Guru Besar Unpatti : Penggunaan Bahan Pengawet Tingkatkan Ekspor Ikan Maluku

oleh
oleh
Menteri KKP Sakti Wahyu Trenggono dan Gubernur Maluku Murad Ismail saat meninjau proses pembongkaran dan pengolahan ikan tunas segar di PT. Peduli Laut Maluku, Kamis (7/10/2021). FOTO : Humas Maluku

TERASMALUKU.COM,-AMBON-Akademisi Universitas Pattimura (Unpatti) mengemukakan bahwa komersialisasi dan penggunaan bahan pengawet alami dapat meningkatkan penjualan produk hasil perikanan serta ekspor perikanan di Maluku.

“Beberapa tahun terakhir terjadi penolakan oleh importir Amerika Serikat terhadap ekspor tuna loin dari Maluku karena mengandung bakteri Escherichia coli,” kata Guru Besar bidang teknologi hasil perikanan Unpatti Prof Freddy Pattipeilohi dikutip dari Antara, Minggu (19/5/2024).

Menurut Prof Freddy hal itu yang mendorong dirinya melakukan penelitian tentang bahan pengawet alami untuk hasil perikanan dari buah atung atau Parinarium glaberimum Hassk.

“Penggunaan bahan kimia sintetik untuk hasil perikanan sendiri dapat membahayakan kesehatan manusia, oleh sebab itu inovasi pengawet alami ini harus segera dikomersialisasi untuk menjaga mutu dan kualitas hasil perikanan Maluku yang bermuara pada meningkatnya ekspor perikanan itu sendiri,” kata dia.

Ia mengatakan bahwa hal tersebut mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor. 722/Menkes/Per/IX/1988 tentang Bahan Tambahan Makanan yang menyatakan bahwa penggunaan bahan kimia seperti formalin untuk mengawet pangan (ikan) segar dan rhodamin B, boraks dan kuning metanil untuk pangan (ikan) olahan dapat menyebabkan risiko kematian.

Ia melanjutkan bahan pengawet alami atung (Parinarium glaberimum, Hassk) adalah tumbuhan endemik daerah Maluku yanng telah terbukti melalui penelitian sangat ampuh dan cocok untuk mengawetkan hasil perikanan segar maupun olahan karena mengandung asam aselaik (acelaik acid).

dengan pengawet alami tersebut penjualan produk hasil perikanan secara umum dalam bentuk produk olahan juga dapat dilakukan dengan aplikasi penggunaan pengawet alami sebesar empat persen (B/V).

“Keuntungan usaha dari masing-masing produk lebih menguntungkan per satuan produksi. Khusus produksi tuna loin memiliki selisih penjualan yang dapat diterima para nelayan yang awalnya Rp17.200 menjadi Rp27.200 tergantung harga yang berlaku,” terangnya.

BACA JUGA :  Dilaporkan Warga, Polres MBD Tangkap Basah Kepala Dinas dan Oknum Polisi Main Judi

Kini ia bersama tim peneliti produk pengawet alami tersebut sedang membangun kolaborsi dengan pemerintah maupun swasta guna mengupayakan untuk dilakukan produksi pengawet alami dari biji buah atung untuk dapat dipasarkan di Maluku.

Pewarta : Ode Dedy Lion Abdul Azis/Antara
Editor : Ahmad Wijaya

**) Ikuti berita terbaru Terasmaluku.com di Google News klik link ini dan jangan lupa Follow

No More Posts Available.

No more pages to load.