Krisis Murid di Sekolah Swasta: Tantangan dan Solusi dalam Manajemen Sekolah di Maluku

oleh
oleh
SMP PGRI Banda. (Foto: Istimewa)

Oleh Hartati Ramli, Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung

PENUTUPAN sekolah akibat dari kurangnya pendaftar atau murid baru seolah manjadi fenomena yang dapat kita lihat di depan mata kita. Sekolah-sekolah negeri dan swasta yang ada di Indonesia banyak terdampak masalah ini. Kekurangan pendaftar atau murid baru seolah menjadi ketakutan yang sangat besar bagi sekolah, khususnya sekolah swasta. Dampak kekurangan murid pada sekolah swasta jauh lebih signifikan dibandingkan dengan sekolah negeri. Kekurangan murid bagi sekolah swasta mengakibatkan pendapatan yang minim untuk mendukung operasional sekolah dan pembayaran gaji guru karena pendapatan utama sekolah swasta diperoleh dari pendanaan masyarakat dan orang tua murid. Setiap tahun sebelum dimulainya tahun ajaran baru, terasa seperti ancaman bagi sekolah-sekolah swasta karena akan menghadapi kesulitan dalam merekrut murid.

Kondisi seperti ini tidak terlalu terdengar di daerah Indonesia Bagian Timur khususnya Maluku dan sekitarnya. Namun, tidak terdengar bukan berarti tidak mungkin terjadi baik sekarang atau nanti. Salah satu sekolah di kabupaten Maluku Tengah tepatnya di Kecamatan Banda sedang mengalami krisis murid. Sekolah tersebut adalah SMP PGRI Banda. Meski berlokasi di daerah kota kecamatan yang padat penduduk, menurut data pada Website Data Pokok Pendidikan Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Menengah (Dapodikdasmen), jumlah murid hingga semester genap 2023/2024 hanya sebanyak 10 murid dengan 3 rombongan belajar, dan akan berkurang karena akan ada lulusan di bulan ini.

Jika pada semester yang akan datang sekolah ini tidak memperoleh murid baru, maka sekolah harus melalui beberapa resiko, diantaranya memutasi muridnya ke sekolah lain dan memberhentikan guru, sekolah ditutup oleh pemerintah daerah, atau yang sangat miris adalah mereka terpaksa menutup sendiri sekolahnya. Selain itu, sepinya peminat selama tiga tahun terakhir sangat menguras kesabaran dan mental dari para guru yang ada di SMP PGRI Banda. Kendatipun begitu, mereka tetap semangat memberikan pembelajaran yang sesuai dengan kurikulum yang diterapkan di Indonesia, bahkan bekerjasama dengan pihak desa setempat dalam berbagai kegiatan pengabdian masyarakat khususnya masalah pencemaran laut akibat sampah.

BACA JUGA :  Empat Fraksi DPRD SBB Tolak LPJ Bupati Atas Penggunaan APBD 2021

Sungguh disayangkan apabila sekolah ini nantinya harus ditutup. Tapi, apakah hanya itu yang dapat dilakukan?. Tidak adakah solusi lain yang dapat diambil?.

Menurut penulis, jika sekolah tersebut mengalami penurunan minat dan akibatnya jumlah murid tidak mencapai kapasitas minimal yang dipersyaratkan, maka solusi perlu dicari secara bersama-sama oleh pihak sekolah, UPT Pendidikan Kecamatan sebagai unsur pelaksana teknis operasional Dinas Pendidikan yang berkedudukan di Kecamatan, Pemerintah setempat dan masyarakat, terutama dalam mengupayakan peningkatan School Management (Manajemen Sekolah).

Secara umum, peran manajemen sekolah sangat penting dalam mempertahankan dan meningkatkan kinerja sekolah. Hal ini dapat memberikan kekuatan yang besar kepada sekolah dalam mengemban berbagai tanggung jawab karena manajemen sekolah menekankan pada partisipasi penuh dari berbagai pemangku kepentingan. Sekolah yang independen memastikan keterlibatan staf, orang tua, murid, dan masyarakat umum termasuk pemerintah dalam proses pengambilan keputusan pendidikan. Dengan pengelolaan dan pengawasan pemerintah, tata kelola sekolah menjadi lebih akuntabel, transparan, egaliter, dan demokratis, serta mengurangi adanya monopoli dalam pendidikan di suatu daerah. Apabila semua sumber daya yang ada dimaksimalkan sesuai dengan situasi lokal yang terjadi, ada kemungkinan penutupan sekolah akibat kekurangan murid ini dapat diatasi. (***)

**) Ikuti berita terbaru Terasmaluku.com di Google News klik link ini dan jangan lupa Follow

No More Posts Available.

No more pages to load.