HUT Kabupaten Buru, Gubernur : Perkembangan Pembangunan Buru  Terbaik di Maluku

HUT Kabupaten Buru, Gubernur : Perkembangan Pembangunan Buru  Terbaik di Maluku

610
SHARE
Bupati Buru Ramly Umasugi memotong tumpeng dalam rangka HUT Kabupaten Buru ke 18 dan menyerahkan ke Gubernur Maluku Said Assagaff dalam perayaan di Lapangan Nusantara Kota Namlea, Kamis (12/10). FOTO : ADI (TERASMALUKU.COM)

TERASMALUKU.COM,-NAMLEA-Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buru menggelar peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke 18 Kabupaten Buru di Lapangan Pattimura Kota Namlea, Kamis (12/10). Peringatan berlangsung meriah dan dihadiri Gubernur Maluku Said Assagaff.

Mengawali  peringatan  HUT  Kabupaten ini, Gubernur Maluku didampingi  Bupati Buru  Ramly Umasugi, Wakil Bupati Buru Amustafa Besan menyerahkan sejumlah bantuan kepada warga. Diantaranya bantuan pancing tonda bagi nelayan di kabupaten itu.

Dalam sambutannya, Gubernur Assagaff menyatakan Bumi Bupolo, sebutan untuk Kabupaten Buru adalah salah satu bagian dari kekayaan Bangsa Indonesia. Selain memiliki kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) yang besar, Buru juga memiliki kekayaan   sumber daya sosial budaya.

Menurut Gubernur Assagaff, di usia ke 18 Tahun, Kabupaten Buru telah tumbuh dan berkembang dengan pesat. Bahkan  perkembangan pembangunan kabupaten penghasil minyak kayu putih dan  tambang emas ini terbaik di Maluku. Meski gubernur  mengakui masih banyak pekerjaan rumah yang harus dituntaskan terutama membuka keterisolasian desa –desa di Buru.

“Hari ini 18 tahun sudah usia kabupaten ini. Banyak suka dan duka telah kita lewati bersama dalam Baeleo besar yang bernama Bumi Bupolo ini. Kini kabupaten ini telah tumbuh dan berkembang dengan pesat. Walaupun banyak pekerjaan rumah serta tantangan pembangunan di daerah ini untuk membuka keterisolasian desa-desa, karena terbatasnya anggaran, tapi satu hal yang tidak bisa kita nafikan, dewasa ini Kabupetan Buru merupakan salah satu kabupaten yang punya perkembangan pembangunan terbaik di Maluku,”Kata Gubernur Assagaff.

Gubernur menyatakan, jika sekitar 20 tahun lalu, orang Buru mau ke Ambon atau orang di Ambon mau ke Buru, harus ditempuh dengan waktu lama, karena menggunakan sarana tranportasi seadanya. Namun saat ini dapat ditempuh setengah hari jika menggunakan kapal fery dan sekitar tiga  jam menggunakan kapal cepat.

Kabupaten Buru juga memiliki bandara berstandar nasional hingga internasional yang dapat dijadikan penyangga bandara internasional Pattimura Ambon. Selain itu menurut Gubernur Assagaff, dalam dua tahun terakhir tata kelola keuangan  Kabupaten Buru terbaik dan harus menjadi contoh bagi daerah lainnya di Maluku.  “Dan dalam kurun waktu 2 tahun terakhir, tata kelola keuangan di kabupaten ini juga termasuk yang terbaik di Maluku, dengan predikat WTP, dan layak menjadi contoh di Maluku,” katanya.

Sementara itu di bidang sosial kemasyarakatan, menurut Gubernur Assagaff  Kabupaten Buru terus berkembang menjadi  salah satu kabupaten yang punya dinamika sosial yang cukup tinggi, karena struktur masyarakatnya sangat multikultural.

Hal tersebut dapat dilihat dari begitu beragamnya marga di kabupaten itu. Selain masyarakat lokal yang masuk kategori masyarakat asli atau masyarakat adat (indegenious people), seperti yang bermarga Wael, Besan, Besi, Tinggapi, Lesnusa, Turaha, Hatlessy, Nurlatu, Warhangan.

