HUT TNI ke 72 di Ambon, Dari Drama Kolosal Banda Hingga Defile Warga

by
Aparat TNI menggelar sosio drama kolosal Banda, saat peringatan HUT TNI ke 72 di Lapangan Merdeka Ambon, Kamis (5/10). FOTO : ADI (TERASMALUKU.COM)

TERASMALUKU.COM,-AMBON-Kodam 16 Pattimura menggelar Upacara Hari Ulang Tahun (HUT) TNI ke 72 di Lapangan Merdeka  Ambon, Kamis (5/10). Upacara berlangsung khidmat dan meriah. Bertindak sebagai  inspektur upacara, Kepala Staf Kodam 16 Pattimura Brigjen TNI Tri Soewandono.  Peserta upacara adalah ratusan  aparat TNI dari tiga satuan (TNI AD, TNI AL, TNI AU)  dan Brimob Polda Maluku serta Aparat Sipil Negara. Hadir dalam upacara ini, Gubernur Maluku Said Assagaff, Kapolda Maluku Irjen Pol. Deden Juhara serta unsur Muspida Maluku lainnya.

Dalam upacara ini, Kasdam membacakan amanat Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo. Upacara juga dimeriahkan atraksi mematahkan beton dan balok es oleh ratusan aparat TNI. Setelah upacara, Gubernur bersama Kasdam dan Kapolda memusnahkan ratusan senjata api rakitan hasil sitaan TNI di Lapangan Merdeka.

Upacara  HUT TNI ke 72  juga  dimeriahkan sosio drama kolosal tentang Banda yang melibatkan ratusan aparat TNI dan warga. Drama ini menggambarkan perjuangan dan pengorbanan masyarakat Banda melawan penjajah Belanda. Dalam drama juga dikisahkan pembunuhan 44 orang kaya Banda atas perintah Gubernur Jenderal Hindia  Belanda, Jan Piterszoon Coon, di Kota Neira, Banda pada 8 Mei 1621.

Sebelum dibunuh, 44 orang kaya Banda itu ditangkap dan menjalani sidang sepihak oleh Jan Piterszoon Coon. Setelah itu, 44 orang kaya Banda itu dieksekusi oleh algojo dihadapan keluarga mereka. Kepala dan badan  44 orang kaya Banda dipenggal dan ditancapkan di ujung  bambu untuk dipertontonkan kepada masyarakat.

Pangdam 16 Pattimura Mayjen TNI Doni Monardo, selaku penanggungjawab  sosio drama  kolosal ini menyatakan, masyarakat Banda saat ini hanya mengenang perjuangan dan pengorbanan 44 orang kaya Banda yang jasadnya dimasukan ke dalam parigi rante di Kota Neira.

Pangdam menyebutkan, saat itu tak kurang dari 2.500 orang meninggal dunia karena ditembak, dianiaya atau kelaparan. Dan kurang lebih dari 13.000 jiwa telah menjadi korban kekejaman Belanda sejak tahun  1608 hingga 1621, dari 14.000 orang rakyat Banda.

“Melalui perjuangan luar biasa masyarakat Banda kepada Belanda pada saat itu, telah memberi motivasi kepada seluruh keluarga besar Banda saat ini, untuk bersatu dalam tekad,membangun Banda lebih baik dan sejahtera dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia untuk generas penerus Banda, Maluku dan Indonesia, kini dan yang akan datang,” demikian kata Pangdam.

Usai drama kolosal itu juga dimeriahkan  defile pasukan TNI dari tiga kesatuan, serta pasukan Brimob Polda Maluku di depan Tribun Lapangan Merdeka Ambon. Gubernur, Kasdam dan Kapolda menerima penghormatan peserta defile. Ikut dalam defile ini ratusan tukang ojek dan tukang becak di Kota Ambon. Selain itu juga digelar makan bersama di Lapangan Merdeka Ambon yang disediahkan Kodam 16 Pattimura. Warga juga bebas naik panser milik TNI dan baracuda  milik Brimob Polda Maluku yang dipamerkan di lapangan Merdeka Ambon. (ADI)