Penyair Asal Maluku Pukau Penonton Saat Bawakan Puisinya di Pusat Kebudayaan Amerika

by
Penyair asal Maluku Emma Hanubun bawakan puisi pada acara Schmalentine! A Poetry Open mic by Unmasked di pusat kebudayaan Amerika di Jakarta pada 16 Februari lalu. FOTO: Dok. pribadi

TERASMALUKU.COM,-AMBON-Baru-baru ini penyair muda asal Maluku tampil di pusat kebudayaan Amerika Kedutaan Besar Amerika di Jakarta atau @america Jakarta. Dengan sebuah puisi tentang Maluku, Emma Hanubun sukses membawa para peserta di acara Schmalentine terpukau dengan keindahan negeri Raja-Raja itu.

Emma merupakan satu dari 10 penampil dan satu-satunya asal Maluku yang diundang di acara Schmalentine! A Poetry Open mic by Unmasked di hall @america Pacific Palace Jakarta pada 16 Februari lalu.

Salah satu puisi yang dibawakan Ema berjudul ‘Pesonamu Memang Maluku’ menjabarkan tentang wajah alam dan wisata di Maluku dalam metafora-metafora menarik.

Saat diwawancarai Terasmaluku.com, Ema yang tampil mewakili Komunitas Kintal Sapanggal itu berujar, jika puisinya telah dipilih sejak setahun lalu saat acara Ubud Writer and Reader Festival (UWRF) Satelite di Ambon. Pada kesempatan itu hadir perwakilan dari kedutaan besar Amerika untuk Indonesia.

Luthfi Abdurrahman selaku cultural affairs staff for programs public affairs U.S Embassy Jakarta jatuh hati dan memilih puisi tersebut. “Tahun lalu itu ada acar dan beta baca puisi itu. lalu ada yang suka dan bilang mau undang ke acara di Jakarta,” katanya penuh kegirangan saat ditemui usai kembali dari Jakarta beberapa hari lalu.

Luthfi yang juga anggota unmasked openmic kala itu menerangkan jika puisinya disodorkan kepada para pendiri unmasked. Mereka kagum dan setuju agar puisi dibacakan langsung oleh penyairnya. Perempuan yang aktif dalam kegiatan literasi juga kesastraan di Ambon itu mengaku tak menyangka sekaligus berbangga dengan pencapain tersebut.

Puisi tentang tanah kelahirannya mampu merasuk banyak imaji. Yang membuat begitu istimewa, Emma memadukan berbagai istilah kelautan dengan kalimat-kalimat pengandaian. Tengok saja sepenggal bait puisi yang ditulisnya itu;

Emma bersama para penampil lain yang diundang khusus pada kegiatan usai hari kasih sayang di Jakarta

Rambut ikalmu seumpama ombak pecah di Tanjung Alang. Harum semerbak bunga pala. Turun ke retinamu, selalu mengerjap-ngerjap berkilau serupa plankton bioluminisensi di tepian pantai Pasir Panjang.

Atau bait lain yang mengidentifikasi betapa megahnya alam Maluku yang kharismatik. Aku mengagumimu sedalam palung Weber Laut Banda. Sealami panorama pesisir Liang Sejernih mata air gua Hawang Pulau Kei. Semendidih kolam air panas Tulehu

Mahasiswi Fakultas Perikanan dan Llmu Kelautan 2012 Universitas Pattimura Ambon itu juga membawakan puisi lain berjudul ‘Themis Habis ditidur’. Sebuah kritik tajam dari kacamata perempuan tentang hukum dan keadilan di tanah air. Dewi keadilan dalam mitologi Yunani itu digambarkan sebagai hukum serta alat penegak yang kian tumpul.

Bagi Emma, tiap orang punya saluran yang mereka yakini mampu menyuarakan tentang kebaikan. Puisi, salah satu jalan yang dia pilih untuk menampilkan Maluku kepada orang di daerah lain dengan sentuhan yang tidak cheesy. Dia berharap agar anak muda Maluku tetap bersinar mengerjakan hal keyakinan dalam berkarya. (PRISKA BIRAHY)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *