Edukasi Cyberbullying dan Workshop Pendampingan Pastoral Bagi Remaja Korban Cyberbullying 

oleh
oleh
Gereja Anugerah Jemaat GPM Passo Kota Ambon menggelar edukasi Cyberbulling dan Workshop pendampingan pastoral bagi remaja korban Cyberbulling, Minggu 2 Juni 2024. FOTO : ISTIMEWA

TERASMALUKU.COM,-AMBON-Bertempat di Gedung Gereja Anugerah Jemaat GPM Passo Anugerah Kota Ambon dilaksanakan kegiatan edukasi Cyberbulling dan Workshop pendampingan pastoral bagi remaja korban Cyberbulling.

Kegiatan berlangung Minggu 2 Juni 2024 dengan fasilitator Pdt. Aleta Ruimassa, M.Si. Teol yang bertindak sebagai Ketua Tim bersama Pdt. Peter B. Salenussa.M.Sn, sebagai anggota.  Moderator kegiatan adalah Olla Maitimu yang merupakan Ketua Sub Seksi Anak dan Remaja Jemaat Passo Anugerah. Pdt. B. J. M Birahy, S,Th selaku Ketua Majelis Jemaat GPM Passo Anugerah membuka kegiatan ini.

Dalam arahan pembukaan Pdt. Birahy menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) khususnya kedua fasilitator yang memilih para remaja Jemaat GPM Passo Anugerah sebagai sasaran kegiatan dimaksud. Ia pun menyatakan bahwa ini merupakan langkah yang sangat strategis melakukan pendampingan kepada para Remaja.

“Remaja merupakan insan yang potensial sekaligus rentan, termasuk rentan dibullying diantara mereka, olehnya edukasi dan pendampingan pastoral sangat perlukan,” tegas Pdt. Birahy.

Kegiatan ini dilakukan dalam rangka Pengabdian kepada Masyarakat yang dilakukan oleh UKIM. Kegiatan ini bertujuan agar dapat membimbing dan mengarahkan remaja dan pengasuh untuk menumbuhkembangkan kepekaan terhadap bentuk-bentuk kekerasan yang terjadi di dunia yang modern ini.

Kepekaan itu pula yang akan mendorong pengasuh dan remaja untuk bersiap sedia menjadi pendamping pastoral bagi remaja tersebut, entah remaja itu adalah korban atau dia adalah orang yang juga mendengarkan pengalaman temannya. Kegiatan ini juga sekaligus menjadi langkah pastoral gereja dalam mempromosikan tapi juga langkah preventif terhadap bentuk-bentuk kekerasan yang sangat mungkin dihadapi oleh remaja dan pengasuh Jemaat GPM Passo Anugerah.

Pdt. Peter Salenussa dalam presentasinya menjelaskan pentingnya melakukan edukasi secara multi disipliner tentang isu cyberbullying dari segi psikologi dan pastoral kepada remaja dan pengasuh. Menurut dosen Musik dan Liturgi pada Fakultas Teologi UKIM ini bahwa cyberbullying merupakan masalah serius yang berdampak buruk bagi kesehatan mental dan psikologis remaja.

BACA JUGA :  Perahu Ketinting Terbalik, Petani Rumput Laut di Saumlaki Meninggal, Sang Suami Berhasil Diselamatkan

Diperlukan kolaborasi antara orang tua, sekolah, dan masyarakat untuk mencegah dan mengatasi masalah ini secara komprehensif. Ia optimis jika semua pihak dalam menjalankan tugas dan perannya dengan baik, dan dengan terus melakukan edukasi dan literasi maka para remaja akan bertumbuh dan berkembang ke arah yang lebih baik dan menjadi generasi gereja dan generasi bangsa yang diandalkan.

Pdt. Aleta Ruimassa dalam penyajiannya menyebutkan bahwa kegiatan ini dilakukaan bertolak dari realitas konteks Jemaat GPM Passo Anugerah. Terindikasi dari pre-test yang diberikan kepada para remaja, ditemukan bahwa ada delapan remaja yang mengalami kekerasan berbasis daring.

Kasus cyberbullying cenderung tidak banyak terungkap karena para remaja biasanya tidak mau terbuka kepada orangtua dan pengasuh. Ditambah lagi, di kalangan remaja, perilaku perundungan di media sosial adakalanya dilihat sebagai sesuatu yang dianggap biasa saja.

“Permasalahan ini berpotensi meningkat karena minimnya pengetahuan tentang cyberbullying dan bentuk-bentuknya, baik dari pihak remaja maupun pengasuh,” ungkap Ruimassa yang merupakan dosen pastoral pada Fakultas Teologi UKIM.

Ia jua melihat konsekuensi ketika hal tersebut terjadi kepada remaja, para pengasuh secara khusus tidak tahu bagaimana melakukan proses pendampingan pastoral kepada remaja korban tersebut.
Kegiatan ini mendapat respons yang positif dari para peserta. 45 orang hadir aktif dalam kegiatan ini dan dalam sesi tanya jawab ada sepuluh orang remaja dan pengasuh yang mengajukan tanggapan dan pertanyaan, salah satunya Monalisa Mozes yang menanyakan tentang bagaimana caranya agar remaja terhindar dari praktek bullying berulang kali di antara para remaja khususnya melalui media online.

Terhadap pertanyaan Pdt. Peter Salenussa menjelaskan bahwa tindakan tersebut harus segera dilaporkan supaya tidak menimbulkan dampak yang lebih serius kepada korban, sehingga bisa saja korban menjadi depresi.

BACA JUGA :  Gowes Sepanjang 75 Km, Wakapolda Maluku Bagi-Bagi Masker

Pertanyaan dari pengasuh, Yanti Tatuhey, tentang bagaimana menjadi sahabat bagi remaja agar mereka mau bercerita tentang masalah mereka. Pdt. Aleta Ruimassa menjelaskan bahwa pendekatan yang dilakukan oleh seorang pengasuh adalah sebagai sahabat agar remaja merasa aman dan nyaman untuk bercerita tentang masalah mereka. Ruimassa menambahkan bahwa pengasuh jangan terburu-buru juga untuk menyalahkan remaja jika mereka berbuat hal yang tidak baik.

Di akhir kegiatan Pdt. Aleta Ruimassa menutup materinya dengan mengatakan bahwa: “Dengan dua telinga, kita mendengarkan suara para remaja korban cyberbullying. Dengan satu mulut, kita menguatkan para remaja korban cyberbullying. Dengan kehadiran kita sepenuhnya, kita memulihkan luka para remaja korban cyberbullying,” katanya.

Di ujung kegiatan diadakan foto bersama fasilitator, Ketua Majelis Jemaat, Ketua Sub Seksi Anak dan Remaja serta seluruh peserta remaja dan pengasuh yang hadir. (Penulis : Pendeta Aleta Ruimassa)

**) Ikuti berita terbaru Terasmaluku.com di Google News klik link ini dan jangan lupa Follow

No More Posts Available.

No more pages to load.