ini yang mendasari bahwa dalam kehidupan Minangkabau strick parents tentu tidak akan menjadi masalah.

BACA JUGA :  Hari Anti Korupsi, Penjabat Walikota Ambon Ungkap Upaya Cegah Korupsi

Banyak pejuang emansipasi menuntut hak perempuan untuk tidak menggunakan strick parents. Karena hal ini di Minangkabau strick parents seperti ini tidak begitu di permasalahkan karena sistem matrilineal dari orang Minangkabau itu sendiri dan juga Minangkabau merupakan orang Islam. Kenapa Islam? Tentu ini akan menjadi alasan kedua kenapa orang Minangkabau tidak mempersalahkan strick parents tersebut. Karena dalam falsafah adat Minangkabau itu adalah Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah. Hal ini yang memperkuat bahwa di Minangkabau itu berlandaskan Islam dan aturan Islam adalah aturan yang dianut oleh masyarakat Minangkabau. Perpaduan adat dan Islam di Minangkabau tentu kentara, karena dalam aturan adat dan Islam terkadang memiliki perbedaan, tetapi untuk masalah strick parents adat dan Islam sangat mendukung untuk perempuan Minangkabau.

Perempuan Minangkabau menurut penulis, rata-rata dibesarkan oleh adat dan budaya yang mengalami strick parents. Karena dalam kehidupan di Minangkabau tidak terlepas dari ajaraan Islam. Banyak orang yang menentang strick parents tetapi bagi masyarakat Minangkabau, hal ini wajib dilakukan sebelum si anak tersebut pergi jauh dari orang tua. Karena dengan dasar yang kuat, dan sudah diajarkan strick parents semenjak kecil, maka hal ini yang akan menjadikan strick parents adalah sebuah keharusan. Karena sudah terbiasa menghadapi tekananan dari orang tua atau mamak semenjak kecil, maka perempuan di Minangkabau tidak terkejut dengan aplikasi strick parents tersebut.

Tujuan dari strick parents tersebut sudah jelas untuk perempuan itu sendiri. Tujuan yang pertama tentunya adalah menjaga perempuan agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan, contohnya adalah hamil diluar nikah. Hal ini yang akan dikecam baik itu oleh orang tua maupun mamak. Karena apabila hal tersebut terjadi akan mencoreng harkat serta martabat keluarga si anak. Harkat dan martabat keluarga di Minangkabau akan selalu dipertaruhkan oleh semua elemen. Di Minangkabau banyak pantangan yang dilanggar akan membuat malu keluarga. Makanya salah satu caranya adalah dengan strick parents.

BACA JUGA :  Ganjar Launching KTP Sakti, Warga: Mind Blowing, Sangat Mengesankan

Untuk itu, penulis berasumsi bahwa strick parents bagi perempuan Minangkabau tidak akan menjadi masalah yang besar. Karena perempuan di Minangkabau dalam adat sudah diberikan hak untuk memiliki harta pusaka dan juga dalam Islam perempuan harus dijaga kehormatannya. Karena tidak perlu lagi perempuan Minangkabau melakukan emansipasi agar bebas melakukan sesuatu. Sebelum pejuang emansipasi itu ada, mamak Minangkabau sudah memberikan hak dan kewajiban untuk perempuan Minangkabau itu sendiri. Makanya strick parents dari orang tua ataupun mamak di Minangkabau tidak menjadi masalah besar bagi kaum perempuan di Minangkabau.

Penulis Adalah Bastian Lahir Di Lubuak laweh Kampuang Apa,Kecamatan Patamuan,Kabuaten Padang Pariaman, Mahasiswa Jurusan Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya,Universitas Andalas, Anggota Lembaga Mahasiswa Jurusan(LMJ) Sastra Minangkabau.

**) Ikuti berita terbaru Terasmaluku.com di Google News klik link ini dan jangan lupa Follow

No More Posts Available.

No more pages to load.