Gerapan Sapi Oleh: Ulfatmi, Mahasiswi Universitas Andalas

oleh
oleh
Ulfatmi. FOTO : DOK. PRIBADI

SUATU hari tepat nya di Batusangsangkar, terdapat suatu  tradisi adat yaitu Pacu Jawi(Gerapan Sapi). Pacu jawi merupakan balapan sapi yang di lakukan di sawah berlumpur, dengan sepasang sapi dan seorang joki yang berdiri di belakang nya, nama nya balapan sapi tapi tidak dengan lawan tanding, di karenakan satu pasang sapi berlari beriringan. Dengan penilaian nya yaitu sapi mana yang lari nya lebih kencang dan lurus, tidak dengan siapa yang dulu cepat sampai finis.

Pacu jawi bukan hal yang baru bagi warga atau masyarakat Tanah Datar. Melainkan dari nenek moyang kami orang Tanah Datar sudah memulai nya zaman dahulu. Pacu jawi ini hanya di kategorikan dalam 4 kecamatan yaitu  Kecamatan Pariangan, kecamatan Rambatan, Kecamatan limo kaum, dan Kecamatan Sungai Tarap. Hanya 4 kecamatan itu saja yang bisa melakukan tradisi tersebut.

Tradisi tersebut  untuk memulai kembali berladang dan menjalin silaturahmi bagi para petani, tetapi bukan hanya petani saja yang bisa mengikuti ajara tersebut, melainkan masyarakat lokal dan ada juga berbagai warga asing. Mereka antusias karena rasa penasaran yang tinggi untuk melihat bagaimana berlansung nya acara tersebut. Pacu jawi di adakan dalam seminggu sekali yaitu pada hari sabtu, pacu jawi tersebut di mulai oleh panitia atau pengurusnya sekitaran jam 1 siang.

Pacu  jawi merupakan upaya petani untuk membajak sawah nya pada zaman dahulu, di karenakan pada saat itu mesin atau alat canggih seperti sekarang belum ada.  Makanya di adakan pacu jawi, walaupun sekarang  ada alat yang canggih sepeti mesin untuk mengolah sawah, tradisi pacu jawi tetap di adakan dan di lestarikan .

BACA JUGA :  Belum Lengkap, KPU Maluku Kembalikan Berkas Pendaftaran Bacaleg PDIP

Jika teman teman mau melihat atau ingin tau bagaimana berlangsung nya tradisi pacu jawi silahkan berkunjung ke Tanah Datar. Ternyata  membajak menggunakan sapi membuat tanah menjadi subur dan gembur, di karenakan pada kotoran sapi menghasilkan pupuk alami bagi tanah tersebut.

Tradisi pacu jawi tersebut  berupa membawa sapi berarak arakan, dan warga membawa jamba atau dulang yang di isi makanan. Dan juga  sapi yang di berikan pakaian ikut serta di arak oleh warga dari kampung menuju tempat pelaksanaan nya pacu tersebut.

Dan sapi tersebut bukan lah sembarang sapi, tidak semua sapi bisa untuk pacu jawi. Umum nya sapi lokal yang bisa di ikut sertakan, tidak dengan sapi peternak dan lain lain. Sapi lokal badan nya tidak terlalu gemuk dan ramping. Karena jika sapi pedaging dan lain lain akan  susah berlari kencang, malahan bisa juga dia tidak kuat berlari. Karena badan atau bobot yang berat, sapi lokal tersebut tidak juga lansung di bawa pacu. Dia akan di latih dulu di sawah pemilik nya sendiri, dan tidak lansung berpasangan melainkan satu satu di suruh berlari sendiri sampai berulang ulang agar lancar.

Setelah itu baru di coba berpsangan atau dua buah sapi sekaligus, sapi  tersebut jika lari nya bagus, lurus dan tegap maka harga jual nya mahal. Setidak nya harga jual berkisaran 40-75 jutaan, itu pasti  sapi sapi yang unggul  di arena.

Penulis : Mahasiswi Program Studi Sastra Minangkabau Universitas Andalas

**) Ikuti berita terbaru Terasmaluku.com di Google News klik link ini dan jangan lupa Follow

No More Posts Available.

No more pages to load.