Selain itu ada masyarakat lokal asal Maluku Utara yang sudah mengalami akulturasi dengan budaya setempat. Seperti bermarga Umasugi, Soamole, Umagafi, Duila, Galela dan lainnya.  Kemudian masyarakat Buru beretnis Arab seperti, Bin Taleb, Mukaddar, Bazargan, Bahmid, Al-Katiri, Assagaf. Demikian halnya masyarakat Buru beretnis Cina seperti yang berinisial atau bermarga Hang, Ang, Thio, Tan, Kiyat.

Gubernur melepas balon HUT Buru

Selanjutnya masyarakat Buru asal Buton, baik yang masih menggunakan inisial La atau Wa, maupun sudah menggunakan marga-marga lain,   atau yang sering disebut dengan marga arkhen. Secara umum etnis Buton ini berasal dari suku Wance, Tomia, Kalidupa, dan Cia-cia.

Kemudian masyarakat Buru beretnis Jawa, baik yang tinggal dan berbaur dengan masyarakat setempat, maupun yang tinggal di desa-desa transmigrasi. Selain itu, terdapat pelbagai suku bangsa lainnya, seperti Bugis, Makassar, Padang di Kabupaten Buru.

“Walaupun berbeda suku, agama dan golongan, semuanya tetap hidup aman dan damai di Bumi Bupolo, Buru ini. Keamanan dan kedamaian yang tumbuh di sini, karena samua orang yang ada di kabupaten ini merasa memiliki dan sangat mencintai daerah ini. Pada saat yang sama nilai-nilai hidup orang basudara yang terbingkai dalam semangat Kai Wai (kaka dan adik) sejatinya harus mampu diinternalisasi menjadi habitus dan karakter hidup semua entitas masyarakat Buru,” kata Gubernur Assagaff.

Gubernur juga meminta semua orang yang ada di Kabupaten Buru untuk bisa merawat dan memanfaatkan dengan sebaik-baiknya semua potensi sumber daya alam yang ada untuk kemakmuran rakyat.

“Jangan katong rusak akang. Ingat basudara samua, tanah dan air dalam tradisi ketimuran adalah identitas kultural dan kehidupan dari masyarakat itu sendiri. Jadi merusak tanah dan airnya sama saja dengan katong merusak kehidupan dan budaya masyarakat tersebut,” katanya.

Gubernur juga menyatakan,  sebagai anggota masyarakat penghuni  Negeri Bupolo,  mengisyaratkan bahwa samua orang yang ada di daerah itu  adalah bersaudara. Sebagai orang saudara, gubernur mengajak semua  warga untuk rawat pertalian sejati hidup orang basudara ini dengan sebaik-baiknya. Apakah itu dalam kaitannya dengan dinamika kehidupan di bidang sosial keagamaan, budaya, ekonomi, maupun politik. Sebagaimana ungkapan luhur orang Maluku, yaitu: ale rasa beta rasa, dan sagu salempeng dibagi dua.

“Ungkapan luhur tersebut, meniscayakan kita semua untuk mengembangkan sikap pro-eksistensi di antara sesama orang basudara, dengan terus belajar untuk saling memahami, saling mempercayai, saling menghargai, menghormati, saling mencintai, saling membanggakan, saling menopang, dan saling menghidupi,” katanya.

Menurut gubernur, terbangunnya sikap pro eksistensi sesama orang basudara di Bumi Bupolo saat ini, dengan sendirinya akan semakin meningkatkan indeks kualitas kerukunan dan perdamaian di Kabupaten Buru. Selain itu menjadi modal sosial untuk pengembangan Maluku  sebagai laboratorium kerukunan dan perdamaian terbaik di Indonesia serta modal sosial untuk percepatan pembangunan di daerah ini.

Usai memberikan sambutan, Bupati Buru Ramly Umasugi memotong tumpeng dalam rangka HUT Kabupaten ke 18, kemudian diserahkan ke Gubernur Maluku.  Perayaan HUT  Kabupaten Buru juga dimeriahkan  tarian khas asal Buru yang dipentaskan siswa di daerah itu serta hiburan musik dari artris lokal.

Perayaan  HUT Kabupaten Buru diakhiri  dengan goyang Tobele di Lapangan Nusantara  yang dilakukan Gubernur, Bupati Buru bersama Wakil Bupati, Sekda Maluku Hamin Bin Thahir, Sekda Kabupaten Buru Ahmad Assagaff para pejabat lainnya, serta makan patita bersama di lokasi acara. Sementara Kamis siang  digelar, lomba perahu belang antar warga di Pantai Merah Putih Namlea. (ADI)